Keracunan Kerang dan Ceker, Empat Sekeluarga Tewas

Rabu, 22 Oktober 2014 – 21:28 WIB

jpnn.com - GRESIK - Duka mendalam menyelimuti keluarga Nur Hidayati, warga Jalan Airlangga, Desa Abar-abir, Kecamatan Bungah, Gresik. Diduga karena keracunan makanan, enam di antara delapan anggota keluarga perempuan berusia 35 tahun itu tumbang. Bahkan, empat di antara mereka meninggal. Empat korban meninggal tersebut adalah Muinah, 70; Rokani, 55; Syaikhun, 40; dan Moh. Makhrus Bakhtiar, 13. 

Mereka yang tewas adalah nenek, ibu kandung, suami, dan anak sulung Nur Hidayati. Korban selamat adalah Suaini, 35, (sepupu) dan Nur Hidayati.

Dua penghuni rumah lainnya tetap sehat karena tidak ikut menikmati makanan yang dimasak Nur tersebut. Mereka adalah Asrokin, 60, dan Hila, 4. Keduanya adalah ayah kandung dan anak bungsu Nur.

Enam korban itu mengonsumsi sup simping (sejenis kerang-kerangan), ceker ayam, dan tempe goreng yang dimasak Hidayati pada Senin (20/10). ''Penyebab pastinya masih harus menunggu hasil uji laboratorium dan otopsi terhadap korban,'' ujar Kapolsek Bungah AKP Sudirman kemarin (21/10).

Meninggalnya empat anggota keluarga itu membuat Nur yang kondisinya baru membaik kembali kolaps, meski tidak sampai dilarikan ke rumah sakit lagi. ''Dia masih sering tidak sadar diri,'' ujar Yumila, 44, sepupu Nur, di rumahnya kemarin. Karena kondisi tersebut, Nur tidak terlihat ikut mengantarkan pemakaman suaminya, Syaikhun, di pemakaman desa sekitar pukul 09.30 kemarin.

Dugaan keracunan tersebut bermula ketika Nur Hidayati, 35, berbelanja simping, tempe, dan ceker ayam dari melijo (penjual sayur keliling) di kampungnya, Jalan Airlangga, Desa Abar-abir, Kecamatan Bungah, Minggu pagi (19/10). Nur tidak memasak langsung sayur maupun lauk itu. Tetapi, dia menyimpannya selama sehari di dalam kulkas. Dalam kulkas itu juga terdapat telur, sirup, serta makanan ringan lainnya.

Baru keesokannya, Senin (20/10) sekitar pukul 08.00, Nur memasak untuk sarapan seluruh anggota keluarga. Dia memasak sup yang diisi simping dan ceker ayam. Nur memasak di dalam rumah karena dapurnya sedang direnovasi.

Dia mengambil air untuk memasak sup dan menanak nasi dari sumur di rumah Muhaimin di sisi selatan rumahnya. Air sumur itu lalu dialirkan melalui pipa paralon dan disedot dengan pompa air. Air sumur tersebut lalu disimpan dalam ember besar yang diletakkan di belakang rumah, sedangkan ember kecil berisi air ditaruh di dekat kompor gas di dalam rumah Nur.

''Air sumur itu digunakan empat keluarga, termasuk Nur. Selama ini aman-aman saja,'' terang Yumila.

Ketika sup ceker ayam campur simping mulai matang, Nur kemudian menggoreng tempe gimbal. Dia sempat mencicipi masakan itu. Kemudian, sup ceker ayam campur simping dan gimbal tempe serta nasi ditaruh di meja. Selang beberapa menit, Nur merasa mual dan pusing. Karena kepalanya tiba-tiba pusing dan mual, dia kemudian dilarikan ke RS Mabarrot Bungah.

Alimin, sepupu Nur, mempunyai versi berbeda. Menurut kepala Desa Abar-abir itu, Nur tidak sempat mencicipi masakannya. ''Dia pusing dan mual mungkin kelelahan,'' kata lelaki 38 tahun tersebut.

Sup ceker ayam, simping, serta nasi yang sudah tersedia di meja itu kemudian disantap Muinah, Rokani, dan Suaini. Mereka adalah nenek, ibunda, dan sepupuh Nur. Dalam hitungan menit, tiga orang tersebut mual-mual, lalu muntah. ''Baru beberapa sendok, perut mereka mual dan muntah,'' terang Alimin, kerabat Nur. ''Mulut mereka berbusa,'' imbuhnya. Tiga orang itu lalu dilarikan ke RS Mabarrot.

Tetapi, Tuhan berkehendak lain. Muinah meninggal dalam perjalanan dan Rokani meninggal beberapa saat setelah dirawat di RS Mabarrot. Suaini yang kondisinya parah kemudian dirujuk dari RS Mabarrot ke RS Petrokimia Gresik. (yad/nw)

BACA JUGA: Jelang Tes, Sekda Ingatkan Pelamar CPNS Denda Rp 50 Juta

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pesawat Asal Australia Dipaksa Mendarat di Sam Ratulangi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler