Kapal Perang Rp 114 Miliar Ludes Terbakar

Sabtu, 29 September 2012 – 04:24 WIB
TAK BISA DISELAMATKAN: Kobaran api meludeskan KRI Kelewang 625 di dermaga Lanal Banyuwangi. Foto: GALIH COKRO/JAWA POS RADAR BANYUWANGI
BANYUWANGI - Kapal cepat rudal (KCR) KRI Klewang milik TNI AL yang baru diluncurkan pada 31 Agustus 2012 lalu dari galangan kapal PT Lundin Industrty Invest, Banyuwangi, ludes terbakar Jumat (28/9) sore. Tidak satupun barang dari kapal yang kini bersandar di dermaga Pangkalan TNI AL Banyuwangi itu berhasil diselamatkan.
   
Belum diketahui secara pasti penyebab terbakarnya kapal perang jenis Trimaran milik TNI AL yang konon tercanggih ini. Saat kapal perang ini terbakar, sebenarnya masih dalam proses finishing. Puluhan pekerja, hingga kemarin masih ada yang memasang mesin.

"Yang di kapal ada sekitar 60 orang pekerja," cetus salah satu pekerja pada Jawa Pos Radar Banyuwangi.

Dengan tidak mau menyebut identitasnya pekerja ini membeberkan, sebelum kapal perang senilai Rp 114 miliar ini terbakar, semua lampu yang ada di kapal tiba-tiba padam. Selanjutnya, ada percikan api dari arah mesin yang ada di bagian tengah. "Ada api, kita semua langsung lari," terangnya.
   
Pekerja ini menjelaskan, api yang ada dibagian tengah kapal dalam waktu singkat sudah membesar. Angin yang bertiup cukup besar di sekitar Selat Bali, membuat api cepat menjalar hingga membakar  bagian lain dari kapal yang berbahan baku composit tersebut.
   
Pada wartawan koran ini pekerja ini mengaku tidak tahu pasti penyebab terbakarnya api. Hanya saja, api yang telah membakar habis kapal perang ini diduga karena akibat korsleting pada mesin yang sedang diperbaiki. "Saat mesin dihidupkan, lampu langsung padam dan muncul api itu," ungkapnya.  
   
Saat api sudah mulai membesar, ada sejumlah pekerja yang sempat terjebak oleh api. Mereka ini, akhirnya nekat dengan terjun ke laut dan berenang ke pantai yang berjarak sekitar 75 meter. "Sepertinya ada tiga orang yang melompat ke laut," sebut Affandy, salah satu warga yang tinggal di sekitar lokasi kejadian.
   
Affandy mengaku saat kali pertama melihat kapal perang ini terbakar, apinya masih kecil. Tapi dari bagian tengah kapal, dilihat sudah mulai keluar asap hitam cukup tebal. "Api yang ada di kapal itu dalam waktu singkat membesar, karena angin bertiup kencang," cetusnya.

Direktur PT Lundin Industrty Invest, Lisa Lundin saat dikonfirmasi mengaku belum tahu penyebab terbakarnya kapal perang hasil produksi perusahaannya ini. "Kita masih menyelidiki, kenapa sampai bisa kebakaran ini," katanya melalui pesan short service message (SMS).

Dalam pesan singkat itu, Lisa tidak mau berspekulasi soal penyebab terbakarnya ini, termasuk kemungkinan karena ada konsleting pada mesin yang sedang dikerjakan. "Senin (1/10) aja dikabarin," ungkapnya melalui pesan SMS yang diterima Jawa Pos Radar Banyuwangi.

Lisa mengakui saat kapal perang ini terbakar, banyak pekerja yang masih menyelesaikan peralatan kapal. Tapi, semua pekerjanya itu selamat dan tidak ada yang terluka. "Pekerjanya banyak, tapi Alhamdulillah semuanya selamat," ungkapnya.

Sebelumnya, tanggal 31 Agustus lalu, Kapal cepat rudal (KCR) jenis Trimaran yang diproduksi di Banyuwangi diluncurkan dari galangan kapal PT. Lundin Industry Invest di pantai Cacalan, Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Kapal yang diberi nama KRI Klewang 625 itu merupakan kapal perang tercanggih yang dimiliki TNI AL.

Sementara itu, pengadaan KRI Klewang menggunakan APBN 2009 yang dilaksanakan Dinas Pengadaan Mabes TNI AL dan dibangun oleh PT. Lundin Industry Invest Banyuwangi.  Kontrak pengadaan dilakukan pada tahun 2009, dan pengerjaan konstruksi kapal itu baru dilakukan mulai tahun 2010 lalu.

Saat diluncurkan, KRI Klewang 625 yang bernilai Rp 114 miliar itu baru rampung sekitar 90 persen. Setelah berhasil diluncurkan di Pantai Cacalan, pengerjaan akhir akan dilakukan di dermaga Pangkalan TNI AL (Lanal) Banyuwangi. Saat diluncurkan, peralatan persenjataan modern kapal itu belum dipasang.

KRI Klewang 625 itu merupakan kapal cepat rudal pertama yang dimiliki TNI AL. Kapal ini tergolong canggih karena tidak mudah dikenal dan tidak bisa dideteksi radar lawan. Kapal ini tidak mudah terdeteksi radar karena tidak dibangun menggunakan baja melainkan menggunakan composite dengan kemampuan stealth.

Tidak semua negara memiliki kapal jenis ini. Hingga saat ini baru Amerika Serikat (AS) dan Indonesia yang memiliki kapal yang paling ekonomis di kelasnya itu.

AS hanya memiliki empat unit kapal dan Indonesia baru memiliki satu unit saja. Kementerian Pertahanan RI sebenarnya memesan empat unit tapi baru rampung satu unit.  Kapal ini akan dilengkapi empat rudal jenis C.705 dengan jarak tempuh sekitar 120 kilometer. Kapal ini memiliki 27 anak buah kapal (ABK). (abi)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Izin Pemeriksaan Didominasi Politisi Tiga Partai Besar

Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler