Kualitas Guru Pengaruhi Mental Siswa Hadapi UN

Rabu, 21 Maret 2012 – 09:40 WIB

MEDAN-Rendahnya peringkat guru di Sumut dalam pelaksanaan Uji Kompetensi Awal (UKA) membuktikan rendahnya kualitas pendidikan guru di Sumatera Utara.
Hal ini dikhawatirkan akan mempengaruhi kejiwaan para siswa saat menghadapi Ujian Nasional yang akan berlangsung beberapa bulan ke depan.

"Kita harapkan hasil ini nantinya tidak membebani para siswa dalam pelaksanaan UN yang akan berlangsung dalam waktu dekat. Karena melihat kenyataan ini secara psikologi dapat mempengaruhi kepercayaan siswa dalam menghadapi pelaksanaan UN," ujar Pembantu Rektor I Unimed, Khairil Ansari, Selasa (20/3).

Khairil juga mengaku prihatin atas keadaan tersebut, apalagi Universitas Negeri Medan (Unimed) dalam ini  diketahui sebagai penghasil sejumlah guru di Kota Medan.
Meskipun begitu, bilang Khairil, Unimed harus melihat terlebih dahulu seluruh hasil UKA yang diumumkan oleh pusat, untuk mengetahui berapa jumlah guru tamatan Unimed yang mendapatkan hasil buruk.

"Sebagai pencetak guru kita harus intropeksi diri. Apalagi pada tahun 2011 lalu, hasil ujian nasional siswa kita terlalu dibanggakan karena berada di posisi tiga besar untuk tingkat nasional. Tapi dengan hasil UKA ini berbanding terbalik dengan hasil yang telah kita raih sebelumnya," ungkap Khairil.

Sebenarnya, bilang Khairil, Unimed  memang menghasilkan mahasiswa menjadi seorang guru. Namun setelah mahasiswa tamat dan menjadi guru, yang mendidik selanjutnya adalah dinas pendidikan.

"Apakah muatan lokal yang telah didapatkan para guru dalam bangku kuliahan masih diterapkan dan dilanjutkan lagi saat di dinas, kita kan tidak tahu," ucapnya.

Bahkan terkait faktor usia, dalam hal ini Khairil menilai faktor usia seharusnya tidak bisa dijadikan sebagai alasan utama dalam menghambat keberhasilan para guru mengikuti ujian.

Karena, menurutnya, semakin bertambahnya usia maka akan bertambah pengalaman mengajar dan pastinya menambah keilmuan yang dimilikinya. "Penurunan daya pikir memang ada. Namun bagi substansi keilmuan, materi yang diberikan kepada guru dalam uji kompetensi sesuai dengan tingkat kesulitan untuk seorang guru," ujarnya.

Sementara itu  Kabid PMPTK Disdiksu, Eduard Sinaga menilai, rendahnya kualitas guru ini ditenggarai akan lemahnya kepedulian pemerintah kabupaten kota dalam hal ini Dinas Pendidikan dalam mendukung penyelanggaran kompetensi guru.

Selain itu dinas penidikan kabupaten/kota juga dianggap kurang memahami tugas dan kewenangannya dalam penyelanggaran pembangunan pendidikan khusunya peningkatan mutu penidikan.

"Hal ini dapat kita lihat jika dinas pendidikan kabupaten/ Kota sangat jarang melakukan kegiatan yang berorientasi kepada mutu guru. Bahkan terhadap pemberdayaan pengawas sekolah yang belum optimal," ujarnya

Masih menurut Eduard, Pemerintah Provinsi dalam hal ini tidak memiliki wewenang penuh dalam peningkatan kualitas kompetensi guru. Namun tidak terlepas dari itu, sambung Eduard, Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara telah memiliki konsep peningkatan kualitas guru, yakni dengan melaksanakan program S1 yang bekerjasasama dengan beberapa Perguran Tinggi (PT).

"Program ini bahkan telah kita lakukan sejak bebrapa tahun belakangan. Akan tetapi dalam hal ini pemerintah kabupaten/kota terkesan masih terlalu berharap dengan provinsi, padahal seharusnya pemerintah kabupaten kota juga bisa memberikan perhatian terhadap upaya peningkatan kualitas kompetensi guru lewat program-program lainnya," ucap Eduard.

Dalam hal ini upaya yang seharusnya dilakukan pemerintah kabupaten/kota , sambung Eduard, yakni melaksanakan kegiatan pelatihan yang berorientasi kepada peningkatan kualitas mutu kontinue baik guru mata pelajaran maupun guru kelas. Tidak kalah pentingnya pemberdayaan pengawas untuk melakukan monitoring atas kinerja guru.

"Karena kita ketahui bahwa kualitas dan komitmen guru sangat mempengaruhi terhadap mutu siswa. Seandainya kualitas guru baik maka siswa yang dihasilkan bisa jauh lebih baik. Namun jika kualitas guru rendah maka kualitas siswa didik yang dihasilkan juga akan rendah," ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan Sekretaris Dewan Pendidikan Medan, Adi Munasip  Menurut Adi, peringkat yang sangat rendah diraih para guru Sumatera Utara ini, sedikit banyaknya akan berpengaruh terhadap kualitas siswa didiknya.

"Sangat aneh jika nantinya kualitas murid akan lebih baik dibandingkan gurunya. Karena banyak orang yang akan meragukan hasil bagus yang bisa diraih siswa didik kita dengan kualitas guru yang rendah," ucapnya.

Menurutnya, dalam hal ini pemerintah kabupaten kota harus memiliki aturan tegas dalam upaya peningkatan kualitas guru. Mengingat selama ini, bilang Adi, kota Medan belum memiliki Perda khsusus yang mengatur pendidikan.

"Sehingga untuk pelatihan guru selama ini belum bisa berjalan efektif karena tidak ada bentuk evaluasi yang rutin dilakukan. Untuk itu perlu ada keterlibatan semua komponen, dalam menciptakan peningkatan kualitas penidikan di Sumut yang dimulai dari dua faktor terpenting yakni siswa dan guru," ujarnya.

Sedangkan Sekretaris Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI )Medan, Rahman Siregar saat dikonfirmasi mengenai hal itu, mengaku tidak ingin berkomentar sebelum dikeluarkannya hasil pengumuman seluruh peserta UKA oleh kementrian pendidikan. "Kami akan memberikan komentar jika mengetahui hasil pengumuman seluruhnya yang akan diumumkan pada kamis (22/3) mendatang," sebutnya. (uma)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Kuliah di ITB Rp20 Juta per Tahun


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler