Kebutuhan Dana Impor Pertamina Dinilai tak Masuk Akal

Minggu, 21 Juni 2015 – 11:46 WIB

jpnn.com - JAKARTA- Sejumlah kalangan mengritik kebutuhan dana Pertamina untuk impor bahan bakar minyak (BBM).‎ Pasalnya, Pertamina membutuhkan dana USD 500 juta atau sekitar Rp 6,5 triliun per hari untuk impor minyak dan BBM‎ sebagai pemenuhan kebutuhan masyarakat selama puasa dan Lebaran tahun ini.

Jumlah ini naik 233 persen dari 2013 lalu. Direktur Task Force Program Pendalaman Pasar Keuangan BI Nanang Hendarsah mengatakan, pasokan valas yang ada sudah bisa memenuhi kebutuhan dolar AS Pertamina.

BACA JUGA: Dwelling Time, Persoalan Klasik yang tak Dituntaskan

Saat ini, rata-rata permintaan dolar AS Pertamina di pasar spot mencapai USD 150 juta per hari. Karenanya, kata dia, jumlah kebutuhan Pertamina itu sangat bombastis.

"Wah tidak sebesar itu (USD 500 juta). Pertamina masuk ke spot sekitar USD100-USD 150 juta per hari. Dengan isi tanda tangannya kesepakatan hedging dengan 3 Bank BUMN (Forex Line) mudah-mudahan sebagian kecil sudah masuk ke transaksiforward," kata Nanang, Minggu (21/4).

BACA JUGA: Lebaran, Kapal Pelni Tur ke Karimunjawa, Minat?

Menurut Nanang, kebutuhan dolar AS Pertamina termasuk besar kali ini meski sejauh ini sudah bisa dipenuhi oleh supply valas dari eksportir dan capital inflows.

Sementara itu, Energy Watch Indonesia (EWI) menilai pada era Karen Agustiawan, kebutuhan dolar AS untuk importasi BBM hanya USD100 juta. Tingginya kebutuhan dolar AS tersebut menggerus devisa dan menyebabkan kurs rupiah enggan turun.

BACA JUGA: Wings Air Resmi Layani Rute Pulau Simeulue - Pulau Sumatera dan Jakarta

‎”Angka yang dibutuhkan Pertamina hingga mencapai USD500 juta/hari sangat tidak masuk akal, itu terlalu besar. Kenaikannya terlalu tinggi. Seolah kebutuhan kita sudah 100 persen impor, sementara kilang minyak kita sebagian masih berfungsi,” ujar Direktur EWI, Ferdinand Hutahaean

Ferdinand  juga tidak yakin dengan angka yang disebutkan Dirut Pertamina Dwi Soetjipto tersebut. Pasalnya, angka tersebut terlalu tinggi kecuali Indonesia 100 persen melakukan impor.

“Sebaiknya Pertamina menghentikan opini-opini yang menutupi ketidakmampuan direktur utama Pertamina Dwi Soetjipto mengelola sektor energi. Ini menjadi seperti sebuah lelucon bodoh di tengah rencana pengalihan Petral-PES ke ISC-Pertamina,” imbuhnya.

Menurutnya, jika angka ini benar artinya kurs rupiah dalam ancaman besar. Rupiah, tegasnya, bisa semakin terjerumus. Importasi BBM dinilainya akan semakin besar.

“Kurs rupiah dalam ancaman besar. Ini kegagalan tim ekonomi kabinet kerja. Harus segera dievaluasi agar ekonomi bisa berjalan dengan benar dan tidak berdampak pada krisis ekonomi,” pungkasnya. (flo/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Bahaya! Harga Daging Sapi Rentan Lewati Daya Beli Masyarakat


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler