Kemnaker Gelar KKIN untuk Meningkatkan Kompetensi Instruktur

Selasa, 21 November 2017 – 18:16 WIB
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo membuka pelatihan Kompetisi Keterampilan Instruktur Nasional (KKIN) VI Tahun 2017 di Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Semarang, Selasa-Sabtu (21-25/11/2017). Foto: Kemnaker

jpnn.com, SEMARANG - Dalam rangka percepatan peningkatan kompetensi instruktur Indonesia, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyelenggarakan Kompetisi Keterampilan Instruktur Nasional (KKIN) VI Tahun 2017 di Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Semarang, Selasa-Sabtu (21-25/11/2017).

Kegiatan KKIN ke-VI Tahun 2017 yang dibuka secara resmi oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dan diikuti oleh 108 kompetitor/instruktur dari 12 regional/wilayah. Mereka adalah para instruktur dari lembaga pelatihan pemerintah, industri dan swasta yang berhasil meraih peringkat satu pada KKIN VI tingkat regional sebelumnya.

BACA JUGA: Siapkan 5 Ribu Pekerja Lokal Terampil di Kilang Balikpapan

Ada sembilan bidang keahlian yang dilombakan pada KKIN VI, yaitu Pengelasan, Otomotif Kendaraan Ringan, Pendingin dan Tata Udara, Elektronika, Desain Grafis, Tata Busana, Instalasi Listrik, Perancangan Rekayasa Mekanik CAD dan Solusi Perangkat Lunak Teknologi Informasi untuk Bisnis.

Dirjen Pembinaan Pelatihan Produktivitas (Binalattas) Kemnaker, Bambang Satrio Lelono, berharap melalui KKIN para instruktur bisa semakin kompetitif dan berdaya saing.

BACA JUGA: Kemnaker Kawal Proses Peralihan LNG Bontang

"Saya berharap instruktur termotivasi dalam meningkatkan kompetensinya baik secara individu maupun kedinasan sehingga mampu meningkatkan kompetensi dan daya saing tenaga kerja secara nasional," kata Bambang saat membuka KKIN yang mengusung tema "Melalui Kompetisi Kita Tingkatkan Kompetensi dan Profesionalisme Instruktur,” Selasa (21/11/2017).

Selain sebagai ajang peningkatan kompetensi, Bambang menilai KKIN juga menjadi instrumen untuk mengukur dan memantau peta kompetensi instruktur sesuai dengan bidang keahliannya.

BACA JUGA: Wirausaha Sebagai Cara Cepat Mengurangi Pengangguran

"Peta persaingan instruktur dapat menjadi rujukan pemerintah dalam perencanaan program pembinaan instruktur di masa yang akan datang," ungkap Bambang.

Lebih jauh, Bambang mengatakan, KKIN ini dapat mempererat hubungan kerja sama antara pemerintah, swasta, serta dunia usaha dan industri. Sekaligus sebagai media untuk tukar pengalaman dan informasi yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan dunia kepelatihan.

"KKIN dapat menambah wawasan dan pengalaman berkompetisi bagi instruktur dan pengelola lembaga pelatihan kerja sehingga mereka mampu menyiapkan calon kompetitor pada ASEAN Skills Competition (ASC) dan mampu menyiapkan diri pada ajang kompetisi trainer tingkat Asia Tenggara maupun tingkat yang lebih luas lagi," kata Bambang.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan sangat mendukung penyelenggaraan KKIN ini. Menurut Ganjar KKIN bisa meningkatkan kompetensi instruktur sehingga bisa menyiapkan calon tenaga kerja yang kompetitif dan berdaya saing.

“Saya sangat mendukung kegiatan seperti ini sebagai salah satu langkah nyata untuk menyiapkan tenaga kerja yang kompeten dan berdaya saing dalam rangka menyongsong Bonus Demografi di Indonesia yang diperkirakan terjadi pada tahun 2020-2030," kata Ganjar Pranowo.

Berdasarkan Inpres Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK dalam rangka Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia, peran BLK & Instruktur yg kompeten sangat diperlukan dalam rangka menjembatani link and match antara dunia pendidikan dunia dunia kerja.

"Dengan instruktur yang kompeten diharapkan akan menghasilkan calon tenaga kerja yang siap memasuki dunia kerja," ujar Ganjar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah bulan Agustus 2017, jumlah Angkatan Kerja di Jawa Tengah sebanyak 18,01 juta orang. Penduduk yang bekerja sebanyak 17,19 juta sehingga jumlah pengangguran 0,82 juta orang dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Tengah sebesar 4,57%. Dari jumlah tersebut pengangguran dari lulusan tingkat SLTA sebesar 50,56%.

Banyaknya jumlah pengangguran lulusan SLTA tersebut salah satu penyebabnya adalah tidak sinkronnya kompetensi calon tenaga kerja dengan kebutuhan pasar kerja.

“Untuk itu solusinya adalah penjurusan di SMK harus betul-betul sesuai kebutuhan dunia kerja. Demikian pula, pelatihan Calon Tenaga Kerja. Ke depan perlu disinkronkan dengan kebutuhan investor, berapa jumlah tenaga kerja dan jabatan-jabatan yang dibutuhkan," ungkap Ganjar.(adv/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Menaker: Peluang Pemagangan Ke Jepang Terus Diperbanyak


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler