Kebun Binatang

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Minggu, 04 September 2022 – 16:30 WIB
Dhimam Abror Djuraid. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - All animals are equal, but some animals are more equal than others (Animal Farm, George Orwell).

Salah satu ikon Kota Surabaya adalah Kebun Binatang Surabaya (KBS). 

BACA JUGA: Hore! Ada Kabar Baik dari Kebun Binatang Bandung

Ada yang menyebutnya Bonbin (“kebon” binatang), atau, dulu di masa saya kanak-kanak, kami menyebutnya “Drenten”.

Sekarang KBS sudah redup karena salah urus, atau bahkan sebentar lagi akan tutup. 

BACA JUGA: KIB Manuver Cerdas Golkar Cs Membentuk Lanskap Politik 2024

Akan tetapi, “legacy” KBS akan tetap dikenang oleh masyarakat Surabaya.

KBS menjadi ikon tak terpisahkan bagi Surabaya, dan bahkan sudah menjadi bagian dari leksikon budaya Surabaya.

BACA JUGA: Terobosan KIB Ini Dianggap Bisa Meminimalisasi Politik Identitas

Orang yang kesal akan menuangkan kekesalannya dengan menyebut “semua anggota kebun binatang” mulai dari babi, monyet, anjing, dan kawan-kawannya. 

Aktivis 1998 Faizal Assegaf berang ketika dikabarkan dirinya dilaporkan oleh Menteri BUMN Erick Thohir gegara unggahannya mengenai direktur BUMN yang mengelola anggaran pilpres Rp 300 triliun.

Assegaf mengecek ke polisi dan ternyata tidak menemukan laporan mengenai dirinya. 

Assegaf marah dan menyemprot Erick Thohir dengan semprotan ala kebun binatang.

Ungkapan kebun binatang juga dipakai untuk menggambarkan kondisi sebuah organisasi yang anggotanya punya berbagai karakter dari berbagai jenis manusia yang campur baur, mulai dari ustadz sampai preman. 

Ketua organisasi itu disebut ibarat memimpin kebun binatang. Di dalamnya lengkap ada berbagai karakter, mulai dari karakter monyet, buaya, biawak, babi, celeng, kerbau, ular, keledai, dan seterusnya.

Seorang pemimpin yang baik harus mampu mengelola semua karakter yang ada di kebun binatang itu, sehingga bisa memaksimalkan potensi mereka dan mengeliminasi, atau paling tidak meminimalisasi, potensi destruktifnya.

Kalau ditarik ke skala yang lebih besar maka tamsil ini berlaku bagi pemimpin di negeri kita ini dalam kondisi sekarang.

Pemimpin nasional sekarang ibarat memimpin kebun binatang, harus pintar memainkan irama kapan si monyet harus tampil dan kapan monyet harus minggir.

Begitu juga dengan binatang-binatang lainnya, mereka harus ditampilkan pada momentum yang tepat sehingga potensi mereka bisa dimaksimalkan.

Orkestrasi harmonis seperti ini membutuhkan seorang dirigen yang andal, memahami musik orkestra, dan paham karakter-karakter masing-masing binatang.

Bukan sebuah kebetulan bahwa sekarang ini lanskap politik Indonesia diwarnai dengan terminologi kebun binatang. Yang paling menonjol adalah dikotomi kampret dan cebong atau kadal gurun lawan cebong.

Sastrawan George Orwell menggabarkan pergulatan politik yang ruwet melalui novel alegoris “Animal Farm”, yang secara harfiah artinya kebun binatang. 

Orwell menceritakan duet penguasa babi bernama Napoleon dan Snowball (bola salju) yang berhasil menguasai republik kebun binatang dengan menyingkirkan pasangan pemilik Tuan dan Nyonya Jones.

Duet penguasa babi itu kemudian membuat sejumlah kebijakan yang dimaksudkan untuk menyejahterakan warga kebun binatang. 

Yang pertama dilakukan adalah mengumumkan program nasional “Sapta Cita” berisi tujuh program untuk menyejahterakan warga kebun binatang.

Program nomor satu yang menjadi inti dari duet rezim babi itu adalah kesetaraan bagi seluruh warga kebun binatang. 

Pasal satu dari Sapta Cita berbunyi “All animals are equal” (semua warga kebun binatang adalah setara). 

Semua warga kebun binatang punya hak dan kewajiban yang setara, keadilan yang setara, dan kesejahteraan yang setara.

Setelah kesetaraan, program unggulan duet babi ini adalah pembangunan infrastruktur salah satunya adalah pembangunan kincir angin yang menjadi proyek mercusuar duet babi Napoleon dan si Bola Salju. 

Kincir angin berhasil dibangun dan masyarakat kebun binatang berangsur makmur. 

Akan tetapi, sayangnya, yang terjadi kemudian adalah munculnya kelompok baru yang jauh lebih makmur dibanding kelompok lainnya.

Napoleon dan Bola Salju dikritik keras karena kesenjangan ini tidak sesuai dengan pasal pertama Sapta Cita.

Napoleon dan Bola Salju tak kehilangan akal. 

Alih-alih mengatasi kesenjangan dia malah menambahi pasal pertama Sapta Cita menjadi “All animals are equal, but some animals are more equal than others” (semua binatang setara, tetapi sebagian lebih tinggi kesetaraannya dibanding lainnya). 

Akal-akalan seperti ini menimbulkan pemberontakan internal sampai akhirnya Napoleon dan Bola Salju terdepak dari kekuasaannya.

Novel ini menjadi salah satu dari 30 novel terbaik dunia sepanjang masa. 

Orwell menulisnya sebagai kritik atas kemunculan pemerintah otoriter di bawah diktator komunis Stalin di Rusia.

Orwell melihat gejala-gejala Stalinisme dan komunisme Rusia akan menjadi diktator baru dunia yang menghancurkan harkat kemanusiaan.

Sungguh sebuah kebetulan sejarah yang unik bahwa novel Animal Farm terbit pertama persis bersamaan dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. 

Tujuh puluh tahun lebih setelah itu, peringatan Orwell akan bahaya otoritarianisme komunisme rasanya masih tetap relevan sampai sekarang.

Lanskap politik kita sekarang ini mengingatkan kita pada kebun binatang Orwell. 

Dikotomi kampret dan cebong mewarnai lanskap politik kita. 

Secara alegoris bisa disebutkan bahwa pemimpin nasional kita sekarang ini sedang memimpin republik kebun binatang karena beragamnya karakter manusia yang ada di dalamnya.

Memimpin republik kebun binatang membutuhkan kearifan, ketenangan, sekaligus ketegasan, sehingga tahu persis bagaimana memperlakukan para warga kebun binatang itu.

Napoleon, sang pemimpin babi, sangat identik dengan Napoleon Bonaparte pemimpin Prancis abad ke-18. 

Tidak ada keterangan mengapa Orwell memberi nama pemimpin babi itu sebagai Napoleon. 

Akan tetapi, karakter Napoleon asli yang dikatatorial itu memang sangat mirip dengan Napoleon sang babi.

Napoleon lahir dari Revolusi Prancis 1789. Revolusi itu lahir dari perjuangan keras rakyat Prancis untuk menumbangkan kekuasaan monarki yang represif. 

Revolusi itu memakan banyak anak-anaknya sendiri. 

Korban berjatuhan mulai dari rayat jelata sampai para pemimpin revolusi itu sendiri. 

Setiap revolusi akan memakan anak-anaknya sendiri.

Sistem monarki bubar, dan sistem demokrasi lahir di Prancis dan menjadi ilham kemunculan demokrasi di seluruh dunia. Akan tetapi, Napoleon kemudian membajak revolusi dan membajak demokrasi. 

Dia mengangkat dirinya sendiri sebagai pemimpin tertinggi atas nama kehendak rakyat.  

Sebuah revolusi yang berdarah-darah tidak melahirkan pemimpin yang menyejahterakan rakyat, tetapi malah melahirkan pemimpin diktator dan despot yang mirip pemimpin babi.

Indonesia pernah mengalami situasi despotis di bawah rezim Soeharto. Kemudian muncul gerakan reformasi yang menggulingkan rezim represif dan melahirkan pemerintahan reformasi yang demokratis. 

Gerakan reformasi membawa perubahan dengan pembatasan kekuasaan presiden menjadi hanya 2 periode untuk menjaga jangan sampai negeri kita jatuh kembali ke tangan penguasa despotis.

Hasil reformasi ini harus kita jaga dengan segala upaya jangan sampai dibajak oleh rezi despotis kebun binatang ala Napoleon. (*)


Redaktur : M. Kusdharmadi
Reporter : Cak Abror

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler