KPAI: Sekolah Belum Siap dengan Normal Baru, Pemerintah Jangan Nekat

Selasa, 28 Juli 2020 – 12:21 WIB
Aktivitas belajar mengajar di SMPN 1 Bunguran Timur, Natuna, Kepri, belum berjalan normal karena banyak siswa yang tidak masuk sekolah akibat dilarang orang tua. Foto: Antara Kepri/Cherman

jpnn.com, JAKARTA - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan sekolah belum siap menerapkan kenormalan baru di masa pandemi Covid-19.

Oleh karena itu, pemerintah diingatkan untuk tidak memaksakan kebijakan membuka sekolah di semua zona penyebaran corona.

BACA JUGA: 5 Berita Terpopuler: Maaf Gibran Belum Matang, KKB Tantang TNI-Polri, KPK Selidiki Dugaan Korupsi di Jatim

"Pengawasan KPAI menunjukkan sekolah belum siap (menghadapi) kenormalan baru, pemerintah jangan nekat buka sekolah," tulis Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti dalam keterangan yang diterima jpnn.com, Selasa (28/7).

Retno menjelaskan bahwa KPAI telah melakukan pengawasan langsung ke 15 sekolah jenjang SD, SMP, SMA/SMK sebagai sampel di Jakarta, Bogor, Bekasi, Tangerang, Tangerang Selatan dan kota Bandung pada Juni 2020 yang lalu.

BACA JUGA: KPAI: Banyak Siswa Kelelahan, Tertekan, Tidak Naik Kelas Sampai Putus Sekolah

Hasilnya, dari 15 sekolah hanya 1 sekolah yang benar-benar siap secara infrastruktur kenormalan baru, yaitu SMKN 11 kota Bandung.

Sedangkan yang mulai menyiapkan infrastruktur ada 5 sekolah, itu pun sebatas menyiapkan wastafel beberapa buah di tempat-tempat yang strategis di lingkungan sekolah.

BACA JUGA: Banyak Keluhan dari Orang tua, Setuju Pembelajaran Jarak Jauh Dievaluasi?

"Sementara sembilan sekolah lagi belum menyiapkan apa pun kecuali sabun cuci tangan, di wastafel yang memang sudah dibangun jauh sebelum pandemi Covid 19," jelas Retno.

Selain melakukan pengawasan langsung, KPAI juga mengadakan survei ke para guru di berbagai daerah. Sasarannya adalah para guru dengan tujuan untuk mengetahui seberapa siap sekolah menghadapi kenormalan baru.

Sampai hari ini (28/7), survei diikuti oleh 6.664 guru dari sekolah yang berbeda, karena satu sekolah diwakili oleh satu guru.

"Hasil sementara survei, hanya sekitar 20% sekolah yang siap menghadapi kenormalan baru dari infrastruktur yang sudah disiapkan saat ini," ungkap mantan kepala SMAN 3 Jakarta ini.

KPAI menyatakan bahwa Kemendikbud seharusnya menjadi motor penggerak dalam mempersiapkan kenormalan baru di dunia pendidikan.

Itu bisa dilakukan dengan mempersiapkan protokol kesehatan dan daftar periksa yang kemudian disampaikan ke seluruh Dinas Pendidikan untuk dilakukan rapat koordinasi secara berjenjang.

“Kami belum melihat ada upaya-upaya semacam itu, lalu bagaimana Kemendikbud hendak membuka sekolah di semua zona (hijau, orange, kuning maupun merah) ketika tidak memiliki data apapun di level sekolah," tegas Retno.

Perempuan berhijab ini juga mengatakan, pemerintah tidak bisa menggunakan “Merdeka Belajar” dalam situasi seperti ini dengan seolah memerdekakan semua daerah dan sekolah untuk tatap muka. 

"Kebijakan seharusnya berbasis data, bukan coba-coba. Apalagi ini soal keselamatan dan kesehatan anak-anak Indonesia, untuk anak sebaiknya jangan coba-coba,” tandasnya.(fat/jpnn)


Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler