Lewat Cara ini Kominfo Ingin Masyarakat Melek Media Digital

Selasa, 29 Maret 2022 – 11:40 WIB
Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Wiryanta dalam Dialog Interaktif Literasi Media dan Pembangunan Demokrasi Indonesia. Foto dok Kominfo

jpnn.com, MATARAM - Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Wiryanta mengatakan kehadiran generasi milenial dan gen Z, menjadi penggerak literasi media dalam era digital.

Tak hanya itu, masyarakat pun perlu siap dalam menerima literasi media.

BACA JUGA: Bongkar Cara Olivia Nathania Kelabui Korban Penipuan, Farhat Abbas: dari Kesurupan Hingga Sembunyi di Kamar Mandi

“Literasi media tidak ada manfaatnya jika yang mau diliterasi tidak siap, untuk mempersiapakan itu peran organisasi seperti KOHATI dan PB HMI menjadi sangat penting. Jadi yang harus melek itu bukan individunya saja, akan tetapi organisasinya harus melek terlebih dahulu,” jelas Wiryanta dalam Dialog Interaktif Literasi Media dan Pembangunan Demokrasi Indonesia, Senin (28/3).

Dalam acara yang digelar atas kerja sama Kementerian Komunikasi dan Informatika KOHATI (Korps HMI-Wati) di kota Mataram tersebut, Wiryanta juga membahas mengenai Program Analog Switch Off, yang menjadi salah satu program Kementerian Komunikasi dan Informatika saat ini.

BACA JUGA: BKKBN Ungkap 3 Penyebab Tingginya Angka Prevalensi Stunting

“Contohnya ASO, yang sudah sejak lama pemerintah terus melakukan literasi tentang pemanfaatan penyiaran digital dan ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengedukasi masyarakat berubah dari siaran analog ke siaran digital,” ungkap Wiryanta.

Dalam forum yang sama, Tenaga Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika, Lathifa Al Anshori lebih menekankan tantangan bagi Generasi Z dan Milenial di era digitalisasi ini.

BACA JUGA: Khusus Dewasa: Kiat Nyaman Bercinta dengan Si Penis Besar

Peran Gen Z dan Millenial menjadi sangat penting karena saat ini sudah mengisi lebih dari 58% ruang digital di Indonesia.

Dengan meiliki akses yang cukup mudah ke media, baik itu media massa maupun media online generasi Z dan milenial memiliki tantangan sendiri di era digital ini.

“Tantangan pertama bagi generasi saat ini adalah disorientasi jika mendapatkan informasi yang salah, salah satu penyebabnya adalah sering mengakses media sosial,” jelas Lathifa.

“Tantangan kedua adalah mental health. Hal ini seringkali disebabkan karena para pemuda tidak mampu mengartikulasikan perasaannya. Dan yang ketiga adalah merasa rendah diri karena tidak bisa mengikuti tren dan ini dipicu dari interaksi di media sosial,” tambahnya.

Lathifa juga memberikan cara untuk mengatasi tantangan bagi para pemuda dan pemudi di era digtal ini.

Yang terpenting adalah bagaimana percaya diri dengan apa yang ada di dalam diri jangan sampai terbawa dengan informasi menyesatkan yang beredar di media sosial.

“Jangan khawatir dalam menghadapi tantangan ini yang pertama, membentuk jaringan mental support, kita harus mendukung hal baik di media sosial. Kedua, meningkatkan daya tawar/ leverage, caranya dengan mengakses informasi terpercaya dari sumber yang terpercaya," jelas Lathifa.

Yang ketiga, melawan hoaks dengan sadar. Menurut Lathifa, jangan melawan hoaks dengan hoaks.

"Lawan dengan berita baik dan jangan lupa semangat yang tinggi dari anak muda harus disertai dengan kesabaran," seru Lathifa.

Salah satu cara melawan hoaks adalah dengan memilih siaran yang sehat. Di sinilah peran KPI dalam mewujudkan penyiaran yang sehat untuk seluruh masyarakat.(chi/jpnn)


Redaktur & Reporter : Yessy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler