Kini Saatnya Penerbit Koran Bersatu Hadapi Duopoli Google dan Facebook

Selasa, 11 Juli 2017 – 20:48 WIB
Kumpulan berbagai koran yang dipajang di San Francisco, California, Amerika Serikat. Foto: AFP

jpnn.com - Media cetak terutama koran sudah lama menganggap Facebook dan Google sebagai kawan sekaligus lawan. Di satu sisi, koran butuh Facebook dan Google untuk memperluas jangkauan pemberitaan dan iklan seiring merosotnya bujet iklan untuk media cetak dan menurunnya jumlah pelanggan.

Tapi dengan langkah koran memanfaatkan Facebook dan Google, hal itu membuat dua raksasa teknologi asal Amerika Serikat tersebut seolah tak memberi ruang bagi pihak lain dalam industri yang sama untuk bernafas. Kini, Facebook ataupun Google mengendalikan USD 0,70 dari setiap USD yang dibelanjakan untuk iklan digital.

BACA JUGA: Ketua Nasdem Dipolisikan Gara-Gara Status di FB Jangan Takut Sama Allah

Sisanya, USD 0,30 tersedot ke media lain penyedia iklan digital seperti Twitter, Snapchat, ataupun Verizon-AOL-Yahoo!. Sedangkan sejumlah perantara pemasangan iklan pun harus bersaing untuk mengantongi USD 0,01 atau sekitar Rp 130.

Ketidakseimbangan yang besar itu tak memberi ruang bagi perusahaan media untuk memiliki posisi tawar lebih kuat ketika harus bekerja dengan platform tersebut. Facebook dan Google jelas membutuhkan media dan konten untuk mengisi platform mereka.

BACA JUGA: Kapuspen TNI Klarifikasi Isu yang Mencatut Panglima TNI

Namun, saat Google dan Facebook menguasai saluran distribusi informasi penting, tentu saja kedua raksasa itu bisa dengan mudah mengantongi kesepakatan terbaik bagi mereka sendiri.

Dilema itu memang membuat penerbit surat kabar untuk melakukan hal yang tak lazim. Pekan ini, di Amerika Serikat ada News Media Alliance yang meminta kongres untuk ikut menjadi negosiator dalam menghadapi Google dan Facebook.

BACA JUGA: Sebar Hoaks Soal Penyerangan Mapolda Sumut, Surya Hardiyanto Diciduk Polisi

Padahal, News Media Alliance jelas merupakan kekuatan besar. Kelompok itu mewadahi lebih dari 2.000 koran termasuk New York Times, Wall Street Journal hingga Washington Post.

Tanpa campur tangan pemerintah, News Media Alliance akan sangat sulit menghadapi duopoli Google dan Facebook. Memang ironis, karena selama ini News Media Alliance getol menyuarakan kompetisi bebas.

Tapi, pada saat menghadapi kekuatan Google dan Facebook, ternyata News Media Alliance pun seolah tak berdaya. Tanpa restu pemerintah, News Media Alliance memang akan terbentur undang-undang antimonopoli.

Hanya saja, upaya News Media Alliance untuk membujuk Kongres AS bukanlah hal mudah. Saat ini Kongres AS dikuasai Partai Republik yang terlibat hubungan kurang baik dengan media.

Industri pers AS pun makin putus asa. Dalam sebuah tajuk rencana di Wall Street Journal edisi Minggu (9/7), CEO News Media Alliance CEO David Chavern mengatakan bahwa selain ancaman dari Google dan Facebook, Presiden AS Donald Trump pun tanpa henti mendelegitimasi dan melemahkan pers.

“Satu-satunya cara bagi penerbit untuk bisa menghadapi ancaman yang tak terelakkan ini adalah dengan bersatu,” tulis Chavern. Usulannya adalah menggunakan undang-undang antimonopoli untuk mengisolasi Google dan Facebook dari kekuatan pasar.

Sebagai rujukan adalah Uni Eropa yang pernah mendenda Google hingga USD 2,7 miliar atas dasar tuduhan penyalahgunaan penguasaan pasar. Merujuk pada opini Chavern, keputusan Uni Eropa biasanya bisa melintasi Atlantik dan diadopsi hingga AS.

Penerbit surat kabar memang menjadi pihak pertama yang menyadari perlunya berdamai di antara sesama kompetitor untuk menghadapi Google dan Facebook. Kini, perjanjian untuk berbagi iklan pun makin marak di kalangan penerbit koran di AS.

Mereka merasa perlu kompak untuk menghadapi musuh kelas berat, termasuk mengatur transparansi dalam pengitungan iklan digital, penempatan iklan di web, hingga bagaimana cara menghindari kecurangan. Marc Pritchard, chief marketing officer Procter & Gamble -perusahaan pengiklan terbesar dunia- pun menganggap masa-masa untuk memberikan umpan bagi iklan digital sudah berakhir.

“Ini saatnya untuk tumbuh. Ini saatnya untuk beraksi,” ujarnya dalam pertemuan Association of National Advertisers pada Januari lalu.

Sedangkan Google dan Facebook dianggap berbasa-basi dengan menjanjikan insentif untuk jurnalisme berkualitas sembari memberi konsesi kecil ke penerbit. Sebagai misal adalah Google yang akan memasang filter iklan pada Google Chrome yang membuat pembaca bisa membayar publikasi secara langsung ketimbang memblokir iklan.

“Kami tetap berkomitmen untuk membantu penerbit menghadapi tantangan dan peluang mereka," kata juru bicara Google.

Sedangkan Facebook juga sedang mengembangkan model subskripsi berbayar untuk layanan Instant Articles di situs jejaring sosial itu. Petinggi Facebook yang membidangi kerja sama pemberitaan, Campbell Brown menyatakan bahwa pihaknya berkomitmen untuk membantu mengembangkan jurnalisme berkualitas.

“Kami membuat kemajuan melalui pekerjaan kami dengan penerbit berita dan punya banyak hal untuk dilakukan,” ujarnya.

Karenanya, komitmen Google dan Facbook itu perlu diuji. Dan penerbit koran kini siap untuk mengujinya.(mashable/ara/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Sukses Paksa Google Bayar Pajak, Pemerintah Kejar Facebook


Redaktur & Reporter : Antoni

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler