Legislator Minta BRIN Lakukan Kajian Menyeluruh soal PLTN

Kamis, 30 November 2023 – 13:43 WIB
Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI Mulyanto meminta BRIN melakukan kajian terkait rencana pembangunan PLTN. Foto: Humas DPR

jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PKS Mulyanto meminta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) proaktif melakukan kajian terkait rencana pembangunan PLTN pada 2032. 

Hal itu, diungkapkan Mulyanto saat Rapat Dengar Pendapat Komisi VII DPR RI dengan Kepala BRIN di Senayan, Jakarta, Rabu (29/11).

BACA JUGA: BRINS Raih Dua Penghargaan Top 20 Financial Institution Awards 2023

Menurutnya, kajian tersebut harus dilakukan secara komprehensif dan cermat agar pembangunan PLTN pertama di Indonesia tersebut aman, tepat guna dan tepat sasaran. 

"Kajian tersebut sangat penting, karena PLTN adalah instalasi yang vital, strategis, dan memiliki potensi dampak yang besar bagi masyarakat," ujar Mulyanto.

BACA JUGA: BRIN, BPIP, dan LPPM Unnes Berkolaborasi dalam Riset & Pembangunan Berbasis Pancasila

Menurutnya, Fraksi PKS setuju dengan pendapart Kepala BRIN bahwa yang dibutuhkan Indonesia ke depan adalah PLTN skala besar dengan daya lebih dari 1.000 MW jenis generasi ke-3 PWR (pressure water reactor) untuk Pulau Sumatera dan Kalimantan.

PLTN dengan kapasitas dan jenis reaktor seperti itu memang yang kita butuhkan dalam kerangka menuju NZE (net zero emission).  

"Bukan reaktor kecil, generasi ke-4 yang masih berupa reaktor eksperimental.

Kita butuh PLTN yang sudah mapan teruji untuk operasi komersil, bukan reaktor yang masih bersifat uji coba. Ini penting terkait faktor keselamatan PLTN dan juga kebutuhan operasi baseload pembangkit listrik," ujar Mulyanto.

Doktor nuklir lulusan Tokyo Institute of Technology, Jepang, itu menjelaskan untuk menutupi sifat intermeten pembangkit listrik dari sumber energi terbarukan (surya maupun angin) serta menggantikan operasi base-load PLTU, maka pilihan kepada PLTN skala besar dan dari jenis yang sudah solid seperti PWR menjadi penting.  

"Kalau PLTN ukuran kecil kan tidak bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Apalagi kalau demand-nya untuk listrik di Pulau Sumatera dan Kalimantan, maka PWR ukuran besar ini adalah pilihan yang tepat," katanya. 

Mulyanto mengakui bahwa PLTN ukuran kecil di bawah 100 MW bagus untuk memenuhi kebutuhan listrik secara off grid di pulau-pulau kecil.

Namun, bukan untuk menggantikan operasi baseload PLTU.

Untuk diketahui dalam RDP Komisi VII DPR RI dengan Dirjen Gatrik, Dirjen EBTKE dan Dirut PLN, sebelumnya Rabu 15 November tentang draft revisi Rencana Umum Pengusahaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2024-2033 disampaikan, bahwa Indonesia akan mulai mengembangkan energi nuklir secara komersial pada 2032.

Pemanfaatan energi nuklir itu secara bertahap akan ditingkatkan sampai dengan 9 Giga Watt (GW) hingga tahun 2060 mendatang, khususnya untuk pulau Sumatera dan Kalimantan, termasuk Maluku-Papua dan Nusa Tenggara.(mcr10/jpnn)

Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:


Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
DPR RI   PLTN   PKS   BRIN  

Terpopuler