Ketua HMI Palu Diduga Meninggal tak Wajar di RS Madani

Selasa, 23 September 2014 – 11:05 WIB

jpnn.com - PALU – Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Palu terpilih, Sadam Fadly diduga meninggal tidak wajar di RSUD Madani Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (21/9). Keluarga pun menyesalkan sikap dari pihak RSUD Madani Palu, yang seolah menutupi penyebab pasti kematian dari Mahasiswa Universitas Tadulako semester akhir itu.

Sadam yang oleh keluarga terpaksa dirawat di RSUD Madani, sejak Sabtu (20/9) karena mengalami depresi tersebut, ditemukan sudah tidak bernyawa pada Minggu malam. Pihak keluarga sendiri mengaku, tidak langsung diberikan informasi jika korban telah meninggal dunia.

BACA JUGA: Tergiur Motor Murah, Uang Rp 16 Juta pun Melayang

“Keluarga awalnya datang mau menjenguk, dan kaget waktu perawat di rumah sakit itu bilang kalau dia sudah meninggal,” kata Ferry, kakak kandung almarhum seperti yang dilansir Radar Sulteng (Grup JPNN.com), Selasa (23/9).

Ferry yang juga redaktur Radar Sulteng, mengaku menyesalkan sikap dari RSUD Madani yang tidak langsung menghubungi dirinya sebagai keluarga yang mengantar korban ke RSUD Madani untuk menjalani perawatan. Pihak keluarga dilaporkan bahwa Sadam meninggal akibat bunuh diri, sementara jasad korban ditemui sudah pada posisi terbaring di tempat tidur.

BACA JUGA: Usai Cekcok dengan Suami, Marni Ditemukan Tewas Dicekik

“Yang sampaikan ke kami hanya perawat kalau dia bunuh diri. Tidak ada dokter jaga yang bisa menjelaskan secara pasti seperti apa dia bunuh diri,” ujarnya.

Pihak rumah sakit sendiri kata Ferry, juga tidak melaporkan kematian sang adik ke pihak kepolisian, jika benar korban meninggal bunuh diri.  Makanya, keluarga tidak yakin, kalau Sadam benar-benar melakukan aksi nekat mengakhiri hidupnya, sebagaimana keterangan rumah sakit.

BACA JUGA: Bayinya Dijual Rp 5 Juta, TKI Polisikan Sang Kekasih

Masih menurut Fery, malam itu, melihat tindakan pihak rumah sakit yang seolah cuek dengan kejadian yang dialami sang adik, maka keluarga korban pun berinisiatif untuk membawa jasad almarhum ke Rumah Sakit Bhayangkara guna dilakukan visum. Visum yang dilakukan setelah keluarga membuat laporan resmi kasus tersebut ke kepolisian, dilakukan hingga pagi kemarin.

“Hasil visum memang tidak ada tanda-tanda kekerasan. Tapi yang jadi pertanyaan kami kenapa bisa terjadi hal ini di rumah sakit, itu berarti pihak rumah sakit kami nilai telah lalai merawat pasiennya,” sebut Ferry.
Menurut Fery, keyakinan keluarga bahwa sang adik meninggal bukan karena bunuh diri, didukung beberapa indikasi. Kata Fery, dari hidung sang adik mengeluarkan busa. Saat sudah berada di kamar jenazah, jasad Sadam juga langsung memuntahkan darah.

“Busa itu, bisa saja indikasi over dosis. Sedangkan muntah darah, karena mungkin ada pembuluh darahnya yang pecah, yang penyebabnya juga bisa karena over dosis. Kalau memang bunuh diri karena over dosis, pertanyaannya, darimana adik saya bisa dapat obat,”kata Fery, yang berusaha tetap tegar dan mengaku akan terus mencari keadilan di balik kematian sang adik.

Terpisah Kasat Reskrim Polres Palu, AKP Yoseph AR Sudrajat kepada wartawan mengatakan bahwa berdasarkan laporan dari pihak keluarga tersebut, maka kepolisian akan tetap menyelidiki penyebab pasti kematian korban, apakah memang murni bunuh diri, ataukah ada unsur kesengajaan. Meski begitu, pihak kepolisian masih menunggu hasil resmi dari visum yang dilakukan oleh dokter Rumah Sakit Bhayangkara Palu. “Yang dilakukan hanya visum, karena keluarga menolak untuk dilakukan otopsi,” ungkapnya.

Yoseph juga mengaku sangat menyayangkan tindakan dari pihak RSUD Madani, yang sama sekali tidak melaporkan adanya kejadian penemuan mayat. Sebab, jika benar laporan awal korban bunuh diri maka polisi lah yang harus terlebih dahulu mengangkat jenazah setelah dilakukan olah TKP. Hal ini berbeda jika pasien meninggal murni karena penyakit.

“Ini kan laporannya bunuh diri, yah seharusnya kami dilaporkan ketika pertamakali melihat mayat,” terang Kasat.

Untuk itu penyidik akan segera memanggil pihak RSUD Madani, untuk dimintai keterangan. Mereka yang akan dipanggil mulai perawat jaga dan dokter jaga saat korban ditemukan sudah tidak bernyawa. “Surat panggilannya sudah kami buat tinggal dilayangkan,” tegas Yoseph.

Sementara itu pihak RSUD Madani yang hendak dikonfirmasi terkait kejadian tersebut, belum berani untuk memberikan keterangan. Kepala Seksi Keperawatan RSUD Madani, Hj Hartina Hamid yang dimintai keterangannya terkait kematian pasien tersebut tidak berani untuk menjelaskan secara pasti, meski dirinya mengetahui adanya kejadian tersebut.

“Iya saya tahu ada itu (kematian pasien). Tapi yang lebih berhak memberikan keterangan ibu direktur, bukan saya,” kata Hartina. Sementara Direktur RSUD Madani, Dr Isharwati MKes, yang hendak ditemui wartawan tidak berada di tempat, karena sedang mengikuti rapat pimpinan (Rapim).

Jenazah korban, siang kemarin langsung dimakamkan keluarga di kampung halamannya, di Desa Tanjung Padang, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala. Sadam Fadly, belum lama ini terpilih sebagai Ketua HMI Cabang Palu, dan pada 25 September mendatang rencananya akan diwisuda, namun telah lebih dulu dipanggil Sang Khaliq. (agg)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tukang Becak Protes Syarat IPK Tinggi bagi Pelamar CPNS


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler