Kementan Dorong Jateng Genjot Ekspor Melati

Kamis, 09 Agustus 2018 – 12:29 WIB
Dirjen Hortikultura Kementan Suwandi. Foto: Kementan

jpnn.com, TEGAL - Kementerian Pertanian (Kementan) semakin menunjukkan komitmen meningkatkan ekspor berbagai komoditas pangan.

Saat ini Kementan tengah fokus meningkatkan volume ekspor bunga melati yang merupakan salah satu jenis tanaman hias.

BACA JUGA: Lapangan Usaha Pertanian Paling Tinggi pada Triwulan II-2018

“Sesuai arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman untuk meningkatkan produksi dan mendorong ekspor guna mendulang dolar 2018 semakin nyata, kami berupaya tingkatkan ekspor benih horti, ekspor sayuran, buah, juga tanaman hias seperti bunga melati, produk berkualitas dan berdaya saing di pasar dunia,” kata Dirjen Hortikultura Suwandi saat berkunjung ke Kabupaten Tegal, Jawa Tengag, Kamis (9/8).

Dia menjelaskan, pengembangan bunga melati di Indonesia sangat menjanjikan. Pasalnya, sebagai negara tropis, Indonesia memiliki alam dan sumber daya cocok untuk tanaman hias seperti bunga melati. 

BACA JUGA: 31 Taman Teknologi Terbuka Belum Bikin Menteri Amran Puas

Hal itu terbukti di Jawa Tengah, terutama di Kabupaten Tegal, Pemalang, Batang dan Pekalongan yang mana melati tumbuh subur di lahan seluas 600 hektare.

“Jawa Tengah dominan jenis melati putih. Di samping untuk dipasarkan di dalam negeri juga ekspor. Kami mendorong tingkatkan produksi, memperkuat kemitraan petani dengan eksportir. Kuncinya produksi dan ekspor agar ditingkatkan, sehingga bisa memperoleh devisa dan mensejahterakan mereka,” jelas Suwandi.

BACA JUGA: Cuma Pakde Karwo yang Bisa Bikin Menteri Amran Gemetaran

Suwandi menambahkan, untuk meningkatkan volume ekspor dilakukan peningkatan luas dan produksi, perkuat pola kemitraan, kemudahan investasi, pelayanan perkarantinaan.

“Ini buktinya PT Alamanda Utama Sejahtera bermitra dengan petani. Hari ini ekspor satu ton ke Singapura, Malaysia dan Thailand,” ujar Suwandi.

Sementara itu, perwakilan PT Alamanda Utama Sejahtera Deni Hardiman mengatakan, pihaknya mengambil bunga melati dari petani di empat kabupaten rutin tiap hari. 

Bulan puncak permintaan tertinggi ekspor terjadi pada Oktober-Desember. Namun, karena pasokan relatif sama, harga menjadi tinggi Rp 300 ribu per kilogram, sedangkan saat normal Rp 80 ribu per kilogram.

“Tahun 2018 prediksi ekspor minimal 100 ton. Harapan kami seiring permintaan ekpor tinggi. Ini sangat cerah dan prospektif, relatif tidak ada kompetitor negara lain. Ini mesti ditingkatkan tanam  dan produksinya,” kata dia.

“Sebelum diekspor melalui Bandara Soekarno-Hatta, dilakukan proses sortasi, grading dan packaging untuk ekspor bunga segar dan proses merangkai untuk ekspor bunga ronce melibatkan ribuan ibu rumah tangga sekitar,” sambung Deni.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal Khofifah mengatakan, daerahnya memang dikenal dan sentranya bunga melati. Karena itu, pihaknya siap memperluas tanam di Kecamatan Lebaksiu dan sarana airnya.

“Kami punya potensi lahan cukup luas. Masyarakat sudah biasa membudidayakan tanaman hias. Kami siap perluas pengambangan bunga melati,” ujar Khofifah.

Ketua Kelompoktani di Desa Maribaya, Kecamatan Kramat, Tegal,

Haji Wiryono, mengatakan bahwa menanam bunga melati lebih untung dari tanam lainnya. Umur tanaman hingga 20 tahun. Pada enam bulan pertama sudah bisa panen.

“Keunggulannya tiap hari panen terus. Sebagian dijual ke pasar Rawabelong, juga ke industri minunan teh dan sebagian dijual ke PT Alamanda untuk ekspor,” sebut Wiryono.

Sementara itu, Sindu, petani sekaligus pedagang pengepul Desa Depok, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang mengatakan bahwa bunga melati yang dimilikinya dipasok ke PT Alamanda rutin tiap hari.

Misalnya, hari ini dari Batang menjual 500 kg.  Jumlah petani bunga melati di Batang sekitar 500 orang dengan lahan 200 hektare. 

“Untuk upah sortasi ini melibatkan ibu ibu rumah tangga sekitar dengan upah Rp 3.000 per kg,” ucap Sindu. (adv/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... PDB Pertanian Melesat, DPR Apresiasi Kerja Menteri Amran


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler