Ketan Bubuk Kudusan, Menu Warisan Era 70-an yang Tetap Diburu

Senin, 04 Mei 2015 – 08:49 WIB
Ketan Bubuk Kudusan, Menu Warisan Era 70-an yang Tetap Diburu. Foto Radar Malang/JPNN.com

jpnn.com - JPNN.com MALANG - Kuliner legendaris yang satu ini sudah eksis sejak tahun 1970-an. Ya, Ketan Bubuk Kudusan hingga kini tetap mempertahankan cita rasa khasnya.

Resep warisan orang tua menjadi andalan ketan yang berlokasi di Pasar Besar dan di Jl Pahlawan Trip, Kota Malang, Jawa Timur. Tak heran jika menu jadul ini tetap diburu para pecintanya.

BACA JUGA: Anak Autis yang Bisa Hafal Hari dan Tanggal 150 Tahun Kalander

Kuliner Ketan Bubuk Kudusan (KBK) yang ada di wilayah Jalan Ijen, tampak lengang. Masih belum ada pembeli yang berbelanja di tempat usaha kuliner yang sederhana ini.

Sederhana karena hanya ada satu motor yang disulap menjadi semacam rombong kecil, serta empat kursi plastik yang disediakan bagi pengunjung warung yang ada di pinggir Jalan Pahlawan Trip, Kota Malang.
”Kalau sudah agak siang begini, biasanya sudah mulai sepi,” terang Nurul Khotimah (41), penerus keempat usaha kuliner legendaris ini seperti yang dilansir Radar Malang (Jawa Pos Group).

BACA JUGA: Hati-hati! Pujian Bisa Bikin Anak Narsis

Usaha kuliner ini pada mulanya didirikan oleh ibu Khotimah, (alm) Supiyah pada tahun 1970.

”Usaha ini sudah ada bahkan sebelum saya lahir,” terang Khotimah. Setelah Supiyah meninggal dunia pada sekitar tahun 1990, barulah pengelolaan usaha kuliner yang berpusat di daerah Pasar Besar ini berjalan secara estafet.

BACA JUGA: Apakah Obat Depresi Diperlukan? Ini Jawabannya

Mula-mula dikelola oleh (Alm) Sri Utami yang merupakan kakak kandung dari Khotimah. Kemudian dijalankan oleh Samsul dan sejak tiga tahun lalu mulai dikelola oleh Khotimah.

”Selain saya, ada juga adik saya, Arif Budianto yang turut mengelola jualan ketan di daerah Kudusan,” terang dia.

Khotimah menceritakan, usaha kuliner ini memang dirintis ibunya sejak lama. Dari awal berdiri, sudah menempati salah satu gang di wilayah Kudusan atau Jalan Zaenal Arifin.

”Maka dari itu, namanya Ketan Kudusan,” terang dia.

Namun, ketika ada kebakaran besar yang melanda Pasar Besar sekitar tahun 1980-an, sebagian besar pedagang direlokasi di jalan sekitar Pasar Besar dan Kudusan.

”Walau tidak kena kebakaran, tapi ibu saya ikut pindah di kawasan belakang Altara. Tidak pernah berpindah lagi hingga sekarang,” beber dia.

Resep ketan yang dia gunakan juga merupakan resep asli warisan dari ibunya. Dalam memasak juga tidak pernah dia ubah metodenya. Menurut dia, ibunya memang memiliki keahlian memasak ketan.

Keahlian tersebut juga diturunkan dari ibu dari Supiyah, alias nenek Khotimah. Sebab, neneknya dulu juga sudah berjualan ketan.

”Ini resep bisa dibilang warisan leluhur. Saya tidak tahu nama nenek. Karena ketika saya lahir, beliau sudah meninggal,” terang perempuan berkerudung ini.

Dari resep turun-temurun, hingga kini dia konsisten menjaga keaslian resep ini. ”Mulai cara masak dan bahan tetap asli, sama seperti yang diajarkan ibu saya,” imbuhnya.

Karena ingin meningkatkan kuantitas dagangannya, sejak dua tahun lalu Khotimah berjualan di Jalan Pahlawan Trip.

”Yang di kawasan Pasar Besar juga tetap buka. Jadi, di Jl Pahlawan Trip, Kota Malang ini cabangnya,” terang dia. (radarmalang/lia)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Begini Cara Kerja Pengobatatan Medis Stemcell


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler