Mabes Polri Janji Usut Kasus Pembacokan Wartawan di Binjai

Selasa, 07 Juli 2015 – 10:52 WIB

jpnn.com - JAKARTA – Mabes Polri dan DPR mengecam keras tindakan pembacokan yang dialami wartawan Pos Metro Medan, Bambang suhandoko. Apalagi perbuatan kriminal tersebut diduga buntut dari pemberitaan penggerebekan gudang pengoplos pupuk subsidi yang dilakukan Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Mabes Polri, Jumat (19/6) lalu.

Gudang tersebut diduga milik ketua salah satu Organisasi Kepemudaan (OKP) di Binjai, Ali Susanto alias Ali Opek.

BACA JUGA: Heboh! Skandal Esek-esek di Kampus IPDN, Dua Praja Cewek, Empat Cowok

“Kami pasti akan menelusurinya (peristiwa pembacokan wartawan Pos Metro Medan,red). Kami mohon untuk segera melaporkan peristiwa itu,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Mabes Polri, Brigjen Pol Agus Rianto, saat dihubungi JPNN, Senin (6/7).

Saat ditanya lebih jauh terkait perkembangan penggerebekan gudang pengoplos pupuk bersubsidi, Agus mengatakan, pihaknya hingga kini masih terus melakukan pendalaman. Namun begitu saat ditanya apakah dalam hal ini Mabes Polri telah menetapkan tersangka, Agus belum dapat menginformasikan lebih jauh.

BACA JUGA: Kenapa sih, Baru Sebulan Nikah kok Pilih Mati dengan Cara seperti Ini?

“Kasusnya sampai saat ini masih terus ditangani. Tapi terkait apakah sudah ada penetapan tersangka, saya belum dapat updatenya,” ujar Agus.

Dihubungi terpisah, anggota DPR asal Sumatera Utara, Rufinus Hotmaulana Hutauruk, juga mengutarakan kecaman yang sama.

BACA JUGA: Alamak! Pisang Berjantung Lima Dijadikan Obat Gatal

“Kalau ada ekses dari pemberitaan (pembacokan wartawan,red), polisi harus segera menyikapinya. Jadi siapa yang menjadi korban, harus segera melaporkan ini ke kepolisian setempat,” ujarnya.

Jika nantinya Polres atau Polda Sumut tidak merespon pengaduan, maka kata Rufinus, Mabes Polri perlu bertindak. Bukan saja karena wartawan dilindungi dalam menjalankan tugas jurnalistiknya, namun juga demi menciptakan rasa nyaman bagi masyarakat Binjai, khususnya.

“Kalau memang kepolisian setempat tidak merespon apa yang diminta korban, maka Mabes Polri harus bertindak. Jadi tidak melihat ketua OKP atau bukan,” ujarnya.

Terkait penanganan kasus penggerebekan gudang pengoplos pupuk bersubsidi, anggota DPR dari Partai Hanura ini menegaskan, adanya barang bukti berupa 60 ton pupuk, telah menjadi indikasi kuat adanya barang haram. Karena itu Mabes Polri harus secepatnya menetapkan siapa yang menjadi tersangka. Jangan menggantung lebih lama, mengingat penggerebekan telah berlangsung sekitar tiga minggu lalu.

“Mabes Polri harus secepatnya menetapkan siapa yang bertanggungjawab. Apalagi sudah ada penyitaan, secara legal itu benar atau tidak. Tanpa harus dilaporkan ke Komisi III DPR pun, Polri harus segera mengambil tindakan. Kalau memang lamban, maka sangat mungkin Komisi III untuk mendorong percepatan penanganan kasusnya,” kata Rufinus.

Saat ditanya apakah dalam kasus ini Polda dapat disebut lamban, karena terpaksa Mabes Polri yang turun tangan, sementara saat Polda melakukan penggerebekan tak menemukan hasil, Rufinus belum berani berwacana lebih jauh. Karena menurutnya, dapat saja pada saat Polda melakukan penggerebekan, ada kebocoran informasi.

“Saya tidak bisa menjustifikasi apa ada kebocoran atau kongkaliklong. Tentu harus dilihat fakta yuridisnya. Tapi memang secara praktik, kalau Polda tidak bisa melakukan eksekusi apa yang menjadi kebijakan, kalau ada keterkaitan dengan yang lain, tentu lebih baik Mabes Polri (menanganinya,red),” ujarnya.

Karena itu sekali lagi, Rufinus berharap Mabes Polri dapat segera mendalami kasus ini secara baik. Sehingga tidak menimbulkan kecurigaan di tengah masyarakat.

Sebelumnya diberitakan, Bambang Suhandoko (32), wartawan POSMETRO MEDAN (group JPNN) jadi korban pembacokan dua orang tak dikenal (OTK) di Jalan RA Kartini, tak jauh dari Gedung Balai Kota Binjai, Kelurahan Kartini, Kecamatan Binjai Kota, Sabtu (4/7) sekira pukul 23.30 WIB.

Beruntung, lajang asal Kecamatan Medan Denai itu selamat dari maut, setelah sabetan senjata tajam para pelaku hanya menyebabkan luka gores ringan di punggung kirinya. Menurut Bambang, peristiwa pembacokan terjadi tak lama setelah dia dan empat wartawan lain, duduk-duduk sembari menunggu hujan reda di cafe Kok Tong.

Saat itu mereka sempat membahas ancaman ‘orang-orang’ Ali Opek terhadap awak media yang menyorot kasus penggerebekan yang dilakukan Mabes Polri. Apalagi dua minggu pasca kasus itu bergulir, teror mulai mengancam para jurnalis yang bertugas di Kota Binjai.  Naas, ketika korban bermaksud pulang mengendarai mobil, tiba-tiba dua orang tidak dikenal mengenakan helm dan mengendarai sepeda motor Yamaha Vixion putih, menyerempet mobilnya, lalu menebaskan senjata tajam diduga samurai ke punggungnya.

"Kejadiannya itu tiba-tiba. Saya pun tidak tahu siapa yang melakukan itu. Tapi saya bersyukur bisa selamat," ungkap Bambang saat ditemui di kosnya kawasan Binjai Selatan, Minggu (5/7).

Akibat insiden tersebut, tutur Bambang, dia mengalami luka gores ringan di punggung kiri. Namun meskipun terluka, korban sempat meneriaki kedua pelaku yang diketahuinya melarikan diri ke arah Lapangan Merdeka Kota Binjai.

"Sesaat setelah menebaskan senjata tajam itu, anehnya mereka (kedua pelaku) sempat menertawai saya, lalu dengan cepat melarikan diri," ujar Bambang. (gir/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Mal Centre Point Sudah Bisa Dieksekusi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler