Lawan Perubahan Iklim, Generasi Muda Harus jadi Aktor Utama Melindungi Bumi

Jumat, 09 April 2021 – 14:05 WIB
Ilustrasi perubahan iklim. Foto: sazp.sk

jpnn.com, JAKARTA - Yayasan Perspektif Baru (YPB) bersama Konrad Adenauer Stiftung (KAS) bekerja sama dengan Universitas Padjadjaran (UNPAD), mengadakan Webinar Nasional dengan tema Lindungi Bumi dengan Energi Terbarukan.

Acara ini digelar dalam menyambut Hari Bumi yang diperingati setiap 22 April, serta program sosialisasi dan edukasi mengenai mitigasi perubahan iklim melalui energi bersih.

BACA JUGA: Ikhtiar BRI Kurangi Dampak Negatif Perubahan Iklim

"Dalam upaya melawan perubahan iklim, generasi muda seperti mahasiswa harus menjadi aktor utama karena mereka yang akan paling merasakan dampak perubahan iklim di masa depan," ujar Pendiri Yayasan Perspektif Baru Wimar Witoelar.

Mereka juga merupakan calon pemimpin masa depan yang juga berfungsi sebagai agen perubahan.

BACA JUGA: Komnas Perempuan Ingatkan Atta Halilintar Jangan Jadikan Aurel Pabrik Anak Saja!

Menurut Wimar, pemahaman mereka akan masalah perubahan iklim sangat krusial bagi masa depan Indonesia.

Satu upaya penting yang dapat dilakukan mahasiswa adalah mulai beralih kepada gaya hidup rendah karbon, seperti menggunakan dan mengembangkan energi terbarukan.

BACA JUGA: Pantau Kesiapan Pupuk Subsidi, Wamentan Harvick: Apa yang Disampaikan Direksi Sesuai

Apalagi Indonesia memiliki sumber energi terbarukan yang sangat melimpah.

Dari sisi energi terbarukan, Jawa Barat merupakan provinsi dengan potensi sumber daya energi panas bumi terbesar di Indonesia.

Menurut data yang dikeluarkan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), total sumber daya panas bumi di Jabar sebesar 5.411 MW.

Total sumber daya ini hampir 40% dari total sumber daya nasional.

PLTA di Indonesia juga memiliki potensi yang besar. PLTA Kayan di Kalimantan Utara sebagai contoh memiliki kapasitas 9.000 MW.

Sedangkan PLTA Batang Toru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, berkapasitas 510 MW.

"Dan ini akan berkontribusi pada pengurangan emisi karbon sekitar 1,6 juta ton per tahun atau setara dengan kemampuan 12 juta pohon menyerap karbon," kata Luh Nyoman Puspa Dewi, Direktur Konservasi Energi Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM.

Peralihan (transisi) dari energi fosil sambung Puspa, banyak menghasilkan karbon ke energi terbarukan yang lebih bersih sangat penting untuk upaya mitigasi perubahan iklim.

Perubahan iklim dipicu oleh peningkatan emisi karbon di bumi.

Perserikatan Bangsa-bangsa dalam Paris Agrement pada 2015 telah menyepakati perlunya pembangunan berkelanjutan dengan salah satunya mengadopsi kebijakan transisi energi.

Terbukti, dalam dua tahun terakhir dampak perubahan iklim global mulai menjadi kenyataan dan makin sering terjadi fenomena cuaca ekstrem, sebagai salah satu dampaknya.(chi/jpnn)

Kamu Sudah Menonton Video Terbaru Berikut ini?

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ini yang Dilakukan KLHK dalam Upaya Penanggulangan Perubahan Iklim


Redaktur & Reporter : Yessy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler