Ke Belanda, Kunjungi Floriade 2012, Pameran Bunga Terbesar di Dunia

Jepang Andalkan Sakura, Indonesia Targetkan Juara

Kamis, 17 Mei 2012 – 00:01 WIB
Hamparan tanaman bunga menjadi daya tarik Floriade 2012 di Belanda. Foto : Suprianto/Jawa Pos

Festival bunga dan hortikultura Floriade kembali digelar di Belanda. Kali ini diikuti 23 negara, termasuk Indonesia. Wartawan Jawa Pos SUPRIANTO bersama sejumlah pimpinan media di Jawa Pos Group yang sedang melawat ke Eropa mengunjungi event sepuluh tahun sekali itu.

= = = = = =

HAMPARAN bunga cantik berwarna-warni menghiasi pintu masuk festival di lahan seluas 66 hektare. Ornamen khas Negeri Kincir Angin, sebutan Belanda, terlihat di sudut-sudut lokasi. Puluhan bendera negara peserta di ujung tiang berkibar diembuskan angin sejuk yang cenderung dingin.
   
Ribuan orang dengan tertib memasuki arena festival. Bukan hanya orang tua, banyak juga anak muda dan anak-anak yang antre. Itulah pemandangan sebelum masuk ke lokasi Floriade 2012 World Horticultural Expo yang digelar di Venlo, kota di sebelah tenggara Belanda yang berbatasan dengan Jerman.
   
Sejak event itu dibuka pada 4 April lalu dan akan berakhir pada Oktober mendatang, pengunjung dimanjakan dengan pemandangan layaknya teater alam. "Orang yang datang ke sini biasanya bukan karena negaranya ikut serta saja, tapi event ini termasuk langka, sepuluh tahun sekali. Orang pasti berpikir belum tentu pada 2022 punya kesempatan untuk melihat Floriade," ujar Diena, salah seorang committe staff Floriade 2012.
   
Sejak kali pertama diadakan pada 1962, Floriade selalu mampu menyedot pengunjung. Apalagi, dari tahun ke tahun negara yang berpartisipasi terus bertambah. Bagi Indonesia, keikutsertaan pada festival keenam itu merupakan yang ketiga. Sebelumnya, Indonesia juga berpartisipasi pada Floriade 1992 di Zoetermeer dan Floriade 2002 di Haarlemmermeer.
   
Regio Venlo Flohaell, yayasan yang ditunjuk pemerintah Belanda untuk menggelar Floriade  2012 mengangkat tema be part of the theater in nature, get closer to the quality of live (jadilah bagian dari teater alam, dekatkan diri dengan kualitas hidup). Jadi, bukan hanya soal bunga dan hortikultura yang tersaji dalam festival kali ini, tapi juga seni dan budaya negara peserta. Dengan luasnya cakupan tema, event itu pun diharapkan bisa mengundang wisatawan dari berbagai negara.
   
Menangkap peluang tersebut, panitia membagi Floriade 2012 dalam lima kategori. Yakni, relaksasi dan penyembuhan, teknologi hijau, edukasi dan inovasi, lingkungan hidup, serta panggung pertunjukan dunia (world show stage). 
   
"Karena itulah, tiap-tiap negara peserta tidak hanya jor-joran memamerkan aneka flora dan hasil hortikulturanya, tapi juga adu cari perhatian dalam menunjukkan seni dan budayanya," tambah Diena. 
   
Apalagi, negara yang punya jenis flora khas seperti Jepang. Negeri Matahari Terbit itu habis-habisan mengekspos bunga sakura sebagai ikon negaranya. Mereka seolah ingin menyaingi tuan rumah Belanda yang punya bunga tulip yang kini sedang bermekaran. Di anjungan world show stage, Jepang mempertontonkan seni bela diri samurai.
   
Begitu pula Tiongkok. Anjungan Tiongkok yang berdiri di atas lahan paling luas itu juga menarik perhatian pengunjung lewat desain ornamen khas seperti tempat tinggal para kaisar. Lampion merah menyala bergelantungan dengan alunan musik tradisi negara raksasa di Asia itu. Mereka juga menampilkan replika Great Wall (Tembok Besar), Forbidden City, hingga segala macam pernak-pernik seni dan budaya khas Tiongkok.
   
Pada pameran bidang relaksasi dan penyembuhan, negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia itu juga tampil luar biasa. Berbagai pengobatan tradisional Tiongkok yang sudah mendunia menjadi bagian dari promosi yang mereka andalkan.
   
Peserta lain, seperti Italia, Afghanistan, Turki, Kenya, Nepal, hingga tuan rumah Belanda, juga tak mau kalah dalam menarik minat pengunjung agar melirik anjungan atau paviliun mereka. Untuk menikmati seluruh anjungan peserta, rasanya waktu sehari belum cukup. Selain arena festival amat luas, pertunjukan yang ditampilkan negara peserta membuat pengunjung betah menikmatinya.
   
Bagaimana Indonesia? Di Floriade 2012 Indonesia kembali menyuguhkan keanekaragaman budaya dan bunga khasnya. Direktur Operasional Teknik Paviliun Indonesia pada Floriade 2012  Redha Maha mengatakan, meski Floriade merupakan ajang bergengsi tingkat internasional yang digelar sejak 1962, Indonesia baru memutuskan ikut pada 1992. Waktu itu Presiden Soeharto  yang meminta Indonesia menjadi peserta.
   
Alasannya, jelas Redha, cukup simpel. Pak Harto merasa bahwa Indonesia pasti cukup familier di negeri yang menjadi tuan rumah Floriade tersebut. Selain itu, tidak sedikit warga keturunan Indonesia yang tinggal di negeri Ratu Beatrix tersebut.
   
"Karena itu, aneh bila Indonesia tidak ikut serta dalam festival ini. Sebab, pameran ini sangat efektif untuk menarik minat wisatawan mancanegara ke Indonesia," ujarnya.
   
Anjungan Indonesia berdiri di atas lahan seluas 1.000 meter persegi di persil nomor 107, diapit anjungan India dan Tiongkok. Dari kejauhan, terlihat gapura khas Kerajaan Majapahit. Di belakangnya tampak bangunan tongkonan khas Tana Toraja.
   
Segala macam simbol seni dan budaya Indonesia yang adiluhung dipajang rapi. Mulai patung orang membatik, replika wayang berukuran besar, replika Candi Borobudur, jeneng (lumbung) khas suku Sasak Lombok, hingga bale bangong Bali ditampilkan di sudut-sudut anjungan.
   
Tak ketinggalan alat musik tradisional seperti seperangkat gamelan dan angklung hingga pakaian adat dari berbagai suku di tanah air. Suara gamelan Jawa yang ditabuh cukup menarik bagi pengunjung untuk mampir ke anjungan yang menghadap ke sebuah danau itu. 
   
Untuk memamerkan keragaman flora dan hayati, Indonesia melalui Kementerian Pertanian membawa seratus jenis tanaman khas. Antara lain, anggrek, melati, palem, dan sikas. Ada pula tanaman yang mempunyai khasiat herbal.
   
"Saya pernah ke Indonesia sekali. Ke Bali dan Borobudur. Melihat tempat ini, saya merasa seperti berada di Indonesia lagi. Saya suka berlama-lama di sini," ujar Aoyama, warga Jepang yang mengunjungi Floriade 2012 bersama enam rekannya, saat berkunjung ke paviliun Indonesia.   
   
CEO Floriade 2012 Paul Beck juga mengaku kerasan dan nyaman berada di anjungan Indonesia. Maklum, keluarga Beck ternyata secara turun-temurun abad tinggal di Indonesia, tepatnya di Semarang. "Makanya, waktu pembukaan Floriade, paviliun Indonesia sangat diapresiasi penyelenggara. Salah satunya karena faktor sejarah," kata Redha sembari tersenyum.
   
Floriade memang diproyeksikan bisa menarik wisatawan mancanegara ke Indonesia. Sebab, pengunjung membeludak dalam setiap penyelenggaraan Floriade. Pada Floriade 2002 total pengunjung mencapai 2 juta orang. Kali ini Floriade ditargetkan bisa menarik 4 juta pengunjung.
   
Apalagi, pasar Eropa tetap dinilai sebagai pasar potensial untuk kunjungan wisatawan ke tanah air. Pada 2011 turis Belanda yang datang ke Indonesia mencapai 157 ribu orang, turis Jerman 141 ribu orang, dan turis Belgia 22 ribu orang.

Padahal, jumlah orang Belanda yang pergi ke luar negeri untuk berwisata mencapai 15 juta orang. "Jadi, yang ke Indonesia hanya berapa persennya," jelas pria yang cukup lama tinggal di Negeri Kincir Angin tersebut.
   
Indonesia boleh berbangga pada gelaran Floriade. Sebab, pada Floriade 2002 paviliun Indonesia mendapat medali pertama sebagai paviliun terbaik. Yang dinilai adalah keunikan, lanskap, harmonisasi, kenyamanan, dan jumlah pengunjung terbanyak. Karena itu, pada Floriade kali ini  medali emas juga menjadi target.
   
"Muda-mudahan kita bisa mempertahankan gelar juara. Karena ini juga menyangkut nama baik negara," kata Redha. (*/c11/ari)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Jeffrey Adrian, Pilot Senior Garuda, tentang Kerawanan Penerbangan di Indonesia


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler