Krisis Guru PNS di Depan Mata, Begini Solusinya

Kamis, 19 Oktober 2017 – 08:08 WIB
Guru mengajar di kelas. Ilustrasi Foto: dok.JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Dalam kurun 2017 – 2021, guru PNS yang pensiun mencapai 295 ribu orang lebih.

Dengan kondisi ini, krisis jumlah guru PNS sudah di depan mata. Beragam cara untuk mengantisipasinya sudah disiapkan pemerintah.

BACA JUGA: 295 Ribu Guru Pensiun, Peluang Honorer jadi PNS

Diantaranya adalah menghidupkan kembali jurusan mayor dan minor untuk mahasiswa keguruan. Sehingga kelak mereka bisa mengajar dua mata pelajaran (mapel).

Mendikbud Muhadjir Effendy menuturkan ada beberapa skenario mengatasi kuranganya guru. Diantaranya untuk jenjang SMK, dilaksanakan program guru keahlian ganda.

Dengan demikian guru yang sebelumnya mengajar matematika, misalnya, bisa menjadi guru produktif dengan mengampu mata pelajaran komputer atau sejenisnya.

Selain itu Muhadjir menuturkan cara lain yang sedang dikaji adalah menghidupkan kembali sistem kuliah jurusan mayor dan minor untuk mahasiswa keguruan. Dengan cara ini, sarjana keguruan siap untuk mengajar dua mata pelajaran sekaligus.

’’Multi subjek thinking saya berharap bisa diterapkan,’’ jelasnya di Jakarta kemarin (18/10).

Supaya ketika ada kekurangan guru, bisa diambil dari guru yang ada. Tidak kaku seperti sekarang ini.

Guru besar pendidikan dan mantan rektor UNY Rochmat Wahab menuturkan tidak jadi persoalan sistem kuliah jurusan mayor dan minor mahasiswa keguruan dihidupkan lagi.

Asalkan tidak diterapkan di tengah jalan. Idealnya ketika awal masuk, calon mahsiswa sudah menentukan jurusan mayor dan minor apa yang dia pilih.

Selain itu Rochmat berharap dobel pilihan jurusan itu tidak menyimpang jauh. Misalnya mahasiswa keguruan bahasa Inggris memilih jurusan minor bahasa Perancis.

Atau mahasiswa jurusan PPKn memilih jurusan minor sosiologi. ’’Jangan misalnya jurusan mayornya bahasa Indonesia, kemudian minornya matematika. Menyimpang jauh,’’ katanya.

Rochmat berharap pemerintah melakukan kajian dan pemetaan dahulu guru di mata pelajaran apa yang kurang.

Sehingga penerapan kebijakan kuliah jurusan mayor dan minor tidak percuma. Jangan sampai mata pelajaran yang populasi gurunya banyak, justru dibuka program mayor dan minor.

Menurut dia guru produktif di SMK saat ini yang jelas masih kurang. Sehingga untuk awalan, kuliah jurusan mayor dan minor bisa diterapkan untuk bidang-bidang teknik. Sedangkan untuk bidang sosial, harus dikaji lebih dalam apakah jumlahnya berkurang.

Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) Muhammad Ramli Rahim menuturkan pemetaan kebutuhan guru saat ini sangat dibutuhkan.

Jangan sampai kebijakan kuliah mayor dan minor justru membuat guru semakin menumpuk. ’’Sementara lapangan kerja atau daya serapnya rendah,’’ katanya.

Sehingga akhirnya banyak lulusan kuliah guru yang bekerja di perbankan dan industri lain di luar urusan pendidikan.

Menurutnya saat ini data riil kebutuhan guru masih gelap. Sementara kampus baru yang mencetak guru terus bermunculan. (wan)

 


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler