Kisah Jumaidi, Bocah Lompat dari Pesawat Jatuh tapi Selamat

Rabu, 15 Agustus 2018 – 00:36 WIB
Jumaidi korban selamat dari kecelakaan pesawat di Oksibil, Pegunungan Bintang, Papua, dirawat di RS Bhayangkara, Kotaraja, Senin (13/8). Foto: Gamel A Naser/Cendrawasih Pos

jpnn.com - Jumaidi, bocah usia 12 tahun, selamat dari pesawat yang jatuh menabrak pohon di Oksibil, Kabupaten Pengunungan Bintang, Papua, Sabtu (11/8) lalu. Ia satu-satunya korban selamat dari kecelakaan pesawat tersebut.

Laporan Gamel A Naser – Jayapura

BACA JUGA: Polda Papua Baru Identifkasi 4 Korban Pesawat Dimonim Air

Sangat sulit mendapatkan orang yang hidup dari kecelakaan pesawat. Untuk Papua, selama ini baru dua kali kejadian pesawat jatuh namun korban selamat. Yang pertama adalah kejadian di Puncak Jaya beberapa tahun lalu dimana sebuat pesawat perintis hancur setelah menyenggol punggung gunung yang lokasinya masih disekitar Bandara Mulia, Kabupaten Puncak Jaya. Dari kejadian ini salah satu penumpang selamat meski kini harus duduk di kursi roda.

Kejadian kedua dialami Jumaidi, bocah 12 tahun yang juga selamat setelah pesawat yang ditumpangi hancur di kawasan pegunungan Kabupaten Pegunungan Bintang.

BACA JUGA: Evakuasi Korban Pesawat PK-HVQ, Bandara Oksibil Ditutup

Ia selamat setelah sang ayah, Jamaludin berinisiatif melompat bersama sang anak keluar dari pesawat saat akan jatuh. Pintu pesawat dibuka dan mereka melompat.

Namun, sang ayah yang keseharian bekerja serabutan akhirnya tewas setelah tubuhkan menghantam pepohonan. Jumaidi sendiri selamat meski mengalami patah bahu. Ia disebut sebagai anak ajaib karena bisa lolos dari maut.

BACA JUGA: Pesawat PK-HVQ Ditemukan Hancur di Oksibil, 8 Orang Tewas

"Tuhan masih sayang dia, Tuhan masih berkehendak dia hidup dan kalau sudah begitu siapa yang mau melawan," kata Mansur, pria yang sudah dianggap sebagai om atau paman oleh Jumaidi kepada Cenderawasih Pos (Jawa Pos Group) di depan ruang rawat inap Jumaidi di RS Bhayangkara Kotaraja, Senin (13/8).

Yang mendampingi Jumaidi cukup banyak, namun hanya 1 dari keluarga orang tuanya. Semua hanya kerabat. Sang ibu sendiri belum bisa mendampingi karena tak ada penerbangan akibat suaca buruk.

"Ibunya tadi sudah di bandara Oksibil, Pegunungan Bintang, mau ke Jayapura tapi cuaca buruk sehingga batal," kata Mansur. Jumaidi sendiri anak bungsu dari tiga bersaudara. Ia baru duduk di kelas 1 SMP sedangkan kakaknya yang nomor dua masih sekolah di Oksibil dan yang paling tua kerja di pelayaran. Sang ibu sendiri bekerja sebagai ibu rumah tangga dan berjualan nasi kuning.

Yang terlihat Senin kemarin kondisi Jumaidi mulai membaik. Dia bisa berkomunikasi seperti biasa meski HB-nya sempat turun dan masih mengerang kesakitan akibat balutan perban di bahu kanannya. Yang terdengar dari mulutnya hanyalah kalimat lapar dan haus.

Maklum, setelah kejadian ia dievakuasi hingga ke Jayapura, dengan kondisi luka yang dialami pihak rumah sakit meminta ia berpuasa untuk diobservasi. Sang paman atau adik dari almarhum Jamaludin bernama Herman menyebut jika keponakannya ini bertahan hanya dengan 2 buah apel.

"Ia hanya memakan apel 2 biji yang ditemukan di bangkai pesawat dan dari apel itu ia memilih menunggu," kata Herman.

Jumaidi sendiri ia sempat bermalam selama 4 hari di rumah Herman, kemudian pamitan ke Jayapura. Kata Herman, Jumaidi bisa selamat karena melompat dan terjatuh di tanah, sedangkan sang ayah sempat terhantam di pepohonan dan mendarat di bebatuan.

"Anak ini (Jumaidi) posisinya dengan jenasah ayahnya hanya 5 meter tapi tidak bisa berbuat apa - apa juga karena kondisinya tidak memungkinkan," bebernya.

Namun yang sempat diingat dan diceritakan adalah mereka lompat dengan posisi masih di atas pohon. "Ia lompat lebih tinggi dari pohon jadi bisa dibayangkan tingginya pohon di hutan. Mereka lompat sebelum pesawat hancur," tambah pria bertubuh tambun ini.

Jumaidi sendiri sempat hendak menolong salah satu penumpang lain yang hidup tapi sulit dilakukan karena tangan patah.

"Ia hanya mencari air di puing pesawat dan menunggu evakuasi," imbuhnya. Saat ditemui di ruangannya, Jumaidi terlihat menahan sakit dan mengeluh. Ia mengaku kelaparan. Bahkan ia mempertanyakan langsung ke Karumkit, AKBP Heri Budiono kapan ia bisa makan.

"Lapar dok, mau makan, lapar sekali ini," ucapnya polos. Ia juga bertanya kepada beberapa kerabat yang menjaganya apakah besok kalau sudah diijinkan, ia boleh memakan nasi goreng. Namun menurut AKBP Heri, pihak rumah sakit masih akan melakukan observasi hingga esok.

"Sudah di CT-Scan dan tidak ada pendarahan hebat namun saat ini masih diobservasi. Pasien dipuasakan dan jika cenderung terjadi pendarahan yang banyak maka harus dioperasi," beber Heri. Ia juga membenarkan bagian tulang panggul Jumaidi yang terjadi peregangan.

"Untungnya kurang dari 2 Cm sehingga tidak dilakukan operasi, kecuali lebih dari 2 Cm," tambahnya.

Ditambahkan bahwa saat ini masih dalam agenda penanganan jenasah yakni fase DVI yang telah dimulai dari lokasi kejadian. Setelah itu dilanjutkan fase kedua dilakukan identifikasi jenasah melalui data primer (sidik jari, gigi dan DNA) dan sekunder (property/pakaian yang digunakan termasuk riwayat medis).

Sementara Bupati Pegunungan Bintang, Costan Otemka usai membesuk Jumaidi menganggap bahwa yang dialami bocah SMP ini adalah satu keajaiban.

Costan sempat tersenyum saat keluar dari ruangan karena merasa hampir tak percaya jika ada yang bisa selamat. Ia berkeinginan membantu keluarga duka. "Untuk santunan saya pikir pasti apalagi ayahnya meninggal dan ayahnya kerja di Pegunungan Bintang juga," akunya.

Ini dianggap kejadian luar biasa dan ia senang ada yang bisa selamat. "Saya sudah mendengar tentang apa yang terjadi. Ini peristiwa yang mengharukan. Saya datang karena senang dan ia harus pulih dan kembali sehat. Saya lihat ia baik-baik namun butuh perawatan dan semoga tak terlalu lama," lanjut Costan.

Untuk Pegunungan Bintang sendiri kata bupati, ini yang pertama kali ada penumpang pesawat jatuh dan selamat. “Ia menyampaikan sempat loncat bersama ayahnya namun ayahnya yang terkena pohon,” jelas Costan.

Di sini Costan juga menyinggung soal keputusan pilot yang memilih terbang sementara cuaca buruk. "Ini pelajaran bagi penerbangan perintis agar kalau cuaca tidak mendukung maka jangan memaksakan. Yang saya tahu saat itu cuaca buruk, pertengahan sebelum Oksibil sudah buruk dan seharusnya kembali, jangan dipaksakan," pintanya. (ade)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pesawat Dinonim Air Nahas, Delapan Orang Tewas


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler