KLHK: SVLK jadi Bekal untuk Indonesia Membuka Akses Pasar Baru

Senin, 01 Januari 2024 – 10:13 WIB
Dirjen Pengelolaan Hutan Lestari KLHK Agus Justianto. Foto: Romaida/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengumumkan bahwa ekspor produk hasil hutan terus meningkat dan mencapai target yang dicanangkannya.

KLHK menargetkan ekspor produk hasil hutan pada 2023 sebesar 10 miliar dolar AS.

BACA JUGA: PLN Indonesia Power Raih 13 Proper Emas dari KLHK

Salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja ekspor hasil hutan adalah adanya keandalan Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK).

Sistem tersebut telah mendapat kepercayaan global untuk menjamin produk kayu yang dibeli bersumber dari pengelolaan hutan secara lestari.

BACA JUGA: MHU-MMSGI Raih PROPER Hijau 2023 dari KLHK

"Hal itu juga dibuktikan Indonesia menempati ranking tertinggi pada Global Timber Index (GTI), platform yang mempromosikan perdagangan kayu legal dan berkelanjutan yang dipublikasikan oleh Organisasi Kayu Tropis Internasional (ITTO)," kata Pelaksana Tugas Dirjen Pengelolaan Hutan Produksi Lestari KLHK Agus Justianto dalam siaran persnya, Senin (1/1).

Sementara itu, Direktur Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hutan KLHK, Krisdianto menjelaskan penguatan SVLK sangat strategis ketika isu legalitas dan kelestarian produk kayu semakin menjadi perhatian dunia.

BACA JUGA: Menjelang Akhir Tahun, Chandra Asri Group Raih 2 Predikat dari KLHK

Menurut dia, banyak negara membuat regulasi untuk memastikan produk kayu yang masuk bersumber dari pengelolaan hutan lestari dan bukan dari deforestasi.

Setelah Uni Eropa memberlakukan ketentuan anti deforestasi (EUDR), kini tren regulasi bebas deforestasi juga muncul di pasar-pasar kunci, seperti Amerika Serikat dengan US Forest Act 2023, Inggris (UK Forest Risk Commodities), dan Jepang (Japan Clean Wood Act).

Untuk menghadapi tren tersebut, kata Krisdianto, penguatan SVLK terus dilakukan.

Saat ini SVLK telah dilengkapi dengan kriteria dan indikator sesuai tuntutan pasar global.

Salah satunya adalah keterlacakan melalui penyampaian titik koordinat lokasi penebangan, pengolahan, dan pemasaran produk kayu (geo-lokasi).

Untuk semakin memperkuat legalitas dan keterlacakan bahan baku kayu, dilakukan interkoneksi sistem informasi.

Krisdianto melanjutkan dalam meningkatkan keberterimaan SVLK kampanye positif SVLK dan soft diplomacy juga dilakukan bersamaan dengan promosi dan peningkatan kerja sama internasional.

“Selain untuk pasar-pasar kunci seperti Uni Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat, SVLK juga menjadi bekal untuk Indonesia membuka akses pasar baru,” kata Krisdianto.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Indroyono Soesilo menyatakan pihaknya mendukung penuh upaya promosi dan diplomasi SVLK.

Dia mengatakan, SVLK terbukti meningkatkan akuntabilitas dan transparansi yang berdampak pada perbaikan tata kelola hutan di Indonesia

"Dengan SVLK kami berhasil menekan pembalakan liar sampai titik terendah dan memperlambat laju deforestasi” kata Indroyono.

Indroyono mengungkapkan promosi dan kerja sama dengan asosiasi-asosiasi importir kayu di Negara-negara tujuan saat ini terus dilakukan dengan fasilitasi dari Kedutaan Besar RI di negara tujuan ekspor. (ddy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... KLHK Gelar Tanam Pohon Serentak di Indonesia Menjelang Pergantian Tahun


Redaktur & Reporter : Dedi Sofian

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler