Kepala BIN Bebekan Analisis Situasi Perekonomian Terkini, Ngeri-Ngeri Sedap

Kamis, 19 Januari 2023 – 21:11 WIB
Kepala Badan Intelijen Negara Jenderal Polisi (Purn.) Budi Gunawan membeberkan analisis situasi perekonomian 2023. Foto: dok Humas BIN

jpnn.com, JAKARTA - Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Polisi (Purn.) Budi Gunawan membeberkan analisis situasi perekonomian 2023.

Hal itu dibeberkan Budi dalam Rapat Koordinasi Nasional Kepala Daerah dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah se-Indonesia di Sentul City, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, melalui keterangan resmi, Kamis (19/1).

BACA JUGA: Jokowi Resmikan AMN di Surabaya, Kepala BIN: Salah Satu Pusat Lahirnya Calon-calon Pemimpin Bangsa

"Foresight (tinjauan masa depan) dari intelijen dunia itu menggambarkan bahwa tahun 2023 sebagai tahun yang gelap dan penuh dengan ketidakpastian. Istilah intelijen disebut dengan winter is coming," ujar Budi Gunawan.

Selain itu, Menurut Budi, ada juga yang menggambarkan bahwa 2023 adalah tahun yang dihantui oleh ancaman resesi dan inflasi.

BACA JUGA: Hadiri Wisuda STIN, Kepala BIN sebut BPIP Sebagai Pejuang Islam

"Dampaknya akan berpengaruh sampai dengan ke daerah, mengena dan dirasakan oleh ekonomi rumah tangga di sudut-sudut kota, di kabupaten hingga pelosok-pelosok desa," lanjutnya.

Budi Gunawan menyebutkan foresight intelijen, analisis big data BIN, dan counterpart intelijen dunia, juga menggambarkan ada beberapa potensi ancaman dan tantangan global pada 2023.

BACA JUGA: Gegara Bjorka Bocorkan Data Tokoh, Jokowi Panggil Kapolri hingga Kepala BIN

"Perlu menjadi perhatian semua pihak," ucap Budi Gunawan.

Dia melanjutkan beberapa perhatian itu harus ditujukan kepada perang Rusia dan Ukraina yang diprediksi masih akan berlangsung lama dan diperparah dengan munculnya potensi penggunaan senjata nuklir dalam skala yang terbatas.

Hal itu akan mengganggu pasokan energi dan pangan dunia.

Di samping itu, situasi konflik geopolitik China dan Taiwan di Selat Taiwan juga akan makin memprihatinkan, dan akan memengaruhi jalur logistik dunia.

"Akibatnya, banyak negara terpaksa harus menerapkan nasionalisme yang sempit atau langkah-langkah proteksionisme guna untuk mengamankan dan memenuhi kebutuhan dalam negerinya masing-masing," ujar Budi.

Kemudian, infrastruktur di negara-negara Eropa mulai banyak yang terbengkalai karena kekurangan biaya akibat inflasi. Budi mencontohkan Italia sedang mengalami krisis listrik dan kesulitan pangan.

"Di beberapa negara Afrika ini sangat bergantung 90 persen impor akan gandum dari Rusia dan Ukraina. Oleh karenanya saat ini mereka sedang terancam kelaparan dan kemiskinan yang ekstrem," kata Budi.

Khusus untuk Indonesia, Budi menjelaskan ada pekerjaan rumah yang sangat besar di mana per Januari 2023, Indonesia akan menjadi negara net importir komoditas pangan khususnya gandum, kedelai, beras, daging, dan bawang putih.

"Oleh karenanya peran pemda ini memang sangat dibutuhkan guna mengatasi akan potensi terjadinya krisis pangan tersebut," ujar Budi.

Lalu, akan ada krisis mata pencarian dan meningkatnya PHK, serta angka pengangguran global.

Kondisi itu akan diperparah dengan pembiayaan anggaran negara dan perusahaan yang menjadi lebih kompleks dengan masuknya konsep ekonomi hijau atau ramah lingkungan.

"Yang jika kita salah dalam pengelolaan maka akan sangat berpotensi akan meningkatkan beban utang serta rentan terhadap perubahan teknologi," kata Budi.

Budi menyebutkan pelemahan nilai tukar rupiah kita terhadap USD akibat tingginya inflasi global sehingga menyebabkan tingginya beban impor yang berdampak pada industri nasional, meningkatnya pengangguran serta menurunnya daya beli masyarakat.

Namun, meski berbagai ancaman itu Budi menegaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2023 diperkirakan hanya di kisaran 4,7 persen - 5,3 persen.

"Hasil foresight intelijen dunia menunjukkan bahwa akan terjadi ketimpangan wilayah dan antarkelompok masyarakat di satu daerah yang semakin tinggi. Sehingga hal tersebut berpotensi mengurangi pertumbuhan di daerah kurang lebih 1,2 persen," pungkas Budi Gunawan.(mcr10/jpnn)


Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler