Kisah Nadia Nadim, Korban Taliban yang Kini Jadi Andalan Timnas Denmark

Rabu, 28 Juli 2021 – 12:47 WIB
Nadia Nadim pesepak bola andalan timnas Denmark yang memiliki segudang pengalaman kelam di masa lalu. Foto: (FAZ)

jpnn.com, KOPENHAGEN - Di dunia sepak bola nama Nadia Nadim dikenal sebagai pemain internasional Denmark yang cukup produktif dengan koleksi 98 caps.

Ia juga memainkan peranan penting saat membantu timnya saat itu, Paris Saint-Germain mengangkat trofi Divisi 1 pertama kali dalam sejarah mereka. Nadia memiliki kontribusi 18 gol dari 27 laga yang ia mainkan.

BACA JUGA: 5 Pesepak Bola Termahal di Olimpiade Tokyo 2020, Cek di Sini

Perempuan berusia 33 tahun itu diakui sebagai salah satu pesepak bola wanita terbaik di dunia dengan berbagai reputasinya di level klub maupun timnas.

Namun, jauh sebelum Nadia menjadi bintang lapangan hijau seperti sekarang, ia telah melalui serangkaian kesulitan luar biasa yang bahkan mengancam nyawanya.

BACA JUGA: Apa Saja Kualitas Raphael Varane yang Bikin MU Jatuh Cinta?

Kembali pada 2000 silam, ketika Nadia masih berusia 11 tahun. Ia harus menyaksikan ayahnya diculik oleh segerombolan pemberontak Taliban.

"Untuk waktu yang lama saya sempat berpikir jika ayah akan muncul," ujarnya kepada SportBible.

Akan tetapi, takdir berkata lain, sang ayah Rabbani Nadim yang juga seorang Jenderal Angkatan Darat dieksekusi oleh Taliban yang memang sedang berkonflik dengan Tentara Nasional Afganistan.

Nadia Nadiem menghabiskan masa kecilnya dengan situasi horor, mencekam, dan penuh ketakutan. Ia bahkan mendengar sendiri bagaimana perlakuan keji Taliban kepada ayahnya.

"Hal-hal yang mereka (Taliban, red) lakukan gila. Saya tidak melihat semuanya karena ibu melarang kami untuk ke luar, tapi saya bisa mendengar apa yang sedang terjadi,"

"Ketika Taliban ingin memperoleh kekuasaan di negara kami, salah satu hal yang mereka lakukan ialah membunuh orang-orang tertinggi di pemerintah, dan ayah saya salah satu korbannya," ujar Nadia.

Melarikan diri dari Afganistan

Dengan situasi berkecamuk di negara asalnya itu, ibu Nadia harus menjual barang-barang berharga miliknya. Uang hasil penjualan ini nantinya digunakan untuk mengurus paspor dan visa palsu kepada seorang penyelendup.

Awalnya mereka berencana melarikan diri ke Inggris. Namun, takdir membawa mereka secara tak sengaja ke Sandholm, Denmark. Dalam kondisi lelah setelah perjalanan berhari-hari akhirnya mereka memutuskan menetap di sana.

Di situlah momen titik balik bagi kehidupan Nadia dan keluarganya. Mereka memulai kehidupan baru di Denmark, dan Nadia mulai mengasah kemampuan sepak bolanya.

Saat itu, ia merintis karier profesionalnya bersama klub B52 Aalborg. Kemudian, ia sempat memperkuat IK Kovbakken dan Fortuna Bjorring sebelum pindah ke Amerika Serikat.

Selepas itu, karier Nadia seakan tak terbendung. Tercatat sejumlah klub besar pernah ia bela seperti Manchester City dan Paris Saint-Germain. Saat ini perempuan dengan tinggi badan 175 cm itu kembali memperkuat tim Amerika Serikat, Racing Louisville FC.

Dengan segala pengalaman masa lalunya yang kelam, Nadia kini aktif mengadvokasi kesetaraan gender dan membantu pengungsi dari seluruh dunia.(sportbible/mcr15/jpnn)


Redaktur & Reporter : Dhiya Muhammad El-Labib

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler