Lutut Bengkak, Tiba di Finis, Eka Menangis

Kamis, 25 September 2014 – 00:48 WIB
Komunitas dokter pesepeda dari Semarang ini langsung bertugas meski malamnya baru menyelesaikan jarak 333 km Surabaya–Banyuwangi. Dipta Wahyu/Jawa Pos/JPNN.com

jpnn.com - Matahari hampir tenggelam ketika Cipto S. Kurniawan merentangkan kedua tangannya ke udara saat bersepeda memasuki kawasan kantor bupati Jember, Sabtu (20/9). Dia lantas menengok ke belakang. Tampak Eka Panca Saputra, rekan Cipto, menitikkan air mata sambil kakinya mengayuh sepeda dengan pelan. Setelah perjuangan hari pertama Audax East Java 2014 yang begitu berat, garis finis terasa mengharukan bagi Eka.

’’Saya terus mendampingi dia (Eka) menyelesaikan rute. Beberapa kali dia mau give up. Tapi, saya terus memberinya semangat. Eka juga tidak mau menyerah,’’ kata Cipto, cyclist dari Komunitas One Mille Pasuruan tersebut.

BACA JUGA: Besarkan Pabrik Dulu, Baru Dirikan Museum

Ujian bagi Eka untuk merampungkan rute Audax East Java 2014 memang begitu berat. Pesepeda 31 tahun itu berkali-kali tertimpa musibah. Pada hari pertama yang melintasi rute Surabaya–Jember, dua kali ban sepedanya bocor. Bocor pertama terjadi saat peloton peserta melintas di Bangil. Tak menyerah, dia ganti ban.

Setelah berhenti di pit stop ke-2 Pantai Bentar, Probolinggo, ban sepeda Eka kembali bocor. Tapi, tidak sedikit pun dia menunjukkan rasa putus asa. ’’Di dalam benak saya, saya hanya ingin merampungkan rute,’’ tegasnya.

BACA JUGA: Shameela Islam - Zulfiqar, Dokter Pemberani Asal Manchester

Pada bocor kedua itu, dia menggunakan wheelset yang disediakan mekanik. Memang, Eka bisa kembali bersepeda. Namun, rombongan sudah terpecah. Dia tidak bisa mengejar peloton yang sudah terlalu jauh di depan. Padahal, tanpa bergabung dalam rombongan pembalap, dia harus mati-matian menyelesaikan rute. Sebab, dia harus bersepeda melawan angin yang bertiup dari depan (headwind)sendirian.

Sebenarnya, Eka bisa saja memilih jalan paling gampang. Yakni, menyerah dan ’’menyerahkan diri’’ kepada tim evakuasi. Dia tinggal memberikan sepedanya kepada panitia dan menumpang supporting car sampai pit stop ketiga di Taman Besuki Santri. Tapi, dia tetap tidak mau menyerah. Dia terus melaju.

BACA JUGA: Perdebatan Hangat Malah saat Menyensor Film Religi

Eka akhirnya memang bisa sampai Taman Besuki Santri. Namun, ujian bagi dia tidak berhenti sampai di situ. Lelaki yang berulang tahun setiap 1 Oktober tersebut mengalami petaka saat melintasi tantangan terberat hari pertama di tanjakan Arak-Arak.

Saat rute menanjak, seorang pesepeda akan mengerahkan seluruh tenaganya ke pedal. Hal yang sama dilakukan Eka. Namun, tiba-tiba rantai sepedanya lepas. Akibatnya, dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Kakinya terluka. Lututnya bengkak. Bagi seorang pesepeda, lutut bengkak adalah pangkal semua rasa sakit. Sebab, setiap kaki memutar pedal, lutut bakal terus terasa nyeri yang luar biasa.

Tiga kejadian nahas dan Audax East Java baru hari pertama, seharusnya Eka sudah punya banyak alasan untuk berhenti. Tapi, dia terus berusaha melanjutkan perjalanan. Hingga tiba di pit stop selanjutnya di kantor bupati Bondowoso, dia bertemu Cipto. Kebetulan, keduanya sama-sama berasal dari Komunitas One Mille Pasuruan.

’’Melihat kakinya berdarah dan bengkak, terus terang saya kaget. Saya tanya, apa lebih baik dievakuasi saja? Dia tetap tidak mau,’’ tutur Cipto.

’’Saya harus terus. Meskipun saya orang terakhir yang sampai finis, tidak apa-apa,’’ jawab Eka.

Mendengar kisah dramatis Eka, Cipto yang sebelumnya berada di rombongan depan pun akhirnya mengorbankan diri. Mulai pit stop Bondowoso, dia memutuskan untuk ’’mengawal’’ Eka sampai finis. Cyclist 32 tahun itu akan bersepeda tepat di depan teman sekomunitasnya tersebut.

Teknik yang di dunia cycling disebut drafting itu membuat tenaga yang digunakan Eka untuk bersepeda berkurang signifikan. Sebaliknya, Cipto harus bekerja keras karena bertugas membelah angin.

”Saya tahu rasa sakit yang dia alami. Itu pasti sangat menyiksa. Saya tidak tega, tapi dia memang tidak pernah mau menyerah,” tutur pengusaha muda asal Pasuruan tersebut.

Karena itulah, begitu keduanya tiba di garis finis hari pertama di Jember, Cipto merasakan kegembiraan yang luar biasa. Dia juga merasa terharu melihat perjuangan Eka. Eka pun tidak kuasa menahan air mata hingga keduanya berpelukan seperti baru saja menyelesaikan salah satu ujian terbesar dalam hidup.

Besoknya, hari kedua Audax East Java, Cipto sudah mengira bahwa Eka akan menyerah. ’’Ternyata tidak. Dia tetap terus jalan. Bengkak di lutut sudah tidak terlalu terlihat. Dia pun sampai finis!” tutur Cipto.

”Sayang kalau berhenti di jalan. Sudah ikut event sebesar ini masak berhenti,” timpal Eka.

Alasan Eka yang enggan menyerah bisa tergambar dari kesan Cipto terhadap rekan satu komunitasnya itu. Selama ini Eka tidak pernah mau ikut ajang bersepeda apa pun. Padahal, Cipto sudah berkali-kali mengajaknya. Dia tetap tidak mau. ”Mungkin karena ini yang pertama, dia ingin benar-benar menyelesaikannya sampai finis,” katanya.

Jawa Pos CyclingAudax East Java 2014 episode kedua kali ini diikuti 315 cyclist. Di antara total pesepeda tersebut, rombongan dari Semarang paling banyak. Total ada 48 cyclist asal Kota Lumpia tersebut. Perinciannya, 35 orang dari Semarang Bicycle Association (Samba) dan 13 peserta dari komunitas dokter pesepeda, Medical Doctor Bicycle Community (MeDYC).

Sebagian besar cyclist dokter itu bertugas di RSUP dr Karyadi Semarang. Meski gila bersepeda, mereka tidak mangkir dari tugas-tugas utamanya sebagai dokter. Misalnya, setelah rangkaian acara Audax East Java rampung pada Minggu malam (21/9), mereka langsung meluncur ke Surabaya. Tujuannya, mengejar pesawat pukul 07.00 dari Bandara Juanda Surabaya.

’’Kami tiba di Semarang pukul 08.00 kemarin (22/9). Kami pulang untuk ganti baju, lalu langsung berangkat ke rumah sakit. Semua kembali ke tugas masing-masing. Yang praktik ya praktik, yang operasi ya harus operasi. Pokoknya, pekerjaan jangan sampai terbengkalai,’’ kata Ardy Santosa, dokter spesialis urologi RSUP dr Karyadi.

Ardy mengungkapkan, hampir semua anggota MeDYC berhasil merampungkan rute Surabaya–Banyuwangi tanpa dievakuasi. Sebab, mereka sudah banyak berlatih sebelum mengikuti ajang long distance cycling tersebut. ”Kalau pas lagi longgar di rumah sakit, kami diskusi membahas Audax. Misalnya, bagaimana latihannya biar nanti bisa finis,’’ tuturnya.

Rombongan yang tak kalah besar lainnya adalah Samba. Komunitas pesepeda terbesar di Semarang tersebut menurunkan 35 cyclist. ’’Banyak anggota Samba lain yang ingin ikut karena mendengar cerita (serunya event itu) dari teman-temannya,” kata Sekretaris Samba Santoso.

Menurut Ketua Samba Henry Dwiyanto, kunci kelompoknya bisa merampungkan rute dua hari itu adalah tidak emosional. Banyak peserta yang emosional setiap kali disalip peserta lainnya. Terutama di tanjakan. Padahal, di tanjakan seseorang memiliki ukuran ritme sendiri dalam menyelesaikannya.

’’Biasanya yang muda-muda yang paling gampang terpancing emosinya,” kata dia.

’’Saat menanjak, pelan saja dulu. Tak perlu emosi. Bila capek, istirahat sebentar. Menurunkan speed itu juga termasuk istirahat. Kalau yang muda-muda kan langsung tidak terima kalau disalip. Mereka nggak sabar. Akhirnya yang muda-muda justru banyak yang rontok. Sedangkan yang tua-tua jalan terus,” katanya, lantas tersenyum. (*/c5/c10/ari)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Lawan Tiga Orang Bergolok, Selamat Diberondong Revolver


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler