Kementan-Pemprov Sultra Kembangkan Industri Pangan Lokal

Jumat, 01 November 2019 – 18:19 WIB
(Dari kiri ke kanan) Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementan Agung Hendardi, FAO representatif untuk Indonesia-Timor Leste Stephen Rudgard dan Gubernur Sultra Ali Mazi. Foto: Rama Sakti/JPNN.com

jpnn.com, KENDARI - Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Pemprov Sultra) tengah melakukan pemanfaatan sumber daya lokal untuk mewujudkan keanekaragaman keluarga. Upaya ini menjadi fokus agenda dalam peringatan ke-39 Hari Pangan Sedunia (HPS) yang dihelat di Kendari, Sultra.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementan Agung Hendardi mengungkapkan, Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia setelah Brasil, di mana terdapat sekitar 800 spesies tanaman sumber bahan pangan termasuk sagu.

BACA JUGA: Kembangkan Pertanian Modern, Kementan Kembali Salurkan Alsintan

Karena itu, kata dia, pemerintah Indonesia bekerja sama dengan FAO dalam pengembangan industi UKM sagu yang dipusatkan di Sulawesi Tenggara dan sudah direplikasikan di empat wilayah yang harapannya menjadi substitusi tepung terigu impor.

"Kami sedang menyusun peraturan pemerintah yang mewajibkan industri pangan lokal yang berbasis tepung menggunakan tepung lokal 10 persen dan secara bertahap akan ditingkatkan," kata Agung di Kendari, Jumat (1/11).

BACA JUGA: Hari Pangan Sedunia 2019: Mari Perbaiki Kualitas Makanan Kita

Di tempat yang sama, Gubernur Sultra Ali Mazi menyebutkan, ketahanan pangan sudah menjadi isu utama dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang bukan hanya pada daerah dan nasional saja, namun juga sudah menjadi isu global yang harus ditangani bersama.

Dia mengatakan, sagu merupakan salah satu panganan lokal yang menjadi bahan makanan pokok yang dikonsumsi sebagian besar masyarakat di Sultra. Produksi sagu saat ini mencapai 6.967 ton per tahun dengan luas areal 5.105 hektar, namun lahannya semakin menyusut.

"Diperlukan upaya dan pengkajian yang sistematis dalam upaya peningkatan nilai tambah dari komoditas sagu melalui pengembangan model usaha agroindustri sagu yang berkelanjutan,” kata Ali Mazi.

Dia mengungkapkan, salah satu sentra produksi sagu di Sultra berada di Kota Kendari. Sagu Sultra tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat lokal, tetapi juga untuk memenuhi permintaan dari provinsi lain yang juga mulai meningkat.

"Dengan demikian, Indonesia berpeluang besar untuk dapat terus meningkatkan produksi pangan dan industri melalui peningkatan produktivitas, perluasan areal tanam, peningkatan indeks pertanaman, serta pemanfaatan sumber daya pangan lokal," katanya. (mg11/jpnn)


Redaktur & Reporter : Rah Mahatma Sakti

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler