Ketua DPD Dorong Hubungan RI-Malaysia Baik-baik Saja

Kamis, 27 November 2014 – 21:22 WIB
Ketua DPD RI Irman Gusman (kiri) bersama dengan Delegasi Dewan Negara Malaysia yang di pimpin oleh Tan Sri Abu Zahar Ujang (kanan) usai melakukan pertemuan di ruang rapat DPD RI, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (27/11). Foto : Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - JAKARTA - Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman mengatakan Indonesia dengan Malaysia adalah serumpun dan hanya beda penjajah saja.

"Indonesia dijajah oleh Belanda dan Malaysia oleh Inggris," kata Irman Gusman, saat menerima lawatan resmi Ketua Dewan Negara Malaysia, Tan Sri Abu Zahar Ujang didampingi ketua-ketua parlemen negara bagian Malaysia, di Gedung Nusantara III, komplek Parlemen, Senayan Jakarta, Kamis (27/11).

BACA JUGA: Kejaksaan Uber Uang Pengganti Korupsi Bioremediasi

Oleh karena itu, lanjut Irman, semua hal yang menggangu hubungan kedua negara harus diminimalisir dan harus diselesaikan secepatnya melalui jalur diplomasi.

Terlebih menjelang akan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean. Menurut senator asal Sumatera Barat itu, semua potensi konflik selain harus diminimalisir, juga harus diantisipasi sedini mungkin agar kerjasama ekonomi Asean memberi manfaat kepada seluruh masyarakat Asean.

BACA JUGA: Politisi PKS Sebut Jokowi Salah Pahami KIH-KMP

"Yang penting, adalah saling mendukung di antara kedua negara untuk dapat mewujudkan hubungan bilateral yang saling menguntungkan," tegas Irman.

Menurut Irman, banyak potensi kerjasama yang sudah dilakukan selama ini antara lain bidang pendidikan, ekonomi, pariwisata, pertanian, perkebunan dan perdagangan.

BACA JUGA: Nusron Langsung Mundur dari DPR

"Saat ini fokus perhatian Indonesia adalah masalah maritim dan perbatasan sebagai upaya menjaga kedaulatan NKRI. Malaysia karena sebagian wilayahnya berbatasan dengan Indonesia saya harapkan juga proaktif bersama Indonesia untuk menyelesaikannya mengingat masalah tapal batas negara hal sensitif," harap Irman.

Lebih lanjut, Irman mengungkap berbagai persoalan terkini dengan Malaysia. Antara lain sejumlah desa di Kalimantan yang disebut-sebut telah masuk menjadi wilayah Malaysia dan juga pembangunan mercusuar di wilayah Tanjung Datuk, perbatasan Kalimantan Barat.

Juga problem kebakaran lahan dan kabut asap serta klaim atas seni budaya yang selama ini dikenal sebagai tradisi Indonesia.

"Semua masalah tersebut harus diselesaikan dengan prinsip saling menghormati kedaulatan baik secara hukum maupun realitas di lapangan," sarannya.(fas/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Demo BBM, Warga Tewas Diduga Terlindas Water Cannon


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler