Konspirasi Grup WhatsApp Terungkap, Menlu Australia Mundur

Senin, 27 Agustus 2018 – 16:09 WIB
Julie Bishop mundur sebagai menteri luar negeri Australia. Foto: Reuters

jpnn.com, CANBERRA - Menlu Australia Julie Bishop kesal bukan kepalang setelah melihat pesan grup WhatsApp rahasia milik koleganya. Dia pun mundur dari jabatannya.

Namun, politikus Partai Liberal itu menegaskan masih mempertahankan kursi parlemennya hingga pemilu berikutnya pada 2019. ’’Saya akan bertahan sebagai suara kuat untuk masyarakat Australia Barat,’’ ungkap perempuan 62 tahun tersebut lewat BBC.

BACA JUGA: Sayangkan Warning Australia soal Rencana Teroris di Surabaya

Bishop memang tak mau terbuka soal keputusannya. Namun, banyak media yang memprediksi bahwa mundurnya Bishop dipicu pesan grup WhatsApp yang bocor.

Pesan tersebut menjelaskan mengapa Julie kalah jauh pada polling Jumat lalu (24/8). Dalam pertarungan segi tiga itu, Bishop hanya memperoleh 11 suara. Sedangkan Scott Morisson, kini PM Australia, menang dengan meraih 45 suara. Selisih lima suara dari dukungan untuk Peter Dutton.

BACA JUGA: Dikeroyok Teman Sendiri, Karier PM Turnbull Segera Tamat

Grup messenger yang bernama Friends for Stability itu diisi anggota parlemen Liberal. Antara lain, Paul Fletcher, Kelly O’Dwyer, Julia Banks, Julian Lesser, Lucy Gichuhi, Simon Birmingham, Scott Ryan, Christopher Pyne, dan Craig Laundy. Grup tersebut membahas rencana polling untuk mendukung Scott Morisson sebagai perdana menteri berikutnya.

’’(Senator Mathias) Cormann, kabarnya, mau memberikan dukungan Australia Barat ke Julie Bishop di ronde pertama. Kalian perlu tahu kalau ini aksi tipu,’’ ujar Paul Flecther dalam rekam percakapan grup tersebut sebagaimana dikutip The Guardian.

BACA JUGA: Turnbull Digoyang dari Dalam

Dia mengatakan bahwa Cormann hanya akan mendukung Julie di ronde pertama. Setelah Morisson kalah, suara tersebut bakal berpindah ke Dutton untuk memastikan kemenangan. Karena itu, mereka menyusun rencana untuk tidak memilih Julie mulai ronde pertama. (bil/c4/dos)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kamp Nauru, Neraka Bocah Imigran di Pasifik Selatan


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler