Ketua DPD RI Minta Pemerintah Siapkan Skema Baru Mendatangkan Vaksin Covid-19

Jumat, 09 April 2021 – 22:46 WIB
Ketua DPD RI LaNyalla Mahmud Mattalitti bersama rombongan saat tiba di Bandara Fatmawati Soekarno, Kota Bengkulu disambut oleh Wakil Gubernur Bengkulu Rosjonsyah, Jumat (9/4). Foto: Humas DPD RI.

jpnn.com, BENGKULU - Indonesia terancam kehilangan 10 juta dosis vaksin AstraZeneca.

Sebab, negeri ini yang awalnya akan mendapat 30 juta dosis untuk Maret-April, ternyata hanya mendapatkan 20 juta saja akibat adanya embargo.

BACA JUGA: Azis Syamsuddin Minta Menkes dan BPOM Memprioritaskan Produksi Vaksin Nusantara

Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti memberikan perhatian serius terhadap masalah itu, apalagi saat ini pemerintah sedang serius memutus penyebaran Covid-19. 

"Menanggapi defisit vaksin yang dialami Indonesia karena pemberlakuan embargo hingga kehilangan 10 juta dosis vaksin, bukan hal yang mudah untuk diselesaikan. Untuk itu, pemerintah pun harus memberikan perhatian serius," katanya sesaat setelah mendarat di Bengkulu, Jumat (9/4).

BACA JUGA: Menkes Sudah Menduga Target 100 Juta Vaksin COVID-19 Sulit Tercapai, Ini Penyebabnya

Senator asal Jawa Timur ini mengatakan, defisit vaksin memang sudah diperkirakan sejak dari awal.

Semestinya, lanjut LaNyalla, Kementerian Kesehatan sudah memiliki peta jalan yang jelas, sehingga skema pemberian vaksin sesuai dengan jadwal.

BACA JUGA: DMI dan Kemenkes Siapkan Masjid Menjadi Tempat Vaksinasi Covid-19

"Kemenkes membuat skema opsi lain jika vaksin tidak dapat didatangkan," ujar LaNyalla memberi saran.

Ketua Dewan Kehormatan Kadin Jatim itu meminta pemerintah memberikan skema lain yang lebih konkret apabila ketidakpastian kedatangan vaksin sangat tinggi. 

"Selain itu pemerintah perlu keterbukaan kepada publik agar difahami keadaan yang sebenarnya, sehingga memunculkan kesadaran untuk mengubah prilaku masyarakat," kata LaNyalla.

Dia menambahkan Indonesia harus terus melobi negara-negara produsen vaksin untuk mencukupi kebutuhan vaksinasi. 

"Kita jangan menyerah, terus upayakan dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki agar menjadi opsi lain dalam penyediaan vaksin. Kalaupun tidak berhasil, kita telah belajar mengenai science vaksin yang sangat mahal," katanya.

Masalah ini muncul setelah ketahui jika AstraZeneca belum mendapat izin emergency authorization dari Food and Drug Administration (FDA) atau Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat. (*/jpnn)

Kamu Sudah Menonton Video Terbaru Berikut ini?


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler