Konflik Internal sejak 2014 Tak Kunjung Usai, Golkar Masih Bertahan

Jumat, 27 September 2019 – 22:47 WIB
Bendera Partai Golkar. Foto: Ricardo/JPNN.Com

jpnn.com, JAKARTA - Direktur Eksekutif Indonesia Political Studies (IPS) Alfarisi Thalib menduga konflik di internal Partai Golkar yang terjadi di Pemilu 2014 lalu, masih berlangsung hingga saat ini.

Meski dengan intensitas yang berbeda, faksi-faksi di dalam partai berlambang beringin masih bersitegang. Kelompok kepentingan pun masih saling menegangkan urat leher.

BACA JUGA: Airlangga Hartarto Memang Layak Disebut Pentolan Golkar Putih

Meski konflik datang silih berganti, Alfarisi melihat Golkar tetap tumbuh rindang dan tidak mengalami turbulensi. Dalam proses kaderasi pun partai ini justru terjadi surplus kader-kader terbaik.

"Beberapa hal yang membuat Golkar imun terhadap berbagai persoalan antara lain, partai ini merupakan partai tengah, tidak kiri juga tidak kanan, melainkan almanzilah bainal manzilatain," ujar Alfarisi di Jakarta, Jumat (27/9).

BACA JUGA: Ridwan Hisjam: Saatnya Reformasi Golkar Jilid II

Menurut Alfarisi, konsep yang dimaksud membuat Golkar sangat fleksibel, dapat dengan cepat melakukan penyesuaian diri terhadap kondisi sosial politik yang dihadapi, dan memiliki banyak jalan alternatif untuk keluar dari berbagai kemelut.

Kekuatan Golkar lainnya menurut Alfarisi, tidak bergantung pada satu individu tertentu. Bahkan tanpa ketua umum pun, proses politik Partai Golkar bisa berjalan.

Karena yang memiliki kekuasaan tertinggi bukan personal, melainkan konstitusi partai, AD/ART, tata kerja partai dan hasil rapat pleno.

"Proses pengambilan kebijakan partai secara konstitusional bukan berdasarkan kemauan ketua umum, bukan pula atas perintah personal tertentu, melainkan diambil secara kolektif kolegial melalui rapat pleno sebagai forum tertinggi dalam mengambillan keputusan partai," ucapnya.

Dengan sistem yang telah terbentuk, kata Alfarisi, maka siapa pun yang tidak menjalankan konstitusi partai dan menjadikan dirinya secara individu sebagai pusat politik dan hukum partai, serta mengabaikan sistem dan konstitusi partai, secara perlahan sedang berupaya menyusup lalu menghancurkan partai.

Kelebihan lain, Golkar menurut Alfarisi, juga telah menempatkan sistem, konstitusi dan ideologi partai sebagai panglima tertinggi.

Ketiga hal inilah yang mengatur, mengarahkan dan membentuk kebijakan politik kebangsaan, pilihan politik praktis, langkah politik koalisi, dan strategi lobi yang dibuat.

"Walaupun banyak orang kecewa pada proses politik Golkar, lalu mendirikan partai baru, itu tidak membuat suara partai tergerus. Justru membuat Golkar semakin kuat, tubuh partai Golkar tetap terus tumbuh merindangi seluruh proses politik dan demokratisasi bangsa Indonesia," pungkas Alfarisi.(gir/jpnn)


Redaktur & Reporter : Ken Girsang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler