Kementan Kembangkan Lamtoro Tarramba di NTT-Timor Leste

Kamis, 23 Maret 2017 – 19:20 WIB
Staf Ahli Menteri Pertanian, Ani Andayani. Foto: source for Jawapos

jpnn.com, KUPANG - Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya mencari terobosan untuk membangunkan lahan tidur di perbatasan NTT-Timor Leste yang meliputi Malaka, Belu, Timor Tengah Utara, dan Kupang.

Daerah-daerah tersebut memiliki musim kering yang relatif lebih panjang dibandingkan daerah lainnya.

BACA JUGA: Trend Ekspor Produk Perkebunan Awal 2017 Positif

Dalam upaya tersebut, Tim Kementerian Pertanian yang dipimpin oleh Staf Ahli Menteri Bidang Infrastruktur Ani Andayani meninjau kelompok tani di Desa Camplong yang mengembangkan tanaman "lamtoro tarramba" sebagai hijauan makanan ternak (HMT).

Dermi, Ketua Poktan menceritakan ketertarikannya mengembangkan 'lamtoro tarramba' diawali adanya gagasan yang diprakarsai oleh BPTP Naibonat Kupang, dengan memanfaatkan Program Bantuan ACIAR pada tahun 2008 untuk membangun dan mengembangkan lahan tidur dan kering seluas 34 hektar di Desa Camplong II Kabupaten Kupang.

BACA JUGA: Kementan Bangun Kawasan Pangan di Pinggiran Perbatasan

Adapun kini sudah berkembang menjadi 150 hektare dikelola oleh tiga poktan di Camplong.

"Berdasarkan peneliti BPTP, Lamtoro Tarramba ini makanan yang berprotein tinggi. Bisa dikembangkan di lahan tidur atau marginal yang kering dimana produksinya cukup untuk memberi makan sapi saat kemarau," ujar dia dalam keterangan tertulisnya, Kamis (23/3).

BACA JUGA: Mentan: Di Sana Terlalu Rajin, Di Sini Terlalu Malas

"Pengalaman poktan selama ini, menanam Lamtoro Tarramba dengan jarak 2 meter x 1 meter, cukup untuk pakan 7-8 ekor sapi per hektarnya tanpa HMT lainnya atau minimal 5 ekor sapi minimal pada saat iklim sangat kering" lanjut Dermi.

Hal senada diungkapkan Staf Ahli Menteri Pertanian, Ani Andayani. Ani menjelaskan bahwa pengembangan Lamtoro Tarramba merupakan sebuah langkah terobosan di saat Hijauan Makanan Ternak (HMT) lain sulit diperoleh.

"Hal ini melihat potensi tanaman "lamtoro tarramba" yang memiliki kandungan protein yang tinggi, bisa dikembangkan di lahan yang kering dan cara budidayanya mudah," jelas dia.

Selain itu, lanjut dia, petani dapat memiliki keuntungan ganda, dimana selain ternak sapi tercukupi HMT nya, para petani juga bisa menjual benihnya.

"Tanaman ini juga membuat penghijauan di lahan sekitar tetap terjaga dan asri, karena jenis lamtoro ini tetap hijau hingga puluhan tahun," pungkas Ani.(Mg4/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Indonesia Kini Surplus Beras, DPR: Semoga Seterusnya


Redaktur & Reporter : Fathan Sinaga

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler