Kabar Hoaks Provokasi Soal Babi Halal

Sabtu, 07 Oktober 2017 – 10:32 WIB
KHAS: Meski sama-sama menjual sate babi, namun soal rasa masing-masing warung memiliki kekhasan yang berbeda-beda. (KUSUMA YONI/BALI EXPRESS)

jpnn.com, JAKARTA - Upaya DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali untuk mengedukasi masyarakat tentang penyakit meningitis pada hewan babi berbuah kabar hoaks.

Berita tentang kegiatan itu dipelintir blog panca-news.blogspot.co.id dengan membuat tulisan yang terkesan mengadu domba.

BACA JUGA: Kicauan Hoaks di Tengah Tragedi Las Vegas

Tulisan hoax yang dimaksud itu berjudul Mulai Tahun Depan, PDIP Minta MUI Agar Babi Panggan Halal Untuk Dikonsumsi di kalangan Masyarakat Termasuk Pesantren.

Siapa pun yang hanya membaca judul berita itu mungkin akan terpancing emosi.

BACA JUGA: Telanjur Sebar Kabar Duka,Ternyata Salah

Terutama umat muslim yang memang tidak mengonsumsi babi. Apalagi, berita itu disertai foto sejumlah orang berbatik merah dengan latar belakang logo PDIP serta babi panggang di atas meja.

Foto tersebut memang asli. Kejadiannya juga benar di kantor sekretariat DPD PDIP Bali, 21 Maret 2017.

BACA JUGA: Yusuf Mansur Palsu Sebar Cerita Hoaks

Namun, judul tulisan blog panca-news.blogspot.co.id yang ngawur.

Di tulisan itu sama sekali tak ada penjelasan bahwa PDIP meminta MUI untuk menghalalkan babi panggang.

Isi tulisan blog panca-news.blogspot.co.id ternyata mengutip sejumlah portal berita.

Isinya terkait sosialisasi penyakit meningitis pada babi.

Wakil Ketua PDIP Bali Nyoman Parta mengatakan, babi bukanlah penyebab tunggal meningitis. Selain bakteri, ada virus, jamur, dan parasit.

Menurut dia, masyarakat Bali yang mengonsumsi babi diminta benar-benar memasak dengan matang.

Dalam kegiatan itu, PDIP Bali juga menghadirkan pakar dari Universitas Udayana.

Di antaranya, Prof Komang Budaarsana (katua Asosiasi Ilmuan Ternak Babi Indonesia).

Kala itu Komang menjelaskan soal bakteri meningitis Streptococcus suis (MMS).

Menurut Komang, bakteri MMS bisa mati pada suhu 56 derajat Celsius.

Nah, mereka yang mengonsumsi daging babi guling harus mematangkannya dengan suhu 110 derajat selama dua jam.

"Peralatan yang dipakai juga harus bersih," kata Komang.

Menurut Komang, masyarakat Bali memang perlu diedukasi untuk memahami bakteri MMS karena sebagian besar mengonsumsi babi.

Selama lebih dari 20 tahun, bakteri tersebut menjadi masalah di peternakan babi.

MMS, menurut Komang, tidak hanya menginfeksi babi, tapi juga bisa menyerang manusia.

Berita tentang kegiatan itu sebenarnya juga dipublikasikan media-media lokal. Baik cetak maupun online.

Termasuk situs resmi DPD PDIP Bali. Pada media-media mainstream itu, tidak ditemukan adanya kalimat PDIP meminta MUI menghalalkan babi.

Blog panca-news.blogspot.co.id tidak hanya piawai memelintir berita. Situs itu juga meresahkan karena menampilkan iklan-iklan dengan gambar konten dewasa.

Gambar-gambar itu muncul karena blog tersebut mendulang pundi-pundi uang dengan menjadi publisher dari penyedia iklan online adnow.

Sebenarnya, kalau niatnya baik, gambar-gambar itu bisa difilter.

Namun, panca-news.blogspot.co.id memang sengaja memilih menjadi publisher untuk konten-konten dewasa.

Jadi, kalau Anda menemukan link artikel tentang PDIP meminta MUI menghalalkan babi, tolong jangan sekali-kali diklik. Apalagi jika di sekitar Anda ada anak-anak.

Selain mendulang iklan dari adnow, situs itu menjadi publisher penyedia iklan online payclick.

Jadi, bisa Aanda bayangkan sendiri berapa pendapatan situs itu ketika berhasil mengelabui orang untuk mengeklik artikel yang mereka buat.

Padahal, artikel tersebut hanya bermodal memelintir berita dari media mainstream.

Dari pencarian yang dilakukan Jawa Pos kemarin, artikel tersebut telah banyak disebar di Facebook.

Ada yang berasal dari panca-news, ada juga dari beberapa blog lainnya.

Melihat reaksi dari orang-orang yang membagikan link tentang artikel itu, mungkin mereka tidak membaca beritanya. Tapi, sekadar beraksi ketika membaca judulnya. (gun/eko/c10/fat/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Beraninya Admin Hoaks Ini Catut Nama Kopassus


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler