Kelapa Jatuh 5 Hari Sebelum Pratu Dedi Hamdani Gugur di Intan Jaya

Selasa, 26 Januari 2021 – 08:50 WIB
Prosesi pemakaman Pratu Dedi Hamdani di Lombok Tengah, Minggu (24/1). Foto: dedi/lombok post

jpnn.com, LOMBOK TENGAH - Muhdin, ayah dari Pratu Dedi Hamdani, bermimpi buah kelapa jatuh di rumahnya.

Dia bermimpi lima hari sebelum anaknya gugur di Intan Jaya Papua.

BACA JUGA: Penghormatan Terakhir untuk Praka Dedi Hamdani

Muhdin menduga mimpi itu adalah sebuah pertanda akan ada kabar duka bagi keluarga.

“Awalnya, saya mengira salah satu keluarga kami yang sekarang dirawat di RSUD Praya,” ujar Muhdin pada Lombok Post.

BACA JUGA: Pratu Dedi Hamdani yang Gugur di Papua Berencana Cuti untuk Menikah, Tahun Ini

Namun takdir memiliki jalan yang lain. Kematian menjemput buah hatinya, Pratu Dedi Hamdani.

Beberapa hari sebelumnya, Muhdin berkomunikasi seperti biasa melalui sambungan telepon dengan sang anak.

BACA JUGA: Pratu Dedi Hamdani Dimakamkan Secara Militer di Tanah Kelahiran

Pria yang lupa tahun kelahirannya ini mengaku, hanya anaknya saja yang bisa menghubungi keluarga di Lombok melalui telepon.

Hal tersebut lantaran di tempat tugasnya, Pratu Dedi tidak ada sinyal telekomunikasi. Sinyal telekomunikasi baru akan didapat manakala Pratu Dedi naik gunung atau di daerah ketinggian.

Sebelum kabar duka datang, Muhdin dan keluarganya tetap menjalankan aktivitasnya seperti biasa.

Dia bertani dan juga memelihara ternak.

Pada Jumat sore (22/1), dia menyabit rumput tidak jauh dari rumahnya di Dusun Bagek Dewa Desa Pelambik, Kecamatan Praya Barat Daya, Lombok Tengah.

Tiba-tiba keluarga datang. Dirinya diminta pulang. Di rumah pun keluarga dekat sudah berkumpul.

Sarmiati, ibu Pratu Dedi, tinggal di rumah keluarga yang lain. Sebab, Muhdin dan Sarmiati, sudah enam tahun bercerai.

"Saya tanya kepada mereka, ada apa ini,” cerita Muhdin.

Tidak lama kemudian telepon miliknya berdering. Di ujung telepon, Komandan Batalyon Raider 400/Benteng Raider Kodam IV/Diponogoro menyampaikan kabar duka, bahwa anaknya meninggal melawan kelompok bersenjata.

Muhdin merasa seluruh sendi-sendi tubuhnya lemas. Dia tak bisa berkata-kata. Air matanya tumpah.

“Yang membuat saya sedih dan tidak bisa saya lupakan, anak saya itu rencana mau pulang pertengahan tahun ini,” ujar Muhdin sembari mengusap air mata.

Banyak rencana yang sudah dibuat.

Antara lain Pratu Dedi Hamdani ingin melepas masa lajangnya. Muhdin pun menyetujui.

Calon menantunya masih memiliki hubungan keluarga. Namun kini, rencana tersebut tinggal rencana.

Jalan menjadi prajurit TNI bagi Pratu Dedi tidaklah mudah. Dia harus mengikuti tes sampai empat kali.

Dari tes pertama gagal, kemudian mencoba tes polisi gagal juga. Lagi-lagi tes ketiga masuk tentara gagal. Terakhir ikut tes tahun 2017 dan dinyatakan lulus.

“Setiap kali kegagalannya, saya terus memberikan semangat,” kata Muhdin.

Begitu lulus, anaknya ditempatkan di Solo, Jawa Tengah. Pernah juga ditugaskan di perbatasan Indonesia dengan Timor Leste. Sedangkan di Intan Jaya, Papua, baru lima bulan berjalan.

Dia mengatakan, selama menjadi anggota TNI, anaknya tetap mengirim uang. “Setiap bulannya terkadang Rp 500 ribu. Bahkan lebih,” katanya.

Uang kiriman tersebut digunakan untuk membiayai adiknya yang masih menempuh pendidikan MTs swasta di Desa Pelambik. Namanya Haikal Kusuma Jaya.

Muhdin menginginkan adiknya menjadi seorang ustaz. Dia ingin mengirim adiknya menuntut ilmu di Mesir.

“Saya sudah merelakan dan mengikhlaskan kepergian anak saya,” katanya.

Hal yang sama dirasakan Sarmiati, ibu dari Pratu Dedi.

Dia sendiri masih menyimpan penyesalan. Karena sepekan sebelum anaknya gugur, tepatnya Jumat (15/1) lalu, dia dihubungi melalui telepon.

“Waktu itu saya salat Magrib di musala, HP di rumah,” cerita Sarmiati, yang ditemui Lombok Post secara terpisah.

Dia menceritakan, sampai tiga kali anaknya menghubungi. Namun, begitu dihubungi kembali nomor anaknya tidak aktif lagi.

“Saya kemudian menunggu sampai larut malam, mana tahu anak saya menghubungi lagi,” ujar Sarmiati didampingi anaknya yang kedua Haikal Kusuma Jaya dan keluarga terdekat.

Perempuan kelahiran 31 Desember 1974 itu tidak bisa menahan air mata. Dia tidak menyangka anaknya gugur. “Saya menyesal, kenapa saya tidak bawa HP waktu itu,” katanya.

Belakangan, batinnya kian pilu. Sebab, di akun media sosial, anaknya mengunggah status. “Ku titip rindu untuk ibuku tersayang.” Begitu status terakhir Pratu Dedi.

Dia bercerita, setiap kali mendapat kesempatan pulang ke kampung halaman dari medan tugas, anaknya selalu minta dimasakkan lauk pauk kesukaannya.

Bahkan, sering meminta dikirimkan melalui pos. Pratu Dedi sangat senang dengan olahan biji kecipir. Apalagi, lauk jenis ini memang bisa bertahan lama.

Soal rencana pernikahan pun dia menuturkan anaknya sudah merencanakan matang. Mahar pun telah disiapkannya berupa emas.

Sementara tanah untuk tempat membangun rumah pun sudah dibeli. Lokasinya cukup strategis dekat jalan raya Desa Pelambik.

“Impian anak saya belum terwujud. Allah lebih menyayanginya,” kata Sarmiati. (*/r6)


Redaktur & Reporter : Adek

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler