Kisah Jamilah, Janda Empat Anak di Depan Mozes Kilangin

Kamis, 27 April 2017 – 05:31 WIB
Jamilah dan dua dari empat anaknya. Foto: Yoshi Ohee/Radar Timika

jpnn.com, TIMIKA - Suaminya telah meninggal dua tahun yang lalu. Namun Jamilah Yauryaan tak patah arang. Dia tabah berusaha tetap tangguh, semangat, demi menghidupi keempat anaknya. Wanita paruh baya itu sehari-hari menjual jagung bakar. Tak ada usaha sampingan lain.

Yoshi Ohee/Radar Timika

BACA JUGA: Diadang Warga, Sembunyi di Toilet, Dievakuasi 6 Polisi

Sebelum meninggal, suaminya bekerja di salah satu bank di Timika, sehingga bisa memenuhi kehidupan sehari-hari untuk Jamilah dan keempat anak mereka. Namun penyakit yang diderita sang suami, kurang lebih selama tiga tahun, telah merenggut nyawa suami Jamilah 2015 silam. Satu tahun sudah berjalan, Jamilah harus menafkahi keempat anaknya, hasil pernikahan dirinya dengan sang suami.

Keempat anak Jamilah, saat ini masih duduk di bangku pendidikan di Timika. Yakni dari tingkat SMA hingga SD, dua anak laki-laki dan dua anak perempuan yang dimiliki Jamilah.

Abdul adalah anak yang tua, saat ini masih duduk di bangku sekolah SMK, Khosim anak kedua Jamilah dan Siti Haja anak ketiga, mereka berdua masih duduk di bangku SMP.

Dan yang terakhir Siti Hawa, anak bontot Jamilah yang akan mengikuti Ujian Nasional di tingkat Sekolah Dasar. Keempat anak Jamilah, bersekolah di beberapa sekolah yang tersebar di Timika.

Jamilah kini seorang diri, harus bekerja keras untuk menghidupi keempat anaknya. Baik kebutuhan pendidikan, makan, biaya kontrak rumah dan biaya hidup lainnya.

Usaha jagung bakar telah dia tekuni kurang lebih selama tiga tahun terakhir. Setiap hari dirinya memasang tenda, di pinggiran Jalan Ahmad Yani tepatnya di depan Bandara Mozes Kilangin.

Bermodalkan semangat, dirinya harus berjuang untuk menghidupi keempat anaknya. Selama tiga tahun menjual jagung bakar, suka duka dijalani Jamilah dengan lapang dada. Termasuk soal urusan izin berjualan di wilayah PT Freport Indonesia. Pada 2016 lalu, dia dan sejumlah teman pedagang lainnya dibubarkan oleh Satpol PP Mimika. "Jagung dan alat bakar saya dibawa,”ujarnya.

Barang dagangan Jamilah diboyong Satpol PP dan dibawa ke Kantor Bupati Mimika. Namun keesokan harinya, mereka diperbolehkan untuk mengambilnya kembali.

Sempat risau hati Jamilah, karena perlengkapan untuk mengais rejeki telah disita oleh pihak berwajib. Namun setelah didapati kembali, dirinya hanya mengucap syukur kepada Tuhan. "Setelah itu, kami didata,”ucapnya.

Setelah didata, hanya kurang lebih 12 pedagang jagung bakar yang diperbolehkan berjualan di wilayah tersebut. Termasuk Jamilah dan sejumlah pedagang dengan latar belakang keluarga yang kurang mampu.

Setiap hari berjualan, Jamilah mengeluarkan modal sebanyak Rp 100 ribu. Jika lagi ramai, Jamilah bisa mendapatkan keuntungan sebesar Rpp 500 ribu hingga Rp 600 ribu. Namun jika datang sepi pembeli dan apabila turun hujan, hanya Rp 100 ribu yang dia dapatkan. “Kalau hari Minggu saja yang paling ramai,” katanya.

Jamilah meracik bumbu jagung bakar sendiri dengan dua rasa, manis dan pedas manis. Yang paling banyak diminati yaitu jagung bakar pedas manis.

Dengan mencampur berbagai rempah-rempah, seperti cabai rawit, cabai keriting, gula pasir, gula merah, jeruk nipis, garam, saus tomat. Kemudian blue band dicairkan dan semua rempah-rempah dimasak bersama blue band. Itu bumbu andalan dari Jamilah. Jika pelangggan minta tambahan pedas tinggal ditambahkan banyak cabai. Namun untuk rasa manis cabai rawit dipakai secukupnya. 

Dari penghasilan yang dia dapatkan, Jamilah mampu menyekolahkan keempat anaknya, membayar rumah kontrakan dua petak, mengambil kredit motor dan biaya hidup lainnya. "Alhamdulilah, dari penghasilan ini kami hidup,” ucapnya bersyukur. (yoshi ohee/jpnn)


Redaktur & Reporter : Adek

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler