Kementerian PUPR Dukung Program Kemenpar dengan Perbaiki Kualitas Homestay

Sabtu, 29 April 2017 – 14:14 WIB
Deretan homestay yang baru saja dibangun di Desa Bumirejo Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Foto: Kemenpar

jpnn.com, JAKARTA - Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya dalam berbagai kesempatan mengucap ‘mantra’ untuk mendongkrak kunjungan wisatawan. Mantra itu adalah homestay dan homestay desa wisata.

Amenitas memang menjadi pekerjaan besar untuk menjaring wisatawan mancanegara (wisman). Dan homestay desa wisata menjadi satu dari tiga prioritas Kemenpar.

BACA JUGA: Ragam Pesona Bawah Laut Indonesia Mejeng di Kuala Lumpur

Bahkan tim 10 Destinasi Prioritas hampir setiap hari melaporkan progres pengembangan homestay karena harus berkolaborasi dengan banyak kementerian dan lembaga. Kementerian lain memang mendukung pengembangan homestay.

Sebelumnya, Kementerian BUMN juga sudah memberikan dukungannya pada pengembangan homestay. Kini, sekarang giliran Kementerian Pekerjaan
Umum dan Perumahan Rakyat (PU PR) melalui Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan yang ikutan action.  

BACA JUGA: PLN Bakal Pasok 10 Megawatt Listrik di Morotai

Langkah konkretnya adalah menggarap Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) atau bedah rumah tidak layak huni di sekitar lokasi wisata Danau Toba, Tanjung Lesung dan Bromo-Semeru-Tengger. Di setiap masing-masing lokasi wisata tersebut akan ada 100 rumah yang mendapatkan BSPS dengan nilai Rp 15 juta per rumah.

“Tahun 2017 ini kita akan start. Kami akan fokus menggarap homestay di sekitar lokasi wisata Danau Toba, Tanjung Lesung dan Bromo-Semeru-Tengger,” papar Direktur Perencanaan Penyediaan Perumahan Ditjen Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR Hardi Simamora.

BACA JUGA: Anda Mau Acara Besar? Festival Pesona Mandeh 2017 Siap Digelar

Kementerian pimpinan Basuki Hadimoeljono itu pun sudah siap mengucurkan dana. Nantinya, masing-masing lokasi tersebut akan diberi stimulan dalam program BSPS sekitar 100 rumah dengan bantuan sekitar Rp 15 juta per unit. Yang dibidik tentu saja peningkatan kualitas rumah penerima bantuan di wilayah destinasi wisata.

Levelnya akan didorong naik kelas. Dari yang sebelumnya tidak layak huni menjadi layak huni.

“Dana maksimal per rumah mencapai Rp 15  juta dengan kriteria rumah rusak berat. Output kegiatan kami, rumah tesebut menjadi layak huni dan outcome-nya rumah tersebut bisa terhuni,” katanya.

Kementerian PUPR juga terus berupaya agar kegiatan terkait program infrastruktur dan perumahan bisa disinkronkan serta mendukung kegiatan di Kementerian lain seperti di Kementerian Pariwisata. Dengan adanya bedah rumah tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat untuk meningkatkan kualitas tempat tinggalnya sehingga dapat membantu menarik wisatawan untuk berkunjung sekaligus mendukung Program Satu Juta Rumah. 

“Salah satu syarat dari kami untuk dapat memperolehbbantuan stimulan adalah rumah dan tanah tersebut milik sendiri. Ini untuk membantu Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dengan penghasilan maksimal Rp 2,3 juta,” ungkapnya.

Sekretaris Jenderal Kementerian PUPR Taufik Widjoyono juga ikut mengamini. Usai melakukan penandatanganan kerja sama antara Kementerian PUPR dan Bank BTN, dia menyampaikan bahwa bantuan stimulan atau bedah rumah dilakukan untuk meningkatkan kualitas rumah-rumah warga di sekitar lokasi destinasi wisata di Indonesia. 

“Jika rumah masyarakat kondisinya baik dan sanitasinya juga baik tentu bisa menjadi homestay-homastay baru yang dapat  menarik lebih banyak wisatawan untuk berkunjung,” katanya.

Sedangkan Direktur Utama BTN Maryono mengatakan, BTN juga akan membiayai rumah-rumah penduduk yang dapat dijadikan sentra bisnis kepariwisataan di tiap destinasi. Menurutnya, kegiatan bedah rumah merupakan salah satu bagian dari Program Satu Juta Rumah.

Untuk melaksanakan program itu, BTN memberikan fasilitas pembangunan rumah di 10 destinasi wisata. Misalnya, di sekeliling 10 destinasi wisata dibangun rumah-rumah dan toko yang bisa menjual suvenir, restoran, dan lain sebagainya yang dibiayai melalui KPR (kredit pemilikan rumah).

Menpar Arief Yahya ikut happy melihat kekompakan Kementerian PUPR dan BTN dalam men-support program prioritas Kemenpar 2017. Rumah layak huni tadi, menurut Arief, bisa difungsikan sebagai penggerak ekonomi warga sekitar destinasi dengan disewakan kepada para wisatawan atau dijadikan tempat berjualan. 

“Jika rumah layak huni yang akan dibangun oleh BTN dan Kementerian PUPR itu disewakan dengan harga Rp200 ribu semalam, maka pemilik rumah meraup keuntungan Rp 800 ribu jika dua malam disewa pada tiap akhir pekan,” ucapnya.(adv/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Hai Jogja, Click! The Heritage of Indonesia


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler