Kisah Dani Pedrosa, Sempat Terancam Pensiun, Kini Siap Bikin Kejutan

Sabtu, 06 Februari 2016 – 08:40 WIB
Foto: AFP

jpnn.com - DANI Pedrosa sukses menjalani operasi arm-pump untuk ketiga kalinya tahun lalu. Kini, bintang Repsol Honda itu menjelma menjadi pembalap yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Performanya terus menanjak dan menjadi langganan podium, bahkan juara seri. Inilah kisah di balik kesuksesan itu.

--

BACA JUGA: Bintang Muenchen Mabuk-Mabukan

Awal musim lalu, setelah balapan perdana di Qatar, Dani Pedrosa mengaku sudah tak tahan lagi menahan sakit yang membebat lengan kanannya. Cedera arm-pump yang selama setahun dideritanya kumat. Kali ini yang paling parah.

Pada saat itulah Pedrosa menyatakan butuh istirahat dari balapan. Dia bahkan terancam pensiun dini karena sudah dua kali operasi arm-pump dijalaninya. 

BACA JUGA: 4 Poin Penting agar MotoGP Digelar di Indonesia

Operasi ketiga berisiko tinggi untuk gagal atau bahkan bisa berbuntut cacat. Hanya ada satu orang atlet yang melakukannya sampai tiga kali sebelum Pedrosa.

’’Tentu saja itu adalah momen paling sulit sepanjang karirku. Usiaku 29 tahun, masih muda,’’ kenangnya dalam sebuah wawancara dengan Motorsport. 

BACA JUGA: Kalimantan Utara Terancam tak Ikut PON 2016

Dokter ahli  bedah Angel Villamor di Madrid memberikan harapan, sekaligus keyakinan. Dia sendiri yang memimpin operasi 3 April tahun lalu. Operasi tersebut mengangkat otot fascias dan area di sekitarnya yang sudah mengalami kerusakan.

Hasilnya, sukses. Sebagai gantinya dia harus menepi dari sirkuit balap selama dua bulan untuk menjalani proses rehabilitasi. Buntutnya dia harus absen di tiga seri Amerika Serikat, Argentina, dan Spanyol. 

Setelah dinyatakan boleh membalap lagi Pedrosa seperti menemukan ritme balap terbaiknya. Lima podium dan dua kemenangan menjadi hasil yang ikut mengerek citra Honda di tengah dominasi Yamaha.

Motorsport punya kesempatan mendatangi klinik di wilayah Gracia, Barcelona dimana sampai saat ini Pedrosa masih melakoni terapi pemulihan otot. Di sana terdapat alat terapi bernama Physium Systems. Pedrosa datang ke klinik Salo Darder Institute sebelum dan sesudah balapan untuk mendapatkan perawatan pada ototnya. Itu dia lakukan sejak 27 April.

Jordi Salo, penemu alat tersebut, menjelaskan bagaimana mesin yang mirip alat bekam canggih itu bekerja. 

’’Cara kerjanya adalah memobilisasi jaringan lunak pada bekas luka pasca operasi menjadi lebih lentur dan cara ini meningkatkan tekanan pada jaringan neurovascular dan sistem otot, untuk mereduksi rasa sakit (pada bekas operasi) dan peradangan,’’ paparnya. 

Sebelum menemukan klinik dan teknologi mesin tersebut, Pedrosa benar-benar berada “di bukit yang gelap”. Otot lengannya tumbuh dengan tidak normal. Terjadi kecenderungan pertumbuhan jaringan ikat yang berlebihan. Terutama terjadi ketika terjadi banyak tekanan dan kelelahan fisik. 

Kondisi tersebut berdampak pada hilangnya sensitifitas pada lengannya. Rasanya seperti kebas tapi lebih parah lagi. Bahkan kondisinya memburuk dan tidak bisa ditoleransi setiap kali balapan akan berakhir. 

Penggemar MotoGP terang-terangan melihat perubahan pada gaya membalap Pedrosa, khususnya jelang akhir musim. Dia menjadi lebih agresif di Aragon dimana dia berduel dengan Valentino Rossi dan memenanginya. Dia juga menapaki podium tertinggi di dua di antara empat seri terakhir (Jepang dan Malaysia).  

Di Valencia, dia sukses mengepras selisih dua detik hanya dalam enam lap dari sang juara Jorge Lorenzo. Semuanya terjadi hanya dalam tempo enam bulan pasca operasi yang mengancam karir balapnya itu. 

’’Aku sadar (terapi) itu berhasil,’’ terang Pedrosa kepada Motorsport. Melihat kemajuan itu kini Pedrosa juga menggunakan alat yang sama pada bagian tubuh lainnya, misalnya bahu. Bagian tersebut juga sering mengalami tekanan berat saat menggeber motor berkubikasi 1000 cc tersebut.

Menurutnya, jelas terjadi kemajuan karena kondisinya saat ini lebih nyaman di atas motor. Apalagi jika mengingat, secara fisik, Pedrosa kelemahan untuk menjadi pembalap di kelas premium. 

Pedrosa punya postur 158 sentimeter dan berat 55 kilogram. Sebenarnya kondisi fisik tersebut lebih ideal untuk bertarung di kelas di bawahnya. Karena itu pula dia merebut juara dunia dua kali di kelas 250 cc dan sekali di nomor 125cc. 

Namun di MotoGP dia belum pernah mencicipi juara dunia. Dengan kemajuan pesat yang dicapainya saat ini, pembalap Spanyol itu siap menyongsong musim baru dan membuat kejutan.(cak)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Astaga! Atlet Ini Tembak Kepalanya Sendiri


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler