Kurma Kedua Belum Habis, Lampu Sudah Padam

Sabtu, 29 Agustus 2009 – 08:06 WIB

Tak gampang menemukan atmosfer Ramadan di PrancisMeski Islam adalah agama terbesar kedua di negara ini, bulan puasa hampir tak ada bedanya dengan hari-hari biasa

BACA JUGA: Parto Diprotes Anak, Luna Dipesani Jaga Kesehatan

Saat musim panas seperti sekarang, mencari tempat berbuka di luar rumah bukan perkara mudah.

MARIA W
PARAMITA, Saint Etienne

  
Merasakan Ramadan di negeri yang punya pengaruh besar di Uni Eropa adalah pengalaman baru bagi saya

BACA JUGA: Sukses Kampanye Kelaparan

Saya termasuk beruntung karena tinggal di Saint Etienne, kota kecil dekat Lyon yang terletak di barat daya Prancis ini
Kota yang berpenduduk 200 ribu jiwa ini 40 persennya memeluk agama Islam, sehingga cukup mudah bagi saya untuk menemukan musala

BACA JUGA: Kampanye Stop Kelaparan Melalui Produk Piring

Tak kurang ada sepuluh musala tersebar di kota yang terletak di wilayah Rhone Alpes iniSelain itu, sebuah masjid agung, Grande Mosque de Saint Etienne, yang terletak di ujung utara kota.   
  
Meski begitu, suasana Ramadan hampir tak terasaKecuali beberapa hipermarket memajang suguhan ala Arab dan barang-barang berlabel halal persis di depan pintu masukKurma, couscous  (butiran halus biji gandum yang ditanak, bentuk dan rasanya mirip nasi jagung di Indonesia), buah zaitun dalam beraneka bentuk (asinan hingga kering), serta kue-kue khas Ramadhan seperti baklaoua, kalbalouz manchi, dan makroutSelebihnya, suasana seperti hari-hari biasa
 
Kalaupun ada yang perlu diperhatikan bagi warga asal negeri tropis seperti saya adalah waktu berpuasa yang lebih panjangKebetulan, tahun ini Ramadan datang di musim panas, sehingga puasa dijalani selama 18 jamImsak pada pukul 04.00-05.00, dan buka puasa baru pada pukul 21.00. 
  
Hingga hampir sepekan menjalani puasa, saya sudah mengunjungi tiga tempat berbeda di Saint Etienne untuk berburu suasana Ramadan"Musala di sini selalu menyediakan makanan khas Arab untuk jemaahnya," tutur Mohamed Inam Ul Haq, mahasiswa asal Pakistan yang sudah dua tahun tinggal di kota ini
  
Menurut mahasiswa jurusan Bahasa Prancis ini, jemaah membawa makanan mereka ke musala untuk dinikmati bersama"Banyak sekali jenis makanan, saranku jangan terlalu kenyang pada satu jenis makanan sajaHarus dicoba semua," ujarnya. 
 
Mohamed juga berpesan agar saya datang lebih awal untuk mendapatkan tempat yang nyaman dan takjil lengkapMenurutnya, umat muslim di kota ini bakal berbondong-bondong datang ke musala untuk berbuka bersama
 
Berbekal keterangan Mohamed ini, saya menyambangi  dua musala dan satu masjid besarKunjungan pertama saya lakukan di musala dekat apartemen saya di kawasan Rue (Jalan, Red) Onze NovembreNamun, apa yang saya temukan tidak seperti gambaran MohamedMusala yang saya datangi itu sepi
 
Di musala ini saya hanya menemukan belasan jamaah lain serta hanya seorang jamaah muslimah yang lainUsai menunaikan salat Magrib, seorang laki-laki berjubah datang dan menawarkan makanan berbukaDia mempersilakan kami ke dapur yang terletak di sebelah ruangan salatDi dapur, dia menjelaskan secara singkat tempat kami bisa menemukan peralatan makan, cara memanaskan sup, dan memberi kami roti baquetteSetelah itu dia mengucapkan salam dan meninggalkan kami di dapurSistem swalayan rupanya
 
Saya juga baru kali ini dibawa ke dapur dan menyiapkan hidangan berbuka untuk diri sendiriSupnya bernama harira, hidangan khas Maroko, yang hanya disajikan pada saat RamadanBerbahan utama tomat, rempah-rempah, dan kacang macadamiaLauknya, kami mendapat sepiring soufuf, tumbukan berbagai macam jenis kacang-kacangan yang berwarna hitamMereka bilang, bubuk soufuf ini bagus untuk kesehatan
 
Tak ada nasi memangDalam menu apapun, kebutuhan karbohidrat itu dipenuhi dengan baquetteYakni, roti panjang bertekstur keras yang berbentuk seperti pentungan
 
Belakangan, saya baru tahu bahwa ruangan untuk jemaah perempuan dan laki-laki terpisahLaki-laki menempati bagian basement bangunan tersebut dan satu ruang makan berukuran besarTak seperti suasana di Indonesia, kehadiran jamaah perempuan ke musala memang sangat jarang, sehingga saya dan teman wanita dipersilakan menikmati makanan di dapur
  
Hari berikutnya, saya dan dua teman muslimah lain mencoba berpindah ke musala di kawasan La Viva RaizeKali ini, kami malah tidak seberuntung kemarinMusala ini hanya menyediakan kurma dan air putih untuk berbukaBahkan, lampu sudah padam sebelum kami menghabiskan kurma keduaKami bertiga akhirnya memutuskan untuk berbuka di restoran terdekat yang memajang label halalSasaran kami adalah restoran kebab yang umumnya dikelola oleh warga keturunan Arab dan Timur Tengah lainnya
 
Namun, lagi-lagi, kami tidak beruntungMusim panas di Prancis berarti liburanHampir seluruh elemen di kota ini tidak beroperasi di musim panasKantor, universitas, toko, restoran, semuanya tutupBeberapa restoran kebab yang buka di pagi hari hanya bertahan hingga pukul 18.00Padahal, buka puasa baru dijalankan pukul 21.00.
  
Tak ada pilihan lainSatu-satunya tempat yang masih buka pada jam selarut ini di negeri penghasil anggur itu adalah barJadilah kami berbuka puasa di barKonsekuensinya kami harus pandai memilihMenu aperitif (suguhan beraroma alkohol) tentu tidak bisa dipilihMaka, hanya ada dua pilihan: air putih dan Cola-Cola
 
Syukurlah, di tempat yang banyak terdapat sajian "tak halal" itu kami menemukan keramahtamahan ala PrancisKetika kami mengaku bahwa kami bertiga adalah muslimah yang sedang berbuka puasa, si pemilik bar dengan ramah menghidangkan sebotol susu fermentasi secara gratis dan sepotong roti sandwichAlhamdulilah(Maria Wardhani Paramita, mantan wartawan Jawa Pos yang kini mahasiswi program Master Cultural Landscape di Saint Etienne, Prancis/bersambung)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pulau Pribadi pun Dijual untuk Wisata


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler