Luar Biasa! Sejak Piala Dunia 1986, Setia Menabuh Drum di Setiap Laga Brasil

Selasa, 06 Desember 2022 – 10:59 WIB
Fan Brasil si penabuh drum Wallace Leite di Qatar National Museum. Foto: Courtesy of Wallace Leite

jpnn.com - DOHA - Sejak Piala Dunia 1986 di Meksiko, tidak ada yang menghalangi penabuh genderang Brasil, Wallace Leite menghadiri ajang sepak bola paling bergengsi di planet ini.

Pria berusia 60 tahun dari Sao Paulo itu telah tampil di sepuluh piala dunia terakhir, tanpa lelah membawa dan memainkan surdao (drum Brasil) miliknya di setiap pertandingan Canarinha - kenari kecil, julukan lain dari Tim Samba.

BACA JUGA: Brasil vs Korea: di Hadapan Para Legenda, Tim Samba Berpesta

“Ini adalah kesenangan alami,” kata Leite tentang permainan drum dan Piala Dunia.

“Sepertinya saya telah menemukan apa itu kebahagiaan di dunia,” katanya kepada Al Jazeera.

BACA JUGA: Tentang Al Rihla, Bola Resmi Piala Dunia 2022 Buatan Madiun

Dia mengenakan pakaian yang sama, menampilkan corak bendera nasional Brasil yang telah dikenakannya pada semua pertandingan timnya di Piala Dunia 2022.

Leite berharap pakaian itu akan membawa keberuntungan baginya.

BACA JUGA: Sebegini Harga Jam Tangan Wasit Piala Dunia 2022, Wow

Bagi Leite, ini semua tentang respons positif yang dia dapatkan dari kelompok fan yang berkumpul di sekelilingnya saat dia memainkan surdao.

Di mana pun Leite menabuh drum, dia menyebut tempat itu tempat sempurna.

Alat musik pilihannya adalah surdao, drum Brasil seberat 7 kg yang dia mainkan di setiap pertandingan Piala Dunia sejak turnamen 1990 di Italia.

Sebelumnya, pada Mexico 1986, Leite menggunakan jenis drum perkusi yang lebih kecil.

"Surdao membantu menjaga ritme bersama. Saya merasa bisa bergerak dan membuat lebih banyak sensasi dengan surdao," katanya.

Leite mengaku menabuh drum besar di Piala Dunia membutuhkan kondisi fisik yang baik.

“Saya mengalami beberapa cedera termasuk melukai lengan, bahu, dan tentu saja leher saya. Saya akan dipijat setelah turnamen," kata Leite, yang kini pekerjaannya sehari-hari di Amerika Serikat, sebagai ahli perangkat keras komputer.

“Banyak orang berkata, bukankah semuanya begitu sulit? Dan saya bilang ya, memang sulit, tetapi kepuasannya lebih besar. Wow,” ujarnya.

Penduduk di negara tuan rumah Piala Dunia sering mengundangnya ke rumah mereka untuk makan atau membawanya ke tempat-tempat wisata, seperti Taman Kruger untuk tur Safari di Afrika Selatan, kunjungan ke Kremlin di Moskow, dan menunggang unta di Qatar.

“Saya telah mendapatkan begitu banyak teman di seluruh dunia, belajar banyak tentang berbagai budaya dan adat istiadat, tidak semua orang memiliki kesempatan untuk melakukan itu. Ini berkah,” kata pria berusia 60 tahun itu dengan bangga.

Ketika ditanya apa negara tuan rumah favoritnya, dia menjawab 'semuanya'.

“Setiap negara memiliki begitu banyak hal untuk ditawarkan, tempat-tempat yang indah untuk dikunjungi. sulit untuk memilih," katanya.

Namun, dia punya kenangan Piala Dunia terindahnya. "Mungkin di Meksiko (1986)," ujarnya.

Menurut Leite, orang Meksiko jatuh cinta dengan tim sepak bola Brasil pada 1970 ketika Piala Dunia juga berlangsung di sana.

Timnas Brasil saat itu bersama Pele, membuat fan Meksiko terpesona.

Brasil memenangi trofi di Meksiko dan Pele mencetak empat gol di turnamen tersebut.

Ketika dia tiba di Meksiko untuk Piala Dunia pertamanya pada 1986, dia berkata bahwa orang Meksiko memeluk dia seperti Leite adalah salah satu dari mereka.

“Saya merasa betah di Meksiko. Ya ampun, orang-orangnya sangat baik. Saya tidak menghabiskan uang. Orang-orang yang membayar semuanya,” ujar Leite.

Bisakah Brasil membawa pulang Piala Dunia keenam?

Leite mengatakan dia berharap ini akan menjadi tahun kembalinya trofi paling didambakan dalam sepak bola ke Brasil.

"Sudah 20 tahun sejak kami menang," katanya.

Brasil terakhir kali mengangkat Piala Dunia pada 2002 di Jepang-Korea.

Berapa lama lagi Leite bermain drum di Piala Dunia?

“Hanya Tuhan yang tahu. Selama saya bisa bergerak, memiliki kesehatan yang baik, berteriak, dan memainkan alat musik saya, saya akan terus melakukannya," katanya. (aljazeera/jpnn)


Redaktur & Reporter : Mufthia Ridwan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler