Larangan Keluar Rumah Bagi Lansia Tuai Kritik, Masyarakat Butuh Informasi Positif

Selasa, 08 Februari 2022 – 10:25 WIB
Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher mengkritisi larangan lansia 60 tahun ke atas keluar rumah. Ilustrasi - Seorang lansia menjalani suntik vaksin COVID-19. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher mengkritisi larangan lansia 60 tahun ke atas keluar rumah.

Dia meminta pemerintah melakukan langkah antisipatif yang jelas dalam menghadapi ancaman varian Omicron, bukan sekadar mengeluarkan imbauan lansia jangan keluar rumah.

BACA JUGA: Luhut Binsar Minta Orang dengan Kriteria Ini Tak Keluar Rumah Sebulan ke Depan

"Pandemi telah memasuki tahun ketiga, pemerintah seharusnya telah memiliki pola penanganan dan langkah antisipatif yang jelas dalam menghadapi setiap perkembangan baru," ujar Netty dalam keterangan media, Senin, 07/02/22.

Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI itu menilaisaat ini masyarakat membutuhkan bahasa positif yang menunjukkan kesiapan pemerintah dalam mengantisipasi puncak gelombang ketiga Covid-19.

BACA JUGA: Tips Aman dari Penularan Covid-19 saat Naik KRL, Simak!

Dia mencontohkan beberapa informasi yang dibutuhkan masyarakat seperti sosialisasi dan informasi tentang peningkatan infrastruktur kesehatan, ketersediaan ranjang rawat, ruang ICU, kecukupan alat dan bahan medis, serta percepatan pencapaian target vaksinasi.

"Tentu lebih menenangkan daripada info larangan keluar rumah keluar rumah," katanya.

BACA JUGA: Anies: Puncak Kasus Harian Covid-19 Jenis Omicron Sudah Melewati Delta

Pasalnya, sejak awal pandemi, masyarakat tinggal di rumah saja, apalagi untuk lansia dengan penyakit penyerta adalah hal yang sudah dipahami.

"Tentunya kita tidak ingin masyarakat berpresepsi ada ancaman kondisi buruk di balik imbauan tersebut," lanjut Netty.

Oleh sebab itu, Netty meminta pemerintah agar menjelaskan percepatan target vaksinasi untuk lansia dan anak-anak di bawah 12 tahun; termasuk capaian target vaksinasi di daerah yang masih belum memenuhi minimal 70 persen target dosis lengkap.

Di samping itu, prediksi pemerintah tentang puncak gelombang ketiga harus sudah diikuti dengan kesiapsiagaan rumah sakit dan segala infrastruktur penunjangnya.

"Bagaimana langkah antisipasi dalam menghadapi kondisi terburuk? Bagaimana kesiapan obat-obatan, ranjang rawat, tenaga medis? Hal inilah yang perlu dijelaskan pada masyarakat secara terbuka," ujar Netty.

Hal lain yang perlu disampaikan pada masyarakat, lanjut Netty, adalah kesiapan dukungan obat-obatan, suplemen, dan telemedicine untuk yang pasien isoman.

"Belajar dari pengalaman menghadapi gelombang serangan varian Delta, pemerintah harus lebih sigap dan siap dalam segala sisi," katanya.

Terakhir, Netty kembali meminta pemerintah dan para pejabatnya menjadi contoh yang baik dalam penegakan disiplin prokes.

"Jangan sampai masyarakat diminta diam di rumah, sementara kunjungan kerja pemerintah yang berpotensi menimbulkan kerumunan massa, seperti di Danau Toba," tegas Netty.


Redaktur & Reporter : Elvi Robia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler