Khawatir Indonesia jadi Kelinci Percobaan Ilmuwan Nuklir Rusia

Kamis, 13 Agustus 2015 – 22:35 WIB

jpnn.com - JAKARTA - Rencana pemerintah membangun reaktor nuklir mini alias reaktor daya eksperimental (RDE) di wilayah Serpong, Tangerang ditentang keras oleh pakar nuklir eksperimental Iwan Kurniawan. Pasalnya, teknologi milik BUMN Rusia, Rosatom yang akan digunakan untuk reaktor tersebut masih belum teruji.

Menurut Iwan, Rosatom hanya memiliki desain RDE tanpa ada pengalaman membangunnya. Bahkan di negara mereka sendiri teknologi tersebut belum diterapkan.

BACA JUGA: Smartfren Berani Bersaing dengan OTT Asing

"Ini sama saja Indonesia dijadikan kelinci percobaan ilmuan Rusia," kata Iwan saat menjadi pembicara dalam seminar "Mengungkap Ketertutupan Rencana Pembangunan PLTN di Indonesia" di Jakarta, Kamis (13/8).

Iwan mengingatkan, pembangkit listrik  tenaga nuklir memiliki resiko keamanan yang sangat luar biasa. Karena itu, sangat berbahaya jika pemerintah menggunakan teknologi yang belum pernah diuji sebelumnya.

BACA JUGA: Karya Anak Negeri, Pesawat Bongsor Ini Siap Terbang 2016

Apalagi, lanjutnya, saat ini Indonesia tidak punya rencana yang jelas dan terukur terkait pembangunan serta penggunaan energi nuklir. "Kesimpulan saya, RDE itu dirty bomb," terangnya.

Iwan mengharapkan Presiden Jokowi bersedia menjadi pemrakarsa agar semua pihak yang berkepentingan bisa duduk bersama dan terbuka membahas isu PLTN di Indonesia. Menurutnya, persepsi pro dan kontra baiknya ditiadakan, karena esensinya adalah ilmiah.

BACA JUGA: WOW... Hasil Cetak Foto Printer Ini Bisa Tahan Hingga 200 Tahun

"Dalam konteks ini, Presiden harusnya menjadi pemrakarsa agar semua pihak bisa duduk bersama membicarakan masalah ini. Buka saja, semua terbuka," tukasnya.

Dalam kesempatan yang sama, mantan anggota Dewan Energi Nasional, Herman Darnel Ibrahim menyampaikan hal senada. Ditegaskannya, kebijakan terkait energi nuklir haruslah di rancang secara rasional dan sangat hati-hati

Dia mengingatkan bagaimana negara maju seperti Jepang bisa sampai bertekuk lutut akibat tragedi reaktor nuklir Fukushima beberapa tahun lalu. Herman menilai Indonesia belum siap menghadapi resiko sebesar itu.

"Jepang ketika Fukushima menderita kerugian sekitar 5 ribu triliun. Sejak kejadian Fukushima, jujur saya tidak mendukung jika diterapkan di Indonesia," ujarnya.

Berdasarkan hitungan dia, Indonesia sebenarnya belum membutuhkan pembangkit listrik tenaga nuklir dalam waktu dekat. Pasalnya, masih banyak sumber energi baik konvensional maupun alternatif yang bisa dimanfaatkan.

Herman menyarankan pemerintah untuk fokus mengelola sumber energi yang ada. "Lebih prioritas pemerintah fokus pada pengembangan (riset) energi terbarukan yang ramah lingkungan," pungkasnya. (dil/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... HP Luncurkan Printer Terbaru 60 Inci Tercepat di Kelasnya


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler