Liga Muslim Sedunia Dukung Sikap Beragama Moderat dan Dialog Lintas Agama dengan MPR RI

Jumat, 27 Desember 2019 – 15:10 WIB
Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid. Foto: Humas MPR

jpnn.com, JAKARTA - Kunjungan delegasi MPR RI ke Arab Saudi membawa misi penting, antara lain usulan pembentukan forum Majelis Syura sedunia yang disampaikan Ketua MPR RI kepada Ketua Majelis Syura Arab Saudi.

Selain itu, permohonan penambahan kuota haji dan penguatan Islam yang Moderat serta hubungan harmonis antarumat beragama.

BACA JUGA: Parlemen Maroko Dukung MPR RI Bentuk Forum Majelis Syuro Sedunia

Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid yang mendampingi Ketua MPR RI selaku pimpinan rombongan, sangat senang karena Ketua Majlis Syura Saudi Arabia, bahkan Raja Salman bin Abdul Aziz, juga mendukungnya.

Pada saat bertemu Sekretaris Jenderal World Muslim League (Rabithah Alam Islami), Prof. Dr. Muhammad bin Abdul Karim al-Issa dibincangkan juga penguatan pemahaman Islam yang moderat dan berkontribusi bagi perdamaian dunia.

BACA JUGA: Catatan Akhir Tahun Ketua MPR: Kemenangan yang Mempersatukan

"Rabithah adalah lembaga yang menghimpun organisasi massa dan lembaga swadaya masyarakat Islam lintas negara, serta tokoh-tokoh Islam dari berbagai latar belakang mazhab apapun, baik yang minoritas maupun mayoritas," jelas Hidayat.

Pimpinan MPR RI menyampaikan apresiasi kepada Rabithah yang telah mendukung sikap keberagamaan yang moderat, toleran, terbuka dan saling menghormati perbedaan. Sesuai dengan ajaran Islam, Rabithah juga membimbing umat untuk menghindari sikap beragama yang menyebar kebencian, kekerasan, ekstremisme, dan intolerasi. Karena sebenarnya bila ditelusuri lebih dalam, semua gejala kekerasan di belahan dunia manapun bersumber dari ketidakadilan, bukan terinspirasi ajaran agama.

BACA JUGA: MPR RI Minta Raja Salman Menambah Kuota Haji

Tidak hanya ucapan dan imbauan, Sekjen Rabithah bahkan sering berkunjung ke berbagai negara di dunia untuk menyampaikann pesan Islam yang damai dan moderat. Berdialog dan tatap muka, serta mengadakan seminar dengan beragam kelompok umat beragama di wilayah Asia (seperti Jepang), Afrika, Rusia dan Eropa, Amerika.

"Rabithah juga mendukung sikap beragama yang peduli dengan masalah kemanusiaan. Mengadakan program bantuan sosial bagi masyarakat yang sangat membutuhkan (seperti kelaparan di Afrika) atau pengembangan sumber daya manusia serta bantuan pendidikan. Semua kegiatan yang positif dan bermanfaat menjadi bukti Islam sebagai rahmatan lil alamin," ungkap Hidayat.

Sekjen Moslem World League menjelaskan tugas Rabithah untuk menyebarkan ajaran Islam yang benar berwajah damai dan siap bekerjasama dengan pihak manapun dari latar belakang agama/kepercayaan. Demi menghadirkan kemaslahatan umat manusia. Disamping itu, Rabithah juga mengoreksi salah paham terhadap Islam seperti sikap islamophobia, agar tidak memicu konflik.

"Karena komitmen dan aksi nyata itu, Profesor Abdul Karim al-Issa mendapat banyak gelar Doktor kehormatan dari berbagai kampus di dunia. Termasuk yang akan diberikan oleh UIN Maulana Malik Ibrahim di Malang, Indonesia pada bulan Februari 2020," papar Hidayat yang cukup mengenal sosok Sekjen Rabithah sejak lama.

Untuk itulah Ketua MPR RI memaksimalkan kehadiran Sekjend Moslem World League di Indonesia, dengan mengundangnya hadir ke MPR, berdiskusi atau berkonferensi menguatkan Sikap Beragama yang Moderat, Toleran, Harmoni, Berkontribusi dalam Peradaban dan Perdamaian. Serta Mengkoreksi Salah Paham terhadap Agama”.

Sekjen Rabithah menyambut baik undangan Ketua MPR RI untuk berkunjung ke MPR dan mengadakan dialog atau konferensi lintas agama tersebut. Sekjen Rabithah berharap rencana itu betul-betul diupayakan dan diwujudkan karena Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim terbesar di dunia, dengan dua ormas terbesarnya yaitu Muhammadiyah dan NU, serta ormas lain yang berbasis luas, maka Indonesia bersama Arab Saudi sebagai salah satu pusat pengembangan Islam dapat menjadi pelopor perubahan. Rabithah siap hadir untuk mendialogkan ajaran Islam yang berkemajuan bersama tokoh-tokoh agama lain.

Sebelumnya, Raja Salman pun mendukung sikap beragama yang washathiyah (pertengahan), terbuka dan menolak segala bentuk ekstremisme. Keberadaan Majelis Syura dan lembaga parlemen di berbagai negara merupakan salah satu pilar untuk kehidupan demokrasi, termasuk menjaga kebebasan beragama dan berpendapat. Sikap beragama dan berbangsa yang seimbang dan moderat akan mengikis gejala ekstremisme dan segala bentuk phobia. Untuk itu diperlukan peran maksimal dari pemimpin negeri-negeri Muslim dan parlemen.

Komitmen pemerintah Arab Saudi dtegaskan ulang untuk mendukung penyebaran agama Islam yang benar dan sikap umat pertengahan. Pimpinan MPR RI mengapresasi solidaritas untuk membela kelompok yang tertindas seperti kaum Muslimin di Palestina, Rohinya atau Uighur. Dengan kewenangan yang dimiliki Rabithah, sikap solidaritas menjadi komitmen bersama.

"Di tengah gencarnya isu radikalisme agama, kita justru melihat ada gejala Islamophobia dari radikalisme sekuler yang anti-agama. Sangat tepat bila kita perkuat lagi hubungan antar umat beragama agar berkontribusi bagi peningkatan kualitas hidup manusia dan peradaban berkeunggulan. Dialog lintas agama sejalan dengan tujuan sosialisasi 4 Pilar MPR RI sebagai peneguhan sikap berbangsa dan bernegara di negeri mayoritas Muslim. Islam memperkuat komitmen kebangsaan," Hidayat menandaskan.

Hidayat Nur Wahid tercatat sebagai Anggota Majelis Ta'sisi Rabithah melanjutkan peran B.J. Habibie, KH Ahmad Syaikhu, M. Natsir dan H.M. Rasyidi. Sekarang namanya berubah Majelis A’la (majelis tertinggi) yang beranggotakan 60an orang perwakilan berbagai negara.

Selain Indonesia dan negara-negara Timur Tengah, Eropa, Amerika, juga negara-negara minoritas Muslim lainnya. Tugas Majelis A’la adalah mendukung dan mengawasi kinerja Sekretariat Jenderal, dan membahas program serta anggaran lembaga. (jpnn)


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler