Kata Pakar, Ini yang Dibutuhkan Siswa Abad 21

Kamis, 13 Oktober 2016 – 19:03 WIB
Pakar Pendidikan Abad 21, Indra Charismiadji (kiri) saat dalam seminar Computational Thinking, A Global Trend in Education, di Jakarta, Kamis (13/10). FOTO: Mesya/JPNN.com

jpnn.com - JAKARTA - Pakar Pendidikan Abad 21, Indra Charismiadji menyatakan sistem pendidikan di Indonesia saat ini belum mampu menjawab tantangan masa depan yang penuh persaingan dan semakin kompleks. Dari berbagai survei yang dilakukan lembaga-lembaga krediibel dunia, Indonesia masih menempati urutan bawah.

"Perkembangan dunia pendidikan sangat cepat, karena itu Indonesia harus menyesuaikan kurikulum agar bisa bersaing di era global. Sekolah harus mampu menyiapkan anak didik menghadapi dunia nyata yang penuh masalah agar siap dalam persaingan global," kata Indra dalam seminar Computational Thinking, A Global Trend in Education, di Jakarta, Kamis (13/10).

BACA JUGA: Rutin Salurkan Beasiswa, Tanoto Foundation Diapresiasi Menteri Nasir

Salah satu cara mengejar ketertinggalan pendidikan Indonesia adalah dengan menerapkan STEM (Science, Technology, Engineering and Math). Metode  pembelajaran populer di dunia‎ ini menerapkan pembelajaran tematik integratif karena menggabungkan empat bidang pokok dalam pendidikan, yaitu ilmu pengetahuan, teknologi, matematikan, dan enjinering.

"Metode STEM, mengajak siswa untuk mengintegrasikan mata pelajaran dan mengkorelasikannya dengan kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya melibatkan tujuh keahlian utama bagi siswa abad 21, yaitu kolaborasi, kreatif, berpikir kritis, komputerisasi, penghematan budaya, dan mandiri dalam belajar serta berkarir," papar pria yang aktif di organisasi Dewan Pakar di Asosiasi Guru TIK/KKPI Indonesia (AGTIFINDO).

BACA JUGA: Upayakan Insentif Guru PAUD Rp 100 Ribu per Bulan

Indra menambahkan, saat ini materi kurikulum STEM telah dipersiapkan untuk sekolah-sekolah dalam negeri. Kurikulum tersebut mengajarkan anak didik tentang computational thinking. Artinya belajar bukan sekadar menekan tombol, melainkan belajar memecahkan masalah dengan teknologi atau berpikir layaknya komputer.

Sementara Head of Student Life Sampoerna University Eddy Henry mengatakan, Cumputatational thinking merupakan suatu pendekatan yang bisa menjadi salah satu soulusi dalam menjawab tantangan masa depan, dengan lebih cermat dan terukur. Sampoerna Academy dan Sampoerna University telah mengimplementasikan pendidikan abad 21 melalui pendekatan science, technology, engineering, arts dan math (STEAM) yang mengedepankan computational thinking.

BACA JUGA: Budayakan Baca Buku, Kemdikbud Tetapkan 514 SMP Rujukan

"Pendekatan ini sudah diperkenalkan sejak TK dan SD melalui pengajaran maupun permainan yang mendorong mereka untuk mampu memecahkan masalah sederhana," tandas Eddy.(esy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... WhatsApp Dongkrak Minat Baca Masyarakat


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler