Kemajuan Sektor Pertanian jadi Harapan Ekonomi Indonesia

Senin, 23 September 2019 – 15:44 WIB
Petani panen padi menggunakan alsintan. Foto: Kementan

jpnn.com, JAKARTA - Kemajuan sektor pertanian di tanah air menjadi harapan bagi keuangan negara. Hal ini bercermin kepada peningkatan ekspor komoditas hasil pertanian selama lima tahun terakhir. 

Pemikiran ini dikemukakan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Ir. Sudirman. Menurutnya, capaian yang didorong berbagai kebijakan pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) ini, menjadi penanda bahwa Indonesia memiliki harapan baru untuk kemajuan sektor pertanian.

BACA JUGA: Jabat Gubernur 2 Periode, Ini Keberhasilan Syahrul Yasin Limpo pada Sektor Pertanian

"Menurut saya, peningkatan ekspor yang terjadi selama kurun waktu lima tahun ini adalah hal yang sangat positif dan bagus sekali untuk kemajuan pertanian Indonesia," kata Sudirman.

Selain itu, peningkatan investasi juga sangat bagus untuk iklim keuangan negara. Apalagi sektor ini merupakan sektor utama sekaligus barometer majunya sebuah bangsa.

BACA JUGA: Sektor Pertanian Ubah Tradisi Jeratan Impor Jadi Ekspor

Meski begitu, dia berharap kenaikan yang ada tetap diimbangi dengan kebijakan yang mengarah pada perbaikan sumber daya manusia, utamanya terkait penyerapan tenaga kasar, buruh dan petani.

"Saya kira sangat baik sekali ya jika nilai investasi sektor pertanian naik. Hanya saja memang, kebijakan pada investasi ini mampu menyerap tenaga kerja kasar buruh dan tani," katanya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah volume ekspor produk pertanian pada 2013 mencapai 33,5 juta ton. Kemudian pada 2016 mengalami dua kali kenaikan, yakni 36,1 juta ton dan 40,4 juta ton.

Begitu juga pada 2017, ekspor produk pertanian bertambah lagi jumlahnya menjadi 41,3 juta ton. 

Pada 2018, ekspor produk pertanian mampu mengukuhkan jumlah sebesar 42,5 juta ton. Artinya, selama periode 2014-2018, jumlah keseluruhan nilai ekspor produk pertanian Indonesia berhasil mencapai Rp1.957,5 tirliun dengan akumulasi tambahan Rp 352,58 triliun.

Menurut Sudirman, peningkatan tersebut tak lepas dari kebijakan dan program terobosan mekanisasi alsintan. Kebijakan itu terbukti mampu meningkatkan produksi serta mengefisiensi waktu.

"Memang ada keresahan terkait kepemilikan lahan sempit dengan buruh tani yang banyak. Tapi ini hal yang menjadi tanggung jawab kita bersama, pemerintah, perguruan tinggi, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mencari jalan keluarnya. Secara keseluruhan, peningkatan ekspor, peningkatan investasi, penyederhanaan regulasi, dan mekanisasi adalah kebijakan yang sangat baik," tandas dia.(chi/jpnn)


Redaktur & Reporter : Yessy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler