Korut Semakin Agresif, Tiongkok pun Resah

Jumat, 14 April 2017 – 09:58 WIB
Kim Jong Un menyampaikan pidato tahun baru 2017. Foto: Reuters

jpnn.com - Ketegangan di Semenanjung Korea tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Setelah AS menempatkan kapal perangnya di perairan sekitar Korea, Korut segera menggertak. Mereka mengaku siap melancarkan serangan jika terus-menerus ditekan.

Ancaman itu, sepertinya, tidak main-main. Pencitraan satelit menunjukkan adanya perubahan aktivitas di wilayah uji coba nuklir Korut di Punggye-ri, Kilju County, Provinsi North Hamgyong.

BACA JUGA: Korea Utara: Kami Akan Melawan dengan Nuklir!

”Aktivitas selama enam pekan itu mengindikasikan persiapan final untuk melakukan tes nuklir,” ujar pakar militer dan program misil Korut Joseph Bermudez kepada CNN kemarin (13/4). Dia memimpin 38 North, lembaga yang mengawasi pergerakan militer Korut.

Tahun lalu mereka merilis laporan tentang kemungkinan adanya uji coba nuklir di negara yang dipimpin Kim Jong-un tersebut. Ternyata benar. Pada September 2016, Korut melakukan uji coba nuklir.

BACA JUGA: Awas! Amerika Serikat Siagakan Unit Tempur

Menurut Bermudez, kegiatan di Punggye-ri saat ini hampir sama dengan momen sebelum peluncuran nuklir pada tahun-tahun sebelumnya. Sejak akhir Februari lalu, peralatan-peralatan baru berdatangan.

Ada peningkatan aktivitas di pusat komando dan penggalian tanah serta aliran air yang dipompa dari area pintu masuk ke wilayah uji coba di bawah tanah.

BACA JUGA: Jenazah Kim Jong-nam OTW ke Pyongyang

Pada gambar satelit terbaru yang mereka dapatkan, di Punggye-ri, tidak lagi ada penggalian. Air juga berhenti dipompa. ”Itu mengindikasikan bahwa sebentar lagi akan dilakukan uji coba,” tegasnya. Jika benar, itu menjadi uji coba keenam.

Selama ini Korut lima kali melakukan uji coba program nuklirnya. Yaitu, Oktober 2006, Mei 2009, Februari 2013, serta Januari dan September 2016. Tiga uji coba terakhir dilakukan saat periode kepemimpinan Jong-un.

Putra mendiang Kim Jong-il tersebut memang sangat berambisi mengembangkan kemampuan militer negaranya. Korut meyakini bahwa satu-satunya cara untuk mencegah Paman Sam menyerang adalah dengan memiliki senjata nuklir.

Bahkan, rezim Kim Jong-un berulang-ulang menyatakan bahwa seandainya Libia atau Iraq memiliki senjata nuklir, AS tidak akan menyerang dua negara tersebut. Selain itu, senjata pemusnah masal tersebut diyakini bisa membuat rezim Jong-un tak tergoyahkan.

Bermudez menambahkan, 15 April di Korut biasa diperingati sebagai Day of the Sun. Itu adalah peringatan hari lahir pendiri Korut Kim Il-sung. Pyongyang biasanya unjuk kekuatan dengan parade militer maupun uji coba senjata sekitar tanggal tersebut.

Namun, belum pernah ada uji coba nuklir yang dilakukan pada tanggal sakral bagi penduduk Korut itu. ”Semua bergantung satu orang dan itu adalah Kim Jong-un. Tidak ada orang lain yang akan membuat keputusan nuklir itu diluncurkan atau tidak,” tegasnya.

Bisa jadi, Korut bakal menguji coba senjata nuklirnya sebagai bentuk unjuk kekuatan terhadap AS. Sebab, pekan ini Donald Trump mengirim kapal induk USS Carl Vinson ke Samudera Pasifik wilayah barat.

Itu adalah perairan yang membatasi antara Korut dan Korea Selatan (Korsel). Pengiriman kapal induk kelas Nimitz tersebut membuat Kim Jong-un berang dan mengancam akan menyerang balik jika Washington mencari gara-gara.

Sementara itu, pada hari yang sama dengan paparan Bermudez, Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe menyatakan bahwa Korut memiliki kemampuan untuk meluncurkan hulu ledak misil yang berisi gas sarin.

Gas yang menyerang sistem syaraf tersebut pernah digunakan kelompok aliran sesat Aum Supreme Truth di kereta bawah tanah Tokyo pada 1995.

Saat itu 13 orang tewas dan 6 ribu orang lainnya harus dirawat. Gas yang sama diduga dipakai Presiden Syria Bashar Al Assad untuk menyerang penduduk Kota Khan Seikhun dan menewaskan lebih dari 80 orang.

”Ada kemungkinan bahwa Korut sudah mampu mengirimkan misil dengan hulu ledak berisi sarin,” ungkap Abe kepada komite pertahanan dan diplomasi di parlemen. Tidak diketahui dari mana Abe memperoleh informasi tentang paparannya tersebut.

Sehari sebelum berita kesiapan uji coba nuklir Korut, Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump melakukan pembicaraan via telepon. Mereka membahas tentang Pyongyang, tapi tidak diungkapkan detailnya.

Hanya, dikabarkan bahwa Tiongkok yang merupakan sekutu utama Korut meminta ada penyelesaian damai untuk Pyongyang.

Sementara itu, harian Global Times milik pemerintah Tiongkok menuliskan bahwa Beijing bakal mendukung sanksi PBB terhadap Pyongyang jika mereka kembali melakukan uji coba nuklir.

Termasuk membatasi ekspor minyak ke Korut. Media tersebut menegaskan bahwa Tiongkok tidak bisa diam saja saat melihat ketegangan masalah nuklir. Korut diminta menghindari benturan langsung dengan Trump.

”Caranya menghentikan aktivitas yang provokatif. Jika pemerintah Korut membuat kesalahan besar, mereka bakal sulit mendapat kesempatan untuk memperbaiki strateginya.” Demikian bunyi salah satu artikel di Global Times. Isolasi dari negara-negara lain membuat Korut sangat bergantung pada Beijing.

Di sisi lain, Jong-un, tampaknya, ingin perhatian publik teralihkan. Dia mengundang berbagai media internasional untuk menghadiri pembukaan proyek permukiman Ryomyong Street.

Ada ratusan ribu penduduk yang hadir dalam acara tersebut. Pyongyang mengklaim bahwa apartemen tertinggi di permukiman itu memiliki tinggi 234 meter dan terdiri atas 70 lantai. Secara keseluruhan, ada 5 ribu apartemen.

”Proyek tersebut merupakan kemenangan terhadap sanksi imperialis,” kata Perdana Menteri Korut Pak Pong-ju. Korut merupakan negara yang paling terisolasi di dunia. (Reuters/AFP/CNN/sha/c16/any)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Jika Korea Utara Tak Juga Mengakui Mayat Kim Jong-nam..


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler