Komisi IV DPR Apresiasi Langkah Cepat Kementan Terkait Harga Kedelai

Minggu, 10 Januari 2021 – 23:14 WIB
Anggota Komisi IV DPR RI Andi Akmal Pasluddin. Foto: Humas DPR RI

jpnn.com, JAKARTA BARAT - Anggota Komisi IV DPR RI Andi Akmal Pasluddin mengapresiasi langkah cepat Kementerian Pertanian (Kementan) menstabilkan pasokan dan harga kedelai di sejumlah daerah di Indonesia.

Menurut Andi Akmal, langkah yang diambil Kementan tepat karena menunjukkan pemerintah hadir di tengah-tengah kesulitan pedagang, perajin dan para petani kedelai di seluruh Indonesia.

BACA JUGA: Harga Kedelai tak Stabil, Mentan Syahrul Yasin Limpo Langsung Lakukan Ini

"Saya kira langkah taktis jangka pendek yang dilakukan oleh Kementan perlu diapresiasi dan didukung oleh semua pihak," kata Andi Akmal,  Minggu (10/1).

Namun demikian, Andi Akmal  menyarankan Kementan agar melakukan langkah terencana dan terukur untuk meningkatkan produksi dengan mengintensifikasi dan mengekstensifikasi kedelai lokal.

BACA JUGA: Mentan SYL Janji Lipat Gandakan Produksi Kedelai Nasional pada 2021

Menurut dia, dengan upaya tersebut Indonesia mampu mengurangi ketergantungan impor.

"Segera lakukan intensifikasi dan ekstensifikasi kedelai lokal di daerah pengembangan, sehingga bisa dihitung dan dipastikan jumlah produksi," ungkapnya.

Menurut Andi, Kementan sejauh ini sudah berupaya memperbaiki tata niaga dan pengawasan impor melalui unit-unit kerja di seluruh pintu keluar masuk pengiriman barang.

Dengan langkah tersebut, Andi berharap tidak ada lagi spekulan yang bermain dan meresahkan perajin tahu tempe.

"Yang pasti ke depan harus ada harga pembelian pemerintah (HPP) kedelai sesuai yang ditetapkan pemerintah dengan memberikan kepastian dan memberikan keuntungan kepada para petani," tutupnya.

Sebelumnya Kementan melalui Badan Ketahanan Pangan terus mendorong gerakan stabilisasi pasokan dan harga kedelai di sejumlah daerah, setelah resmi diluncurkan oleh Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo di Jakarta.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementan Agung Hendriadi menjelaskan dalam 100 hari pertama Kementan memastikan ketersediaan kedelai dan stabilitas harga agar pengrajin tempe dan tahu tetap berproduksi.

Mekanisme penyaluran dilakukan dengan menggandeng asosiasi importir yang menjual ke pengrajin dengan harga kedelai Rp 8.500 per kilogram.

"Harapannya para perajin ini bisa tetap berproduksi, memang ada kenaikan, dulu harga kedelai Rp 7.000 per kilogram, kemudian naik sampai Rp 9.000 per kilogram bahkan lebih, dan kini disepakati menjadi Rp 8.500 per kilogram," katanya.

Gerakan stabilisasi ini sesuai arahan Presiden Jokowi kepada Mentan Syahrul.

Selain langkah cepat dalam 100 hari untuk stabilisasi pasokan dan harga kedelai, juga diikuti dengan upaya peningkatan produksi dan ketersediaan kedelai dalam negeri.

Sehingga untuk selanjutnya kebutuhan kedelai dapat disuplai secara mandiri.

Agung mengatakan Kementan juga akan menggenjot produksi kedelai lokal serta menjadikan kedelai sebagai suatu komoditas yang terus dimonitor baik ketersediaan dan harganya.

Menurut dia, harga jual kedelai dari importir ke perajin sebesar Rp 8.500 per kilogram menjadi suatu kesepakatan dalam 100 hari ke depan.

"Kenapa 100 hari, karena dalam 100 hari ke depan kami sedang mempersiapkan benih, kami tahu bahwa importir masih punya stok kedelai dan ini bisa kami gunakan dalam 100 hari ke depan," tutupnya. (*/jpnn)

Yuk, Simak Juga Video ini!


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler