Khawatir Papa Minta Saham Terulang Jika Setnov Pimpin DPR Lagi

Minggu, 27 November 2016 – 10:54 WIB
Ketua Umum Golkar Setya Novanto. Foto: dokumen JPNN.Com

jpnn.com - JAKARTA - Kabar tentang bakal kembalinya Setya Novanto ke kursi ketua DPR semakin terdangar santer belakangan ini. Golkar bahkan sudah memutuskan menarik Ade Komarudin dari posisi ketua DPR untuk menggantinya dengan Novanto.

Namun, rencana Golkar mengembalikan Setnov -sapaan Novanto- ke kursi ketua DPR justru memunculkan kekhawatiran baru. Sebab, Novanto sebelumnya terpaksa lengser dari kursi ketua DPR karena diduga mencatut nama Presiden Joko Widodo dalam kasus ‘Papa Minta Saham’ yang menghebohkan.

BACA JUGA: Jadi Calon Dubes di New Zealand, Tantowi Yahya Minta Didoakan

Penilaian itu muncul dari Ketua Umum PP Pemuda Muhamadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak. “Ini memunculkan kekhawatiran kasus serupa bisa muncul kembali dengan adanya kekuasaan dan kewenangan yang besar sebagai ketua DPR,” jelas Dahnil seperti diberitakan Indopos (JPNN Group).

Dia menilai rencana pergantian ketua DPR itu seperti sandiwara yang disajikan kepada masyarakat. Menurut Dahnil, rencana mengembalikan Setnov ke kursi ketua DPR juga menimbulkan reaksi negatif di masyarakat.

BACA JUGA: Pati TNI AL: Setop!!! Daya Rusaknya Luar Biasa

“Ini menjadi dagelan politik. Pencalonan kembali Setnov sejatinya melanggar etik dan moral yang berkembang di masyarakat yang memunculkan reaksi penolakan,” jelas Dahnil.

Anggota Pakar Partai NasDem Taufiqulhadi juga menyodorkan prediksi serupa. Menurutnya, publik masih ingat pada kasus Papa Minta Saham yang membelit Novanto.

BACA JUGA: Wah..KPK Endus Korupsi di Pilkada Banten, Ada Jejak Atut

“Masyarakat masih mengingat kasus Papa Minta Saham dan secara tidak langsung memvonis Setya Novanto melanggar etika. Karena itu kita tidak perlu membangkitkan kembali sesuatu yang masyarakat sudah bisa terima,” katanya.

Taufiqulhadi yang juga anggota Komisi III DPR menganggap kepemimpinan Ade Komarudin sebagai ketua DPR sudah berjalan baik. Karenanya, kata Taufiqulhadi, posisi Akom -sapaan akrab Ade- tak perlu diperdebatkan kembali.

“Jadi kita tidak perlu lagi kita meributkan dan merecoki persoalan-persoalan tersebut. Keputusan Golkar memilih Setya Novanto sebagai ketua umum adalah urusan internal, namun jangan melebar ke posisi ketua DPR yang sudah ditinggalkan,” tegasnya.(rmn/indopos/ara/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Dan Inilah 23 Nama yang Katanya Diusulkan jadi Dubes


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler