Lagi, TNI Didesak Investigasi Insiden Ledakan Meriam Tiongkok

Kamis, 18 Mei 2017 – 16:12 WIB
Anggota Komisi I DPR RI Sukamta. FOTO: Dok. FPKS DPR

jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi I DPR Sukamta berbela sungkawa atas gugurnya prajurit Tentara Nasional Indonesia dalam insiden kecelakaan meriam Giant Bow merek Chang Chong dari Tiongkok, di Tanjung Datuk, Natuna, Kepulauan Riau, Kamis (18/5).

"Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Semoga arwah para prajurit yang gugur dalam tugas diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa," kata Sukamta, Kamis (18/5).

BACA JUGA: Tertibkan Perumahan di Kompleks KPAD, TNI Dilawan Warga

Sukamta mengaku belum mengetahui persis kronologi detail peristiwa itu. Selain itu, kata dia, memang belum juga ada kejelasan penyebab insiden itu.

Namun, Sukamta menganalisis setidaknya ada dua kemungkinan penyebabnya. Yakni, bisa jadi karena kerusakan teknis senjatanya, Giant Bow bermerek Chang Chong, atau bisa karena kesalahan teknis prajurit yang mengoperasikannya atau human error. "Bisa jadi juga kombinasi keduanya, kesalahan teknis senjata yang ditambah human error karena panik misalnya," kata dia.

BACA JUGA: TNI Jadi Korban Meriam Tiongkok, KSAD: Masih Diinvestigasi

Dia menambahkan, kecelakaan yang menimpa TNI sudah beberapa kali terjadi. Seperti pesawat, helikopter jatuh. Menurut dia, bisa jadi pula penyebab kecelakaan itu karena human error atau masalah alat utama sistem utama persenjataannya.

Karenanya Sukamta mendorong kepada TNI menginvestigasi hal ini secara komprehensif dan memberikan keterangan secara resmi apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.

BACA JUGA: Peralatan Tempur di Natuna Harus Dalam Kondisi Prima

"Apa pun hasil investigasinya, evaluasi dan peningkatan kualitas prajurit dan alutsista menjadi suatu keharusan dan keniscayaan. Kita harus tingkatkan skill, kedisiplinan dan kesejahteraan TNI," paparnya.

Dia mengatakan, senjata yang digunakan prajurit TNI berbahaya semua, seperti meriam Giant Bow ini yang konon memiliki kecepatan proyektil 970 meter per detik. "Maka harus dioperasikan dengan skill dan mental yang tidak main-main," katanya.

Selain itu juga pengadaan alutsista harus diperketat pengontrolan kualitasnya. Pihaknya terus mendorong peningkatan alutsista TNI. Tidak hanya kuantitasnya, aspek kualitas juga harus diprioritaskan. "Lebih baik memiliki jumlah alutsista tidak banyak tapi berkualitas dari pada punya alutsista banyak tapi tidak berkualitas, karena alutsista yang tidak berkualitas membahayakan kita sendiri," paparnya.(boy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Mabes TNI Diminta Usut Penyebab Ledakan Meriam Buatan Tiongkok


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler