Ketua DPD RI Beri 3 Masukan bagi Kaum Milenial, Apa Saja?

Jumat, 03 Desember 2021 – 20:40 WIB
Ketua DPD RI Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti saat memberikan keterangan. Foto: Humas DPD RI

jpnn.com, BANDUNG - Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti mendorong generasi milenial untuk masuk dan menguasai pasar ekonomi digital yang memiliki potensi sangat besar.

Menurut dia, Indonesia tidak hanya menjadikan sarana teknologi dan digital sebagai sarana hiburan belaka, tetapi juga menciptakan produk dan nilai tambah bagi perekonomian.

BACA JUGA: Lihat, Giliran Jenderal Andika Sambangi Rumah Dinas Ketua DPD RI

’’Yang ingin saya tekankan, ayo bersiap. Tidak ada kata terlambat. Jangan sampai besarnya pasar ekonomi digital itu dinikmati perusahaan besar dari luar negeri,’’ tutur LaNyalla pada Seminar Nasional Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Jumat (3/12).

Pada acara tersebut, LaNyalla memaparkan besarnya potensi ekonomi digital.

BACA JUGA: Jenderal Andika Jadi Calon Panglima TNI, Sultan DPD RI: Tepat

Dia menuturkan, dari tahun ke tahun, nilai transaksi belanja online terus meningkat. Yakni, pada 2020, mencapai Rp 266 triliun.

’’Ada satu keprihatinan karena masih marak produk impor di berbagai marketplace Indonesia,’’ tegas ketua Dewan Penasihat Kadin Jatim itu.

BACA JUGA: Food Estate Berpotensi Merambah Hutan, Waket DPD RI Merespons,Simak

Senator asal Jawa Timur tersebut tak menampik 90 hingga 95 persen penjual di marketplace adalah orang lokal.

Namun, produk yang dijual kebalikannya.

Sekitar 90 persen adalah impor.

Ini harus menjadi perhatian bersama. Nilai transaksi belanja online begitu besar.

Yakni, lebih dari Rp 266 triliun.

Artinya, mayoritas uang rakyat dibelanjakan untuk produk impor.

’’Inilah salah satu PR kami untuk membawa anak-anak muda masuk ekosistem belanja digital,’’ kata LaNyalla.

Ada berbagai segmen bisnis, aplikasi, software, dan teknologi bidang kesehatan.

Belum lagi berbicara perkembangan teknologi gelombang baru dunia digital seperti teknologi 5G dan cloud computing.

’’Jika ditangkap dengan baik, peluangnya untuk memperbaiki kualitas pertumbuhan ekonomi bangsa,’’ ujarnya.

Menurut dia, ekonomi digital Indonesia tumbuh delapan kali lipat pada 2030.

Nilainya diprediksi sekitar Rp 4.500 triliun.

’’Luar biasa besar mengingat populasi bangsa kita besar. Sehingga menjadi pasar prospektif dari ekonomi digital,’’ tuturnya.

Ada beberapa catatan penting yang harus dibenahi bila ingin memperkuat daya saing untuk menghadapi pesatnya perkembangan ekonomi digital.

Pertama, kesiapan sumber daya manusia (SDM).

LaNyalla menegaskan, digital hanya alat.

Skemanya adalah inovasi, terobosan, dan peruntukan berdasarkan perencanaan manusia.

’’Sehingga SDM kaum muda harus disiapkan saat ini, tidak bisa ditunda-tunda lagi,’’ urainya.

Kedua, kesiapan infrastruktur.

Saat ini, fasilitas infrastruktur telekomunikasi belum merata.

Terutama di kawasan timur Indonesia.

Akibatnya, terjadi kesenjangan digital.

Mayoritas pengguna internet di Indonesia hanya berpusat di Jawa, Sumatera, dan Bali.

’’Tanpa pemerataan infrastruktur telekomunikasi, sulit menciptakan kaum muda kreatif dengan sentuhan digital di pelosok negeri,’’ paparnya.

Ketiga, kesiapan regulasi.

LaNyalla menuturkan, digital adalah dunia yang begitu dinamis.

Hitungan perubahannya bukan tahun, melainkan hari, bahkan jam.

Dia menjelaskan, pemerintah harus menyiapkan regulasi yang tidak kuno dan mengakomodasi perkembangan zaman dengan memihak kepentingan bangsa.

LaNyalla percaya GMKI melalui kegiatan seminar nasional ini ingin memberikan kontribusi positif bagi perjalanan bangsa ini.

Salah satunya, menyambut bonus demografi pada usia 100 tahun Indonesia.

Apalagi, GMKI memiliki tokoh panutan.

Yaitu, dokter J. Leimena yang juga pahlawan nasional Indonesia sekaligus penggagas cikal bakal lahirnya GMKI.

’’Saya berharap para anggota GMKI mengaktualisasikan diri, berorganisasi, beribadah, dan mengabdi kepada rakyat tanpa mengenal lelah sehingga lahir dokter J. Leimena lain di era saat ini,’’ harapnya. (mrk/jpnn)


Redaktur : Tarmizi Hamdi
Reporter : Tarmizi Hamdi, Tarmizi Hamdi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler