Kementan Bilang Teknologi Ini Bisa Stabilkan Produksi Sayuran

Jumat, 07 April 2023 – 10:11 WIB
Kementerian Pertanian (Kementan) mengatakan produksi sayuran di dalam screen house dengan teknologi hidroponik. ilustrasi. Foto: Dokumentasi Humas Kementan

jpnn.com, KARAWANG - Kementerian Pertanian (Kementan) mengatakan produksi sayuran di dalam screen house dengan teknologi hidroponik menjadi model pertanian yang layak dikembangkan.

Pasalnya, model budi daya tersebut mampu menghasilkan produksi tanpa terkendala musim.

BACA JUGA: Kementan dan Komisi IV DPR Gaungkan Genta Organik di Kalbar

Hal tersebut diungkapkan Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto saat melakukan kunjungan kerja ke kompleks produksi sayuran modern Batamindo Green Farm di Cikampek - Jawa Barat, Kamis (6/4)

“Budi daya sayuran dengan teknologi hidroponik terbukti efektif, mampu menahan curah hujan tinggi ataupun panas yang tinggi termasuk gangguan angin, sehingga produksi sayuran bisa berlangsung secara kontinyu sepanjang tahun," ujar dia.

BACA JUGA: Ini Strategi Kementan Amankan Ketersediaan Bawang Merah Nasional, Silakan Disimak

Dia menambahkan upaya tersebut bisa membantu menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan utamanya cabai.

Teknologi ini, lanjut Prihasto, menjadi percontohan pengendalian inflasi akibat produk pertanian strategis.

BACA JUGA: Kementan Siapkan Keerom jadi Sentra Komoditas Jagung Nasional

“Di sini ada cabai dan aneka sayuran yang mampu berproduksi sepanjang tahun tanpa harus khawatir terganggu oleh cuaca atau musim. Produktivitasnya juga sangat bagus, contohnya cabai besar varietas Sakata di sini bisa mencapai hasil 6 kg per pohon atau 90 ton untuk populasi 15 ribu per hektare," ungkapnya.

Kementerian Pertanian, menurutnya akan mendorong pengembangan sayuran utamanya cabai di dalam screen house melibatkan petani di sentra produksi nasional.

"Kami mendorong sistem budi daya ini bisa dikembangkan ke seluruh wilayah Indonesia, tentu dengan skala yang lebih kecil,” terangnya.

Dia menambahkan ada hal mengejutkan yang dijumpainya di perusahaan tersebut.

Dia menyebut tenaga ahli yang direkrut Batamindo untuk membangun sistem screenhouse ternyata anak muda milenial adik kakak usia 32 dan 42 tahun.

Kedua orang itu merupakan asal negara jiran Malaysia yang justru berlatar belakang pendidikan administrasi bisnis dan kimia analitik.

"Namanya Kenny dan Willy asal Langkawi Malaysia yang berlatar belakang pendidikan sama sekali bukan dari pertanian. Mereka terbukti mampu membangun sistem screen house berskala besar yang efektif dan efisien," ungkap Prihasto.

General Manager PT Batamindo Green Farm, Hindarsono Susantio menyebut perusahaan yang dipimpinnya memiliki dua unit produksi yang berada di Batam dan Karawang.

Kompleks budidaya sayuran Batamindo menempati areal seluas 150 hektare dengan bangunan screen house mencapai 70 hektare yang berlokasi di Kawasan Industri Bukit Indah City Cikampek.

Setidaknya terdapat 20 jenis sayuran daun serta sayuran buah seperti cabai, tomat cherry dan okra yang dikembangkan di lokasi tersebut.

"Hasil panen sebagian besar diekspor ke Singapura dan sebagian kecil ke Malaysia, Vietnam dan Korea Selatan. Selain itu, untuk memasok pasar modern di Jabodetabek, tiap minggu rata-rata kami bisa ekspor 9 kontainer ke Singapura dan 2 kontainer ke Malaysia," ujar Hindar.

Selain merekrut tenaga kerja profesional, pihaknya juga melibatkan para petani muda millenial dari berbagai daerah di Indonesia.

"Harapannya mereka bisa belajar di sini dan selanjutnya bisa secara mandiri mengembangkan sistem budi daya ini di daerah masing-masing," pungkasnya.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Sambut Ramadan-Idulfitri, Kementan Gelar Bazar Tani Pangan Murah


Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Dedi Sofian, Dedi Sofian

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler