Kiai Said Puji Sinergi Taruna Merah Putih dan GP Ansor

Rabu, 09 Mei 2018 – 18:58 WIB
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siraj (tengah) dan Ketua Umum TMP Maruarar Sirait dalam acara Gebyar Selawat dan Tablig Akbar di Subang, JAwa Barat, Selasa (8/5) malam. Foto: TMP for JPNN

jpnn.com, SUBANG - Taruna Merah Putih (TMP) menggelar acara Gebyar Selawat dan Tablig Akbar bersama GP Ansor di Masjid Besar Al- Muhlisin Desa Pamanukan, Kecamatan Pamanukan, Subang, Jawa Barat, Selasa (8/5) malam. Acara bertema Islam Nuasantara itu juga dihadiri Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj.

Menurut Kiai Said, acara hasil kerja sama GP Ansor dengan TMP itu sangat bagus. Sebab, acara itu mempertemukan kalangan religius dan nasionalis untuk sama-sama menjaga NKRI.

BACA JUGA: Ansor - TMP Bersatu Melawan Hoaks dan Radikalisme

“Ini acara cukup bagus. Yang religius dan nasional menyatu, yakni Ansor dan TMP sama-sama kumpul di sini, sama saja dengan ikrar. Kumpul di sini ikrar mempertahankan Pancasila dan NKRI,” ujar Kiai Said.

Dalam kesempatan itu, Kiai Said juga menyampaikan penolakannya atas penggunaan masjid sebagai tempat berpolitik. Dia tidak mau masjid dikotori oleh politik.

BACA JUGA: Bisnis Kalajengking, PDIP: Yang Pak Jokowi Buat Selalu Salah

“Sejak dulu saya tolak. Mau mengatasnamakan Islam atas nama siapa kek tidak boleh. Simbol agama jangan untuk kepentingan politik. Politik itu kotor, agama itu bersih. Jangan sekali-kali agama dikotori politik,” ujarnya.

Sedangkan Ketua Umum TMP Maruarar Sirait mengaku belajar dari Ansor yang sejak dahulu konsisten menjaga atau benteng Pancasila sejati. Politikus muda PDIP itu mengatakan, GP Ansor yang berdiri pada 23 April 1934 bukan hanya penting bagi NU, tapi juga NKRI.

BACA JUGA: Bang Ara Harapkan Siapa pun Rival Jokowi Bisa Junjung Etika

Ara -panggilan Maruarar- lantasmencontohkan Resolusi Jihad NU yang mendorong anak-anak Ansor angkat senjata untuk mempertahankan kemerdekaan RI hingga muncul peristiwa 10 November 1945. “Pertempuran pada 10 November 1945 di Surabaya yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan merupakan perjuangan anak-anak GP Ansor,” ucap Ara.

Karena itu Ara akan terus bekerja sama dengan Ansor untuk sama-sama menjaga NKRI. Bung Karno dan KH Wahid Hasyim sudah mencontohkan tentang kaum nasionalis dan religius bekerja sama.

“Kegiatan tablig akbar ini merupakan gotong royong antara Ansor dan TMP untuk menjaga Indonesia. Tentu tidak semua senang Ansor dan TMP bersatu, kita harus tetap menjaga persatuan, kaum nadiyin dan nasionalis,” katanya.

Contoh itu juga pernah dipraktikkan KH Abdurrahman Wahid dengan Megawati Soekarnoputri  yang berjuang bersama memperjuangakan demokrasi pada masa Orde Baru. Gus Dur -panggilan KH Abdurrahman Wahid- yang juga cucu pendiri NU telah membuktikan kecintaan dan berhasil menegakkan hubungan yang sangat erat antara Islam dan keindonesiaan.

“Gagasan besar Gus Dur sejak tahun 1980 dan keberaniannya memperjuangkan demokrasi bersama Ibu Megawati Soekarnoputri pada zaman Orde Baru patut menjadi teladan bagi anak-anak muda  di zaman kekinian. MDua tokoh bangsa itu masih relevan menginsipirasi generasi sekarang ini,” tegasnya.(jpg/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Misbakhun Yakini Golkar Bisa Bangkit dan Menangkan Jokowi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler