Lestari Moerdijat Dorong Pemerintah Cegah Meningkatnya Kasus Demensia di Indonesia

Rabu, 13 September 2023 – 21:49 WIB
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat saat menyampaikan sambutan pada diskusi daring bertema 'Menangkal Ancaman Demensia dan Alzheimer di Indonesia' yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (13/9). Foto: Dokumentasi Humas MPR RI

jpnn.com, JAKARTA - Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat mendorong adanya langkah antisipasi serta kebijakan untuk mencegah ancaman demensia dan alzheimer di Indonesia.

Hal ini disampaikan Lestari Moerdijat dalam sambutannya pada diskusi daring bertema 'Menangkal Ancaman Demensia dan Alzheimer di Indonesia' yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (13/9).

BACA JUGA: Kena Demensia, Eks PM Malaysia Abdullah Ahmad Badawi dalam Kondisi Memprihatinkan

Menurut Rerie yang akrab disapa, penduduk usia produktif sebagai modal membangun bangsa harus bersanding serasi dengan lansia yang bahagia di masa tua.

"Usia produktif yang lebih mendominasi mesti berimbang dengan penduduk lansia yang sungguh berbahagia di masa tua, karena penelitian telah menunjukkan bahwa sekitar 40 persen kasus demensia dan alzheimer dapat dihindari atau ditunda dengan gaya hidup sehat," kata Rerie.

BACA JUGA: Cegah Demensia dan Alzheimer dengan 7 Makanan Sehat Ini

Rerie menyebutkan, sesuai data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk lansia meningkat dari 18 juta jiwa (7,6 persen) pada 2010 menjadi 27 juta jiwa (10 persen) pada 2020.

Angka tersebut diperkirakan akan terus meningkat menjadi 40 juta jiwa (13,8 persen) pada 2035.

BACA JUGA: Pengemudi Mercy yang Melawan Arus di Tol JORR Diduga Penderita Demensia 

"Meningkatnya harapan hidup manusia dapat diasumsikan sebagai catatan positif dalam geliat pembangunan dan sistem kesehatan nasional, meskipun terdapat sejumlah pekerjaan rumah dalam bidang kesehatan terkait penyakit menular dan tidak menular," terangnya.

Menurut World Alzheimer Report 2019, sekitar 1,8 juta orang di Indonesia menderita demensia.

Angka ini diperkirakan akan meningkat menjadi 7,5 juta pada 2050 akibat populasi yang semakin lanjut usia.

Secara global, mengutip WHO, jumlah penderita demensia akan meningkat 40 persen menjadi 78 juta jiwa pada 2030.

Rerie pun mengajak seluruh pihak memahami Demensia dan Alzheimer.

Dia mengungkapkan masih banyak masyarakat belum memahami dan ini bisa menjadi ancaman jika tidak diantisipasi.

"Sebetulnya gejala-gejalademensia itu bisa diidentifikasi sejak awal. Kalau kita memiliki data yang terverifikasi dan bisa dilakukan identifikasi. Kami meyakini bahwa angka yang disebut jauh lebih kecil dari angka yang sesungguhnya," ujar Rerie.

Dikutip dari situs Alzheimer Indonesia, Demensia adalah kumpulan gejala penurunan progresif fungsi kognitif otak.

Antara lain gangguan daya ingat, gangguan berfikir, komunikasi, kemampuan pengambilan keputusan, mengendalikan emosi, dan fungsi otak lainnya yang dapat disertai dengan gangguan perilaku dan kepribadian yang pada akhirnya menganggu aktivitas sehari- hari.

Sementara, demensia alzheimer adalah jenis demensia yang paling umum ditemui di masyarakat.

Ini merupakan penyakit degeneratif sel syaraf yang bersifat progresif perlahan.

"Pada umumnya, kita terbiasa dengan kata pikun atau kepikunan dan menganggapnya normal bagi mereka yang telah mencapai usia lanjut. Padahal, kepikunan bukanlah bagian normal dari penuaan, melainkan merupakan bagian dari gejala demensia," ungkap Rerie.

Menyambut bonus demografi 2045, di mana penduduk usia produktif akan lebih banyak dibanding usia tidak produktif,

Rerie mengajak seluruh pihak untuk membangun kebijakan yang terkait pencegahan ancaman Demensia dan Alzheimer di Indonesia.

Legislator dari Dapil Jawa Tengah II (Kabupaten Kudus, Jepara, dan Demak) ini mengatakan usia produktif merupakan modal dasar untuk membangun negara, namun mesti juga diimbangi usia produktif ini bersanding serasi dengan penduduk lansia yang berbahagia di masa tua.

"Penduduk lansia yang berbahagia akan membuat keluarganya yang berusia produktif bisa lebih memaksimalkan diri dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sehari-hari," tegas Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu.

Rerie mengajak seluruh pihak untuk mendukung aksi membantu orang dengan demensia, care giver dan keluarga lintas generasi untuk sama-sama mendukung perawatan demensia di Indonesia.

"Karena pada kenyataannya, orang dengan demensia dan Alzheimer kebanyakan berasal dari negara berpenghasilan rendah dan menengah dan antara daerah perkotaan dan perdesaan," jelasnya.

Dia menegaskan kehadiran negara merupakan realisasi perlindungan konkret dalam kehidupan berbangsa.

Diskusi yang dimoderatori Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR Anggiasari Puji Aryatie itu menghadirkan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Eva Susanti sebagai narasumber.

Narasumber lainnya yang juga hadir adalah Asisten Deputi BPJS Kesehatan Muhammad Cucu Zakaria, dan Ketua Umum Ikatan Dokter Saraf Indonesia Dodik Tugasworo.

Selain itu juga hadir Anggota Komisi IX DPR Nurhadi, dan Pendiri Alzheimer Indonesia yang juga Direktur Regional Alzheimer’s Disease International/ADI wilayah Asia Pasifik DY Suharya sebagai penanggap.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes Eva Susanti mengatakan penanganan penyakit tidak menular, seperti demensia adalah dengan mengubah perilaku dan mindset masyarakat untuk berperilaku hidup sehat.

"Kementerian Kesehatan melakukan upaya pencegahan demensia melalui berbagai program, seperti deteksi dini risiko, skrining pasien, hingga promosi kesehatan melalui berbagai media, termasuk media sosial yang bisa diakses masyarakat," terang Eva.

Kemenkes juga merekomendasikan upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah faktor risiko demensia melalui CERDIK, yaitu cek kesehatan secara rutin, Enyahkan asap rokok, rajin beraktivitas fisik, diet gizi seimbang, istirahat cukup, dan kelola stres.

Asisten Deputi BPJS Kesehatan Muhammad Cucu Zakaria, menyampaikan jumlah peserta BPJS yang mengakses layanan kesehatan dengan diagnosa demensia dan alzheimer terus meningkat dari tahun ke tahun.

Pada 2019, kata Cucu, jumlah peserta BPJS dengan diagnosa demensia dan alzheimer sebesar 5.583 orang, meningkat signifikan pada 2022 sebesar 10.414 orang.

Seiring naiknya penderita demensia dan alzheimer, tambah dia, pembiayaan di BPJS Kesehatan turut meningkat.

Cucu menjelaskan, peserta BPJS Kesehatan dengan Demensia dan Alzheimer akan dicover penuh dalam mengakses layanan kesehatan dengan standar tarif INA-CBG.

Fasilitas kesehatan, ujar dia, mendapat pembayaran dari BPJS untuk seluruh akses kesehatan bagi peserta, antara lain administrasi, konsultasi, pemeriksaan, obat, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai.

Ketua Umum Ikatan Dokter Saraf Indonesia Dodik Tugasworo mengatakan seiring naiknya jumlah lansia akan meningkat pula jumlah penyakit neurodegeneratif, seperti stroke, parkinson, dan termasuk demensia.

Menurut Dodik, demensia adalah fenomena gunung es dengan sebagian besar belum atau tidak terdiagnosis.

Dodik mengungkapkan faktor risiko demensia secara umum bersifat multifaktorial.

Beberapa hal yang mendasari faktor risiko, di antaranya usia, jenis kelamin, cidera, penyakit jantung, pola hidup tidak sehat, diabetes, infeksi, faktor lingkungan, dan termasuk depresi.

Dodik menyampaikan sejumlah tantangan dalam menghadapi kasus Demensia.

Dari sisi petugas medis, tidak semua dokter dapat melakukan deteksi dini, dapat terjadi miss diagnosis sehingga pasien tidak mendapat penanganan yang sesuai, rujukan pasien demensia yang belum tepat, dan pemeriksaan neuropsikologi membutuhkan waktu lama.

Sementara tantangan dari sisi penderita, ungkap Dodik, pasien memiliki penyakit komorbid, biaya perawatan tinggi, deteksi dini yang kurang, dan stigma yang mewajarkan kepikunan.

Anggota Komisi IX DPR Nurhadi menegaskan negara wajib menjamin akses layanan kesehatan bagi seluruh masyarakat.

"Diperlukan langkah antisipatif dan kebijakan yang komprehensif untuk mengatasi masalah Demensia dan Alzheimer," ujar Nurhadi.

Dia mendorong pemerintah untuk memastikan peningkatan pemahaman masyarakat dalam upaya pencegahan, deteksi dini, pengobatan, dan perlindungan para lansia dari demensia dan alzheimer.

"Sebab pada titik tertentu, populasi Indonesia didominasi masyarakat yang lansia, Demensia dan Alzheimer berpotensi bisa mengancam produktivitas dan keberlangsungan bernegara," imbuhnya.

Pendiri Alzheimer Indonesia DY Suharya sependapat dengan Rerie tentang pikun bukan hal normal bagi lansia, melainkan gejala Demensia.

Dia mengajak seluruh pihak untuk menciptakan lingkungan yang ramah akan lansia dan demensia.

Suharya juga meminta agar ada penanganan khusus pada Demensia dan lansia terutama saat mengakses layanan kesehatan.

"Kerap kali, mereka harus menunggu lama untuk berkonsultasi atau untuk diberikan penanganan. Padahal, proses yang lambat akan semakin menambah progresivitas Demensia yang dialami," tegasnya.

Wartawan senior Saur Hutabarat mengatakan demensia dan alzheimer di Indonesia dapat dicegah dengan jalan kaki yang merupakan olahraga murah yang dapat diakses sebagai langkah pencegahan penyakit demensia.

Sementara, kegemaran membaca akan membuat otak terus bekerja dan menjadi sehat.

"Sebaliknya, jika otak jarang dipakai maka akan usang dan berpotensi terkena demensia," tegas Saur. (mrk/jpnn)


Redaktur : Sutresno Wahyudi
Reporter : Sutresno Wahyudi, Sutresno Wahyudi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler