Kurangi Risiko Sakit Jantung dengan Makan Tepat Waktu

Rabu, 05 April 2017 – 11:09 WIB
Menu makanan nasi merah, Salad Eropa dan Jawa. Foto: Amjad/JPNN

jpnn.com - Pola makan kita telah berubah selama 40 tahun terakhir dan aturan makan tiga kali sehari telah ditinggalkan oleh banyak orang.

Namun, mengatur kapan makanan dan mengemil serta tidak melewatkan sarapan adalah langkah-langkah sehat yang bisa kita ambil untuk mengurangi risiko diabetes, penyakit jantung juga obesitas.

BACA JUGA: Ladies, Please Jangan Lakukan 5 Hal Ini

Para peneliti di Columbia University New York telah menemukan bahwa kapan dan seberapa sering sama pentingnya dengan apa yang kita makan.

Kebiasaan makan kita bisa memiliki efek pada penanda kesehatan seperti tekanan darah, berat badan dan resistensi insulin.

BACA JUGA: Mencerahkan Wajah dengan Serum Whitening

Para peneliti mencatat bahwa orang yang sarapan setiap hari berisiko lebih kecil memiliki tekanan darah dan kadar kolesterol yang tinggi.

Sebaliknya terjadi kepada mereka yang melewatkan sarapan. Sebesar 20-30 persen dari orang-orang yang melewatkan sarapan dan mengonsumsi cemilan sepanjang hari lebih berpotensi mengalami kenaikan berat badan, obesitas, diabetes dan masalah kardiovaskular.

BACA JUGA: 5 Pertanda Ada yang Tak Beres dengan Jantung Anda

Untuk mendapatkan kesehatan jantung yang baik, maka penting jika Anda sarapan, mengonsumsi snack dan makan tepat waktu.

Untuk mencegah penyakit jantung, Anda harus benar-benar merencanakan makanan Anda.

"Makan tepat waktu bisa memengaruhi kesehatan karena dampaknya pada jam internal tubuh," kata peneliti Marie-Pierre St-Onge,seperti dilansir laman MSN, Minggu (2/4).

"Dalam penelitian hewan, tampak bahwa ketika hewan menerima makanan di fase tidak aktif, seperti ketika mereka sedang tidur, maka jam internal mereka akan mereset dan mengubah metabolisme nutrisi yang bisa menyebabkan kenaikan berat badan, resistensi insulin dan peradangan," jelas Marie-Pierre St-Onge.

"Namun, penelitian lebih lanjut perlu dilakukan pada manusia sebelum hal tersebut bisa dinyatakan sebagai fakta," pungkas Marie-Pierre St-Onge.

Para peneliti juga menunjukkan hubungan antara puasa periodik dari waktu ke waktu atau sekali atau dua kali seminggu dengan penurunan berat badan, setidaknya dalam jangka pendek.

Mereka juga menemukan bahwa makan larut malam bisa meningkatkan risiko kardiovaskular, tetapi penelitian lebih lanjut diperlukan.(fny/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Anda Masih Takut Gelap? Tidak Perlu Malu, Wajar Kok...


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler