jpnn.com, BANDUNG - Majelis Adat Sunda angkat bicara terkait kasus Edy Mulyadi yang dianggap menghina Kalimantan dengan menyebut daerah tersebut sebagai tempat jin buang anak.
Mereka bahkan berencana akan melaporkan eks caleg PKS tersebut ke kepolisian atas dugaan penistaan budaya.
BACA JUGA: Wanita Ini Dihukum 100 Kali Cambuk, Baru Dicambuk Sebentar Langsung Ambruk, Lihat
Pasalnya, Edy Mulyadi mengenakan ikat kepala Sunda saat saat bicara dugaan penghinaan ke Kalimantan.
Ikat Sunda diketahui menjadi salah satu atribut khas masyarakat Tatar Sunda.
BACA JUGA: Baru Kenalan, TN dan TS Langsung Ngamar di Losmen, Ujungnya Memalukan
Pupuhu Agung Dewan Karatuan Majelis Adat Sunda Ari Mulia Subagja Husein mengatakan, ikat kepala Sunda sebagai identitas kebudayaan tidak bisa seenaknya dikenakan orang dalam menyebarkan isu sensitif.
"Jadi intinya, ikat (kepala) Sunda itu simbol dan memiliki nilai yang tidak bisa seenaknya dipakai seperti itu. Kalau sekarang dipakai jadi mode segala, apalagi ditumpangi kepentingan politik yang bagaimana Edy Mulyadi dan rekan-rekan ini kan orang antibudaya," kata Ari dihubungi, Rabu (26/1).
BACA JUGA: Ini Pernyataan Tegas Dewan Adat Dayak di Perbatasan Soal Edy Mulyadi dkk
Ari mengungkapkan, apa yang sudah disampaikan dan dilakukan Edy Mulyadi bisa memecah belah bangsa.
Sebagai suku Sunda, pihaknya turut bersimpati sebagai sesama bangsa Indonesia.
"Tiba-tiba dengan kasus Arteria seperti ini, dia muncul ngomongin Ibu kota Negara (IKN) menghina orang Dayak dengan kostum budaya Sunda, kan sudah kurang ajar," jelasnya sebagaimana dilansir jabar.jpnn.com hari ini.
Sebagai bentuk solidaritas, Majelis Adat Sunda berencana akan melaporkan mantan caleg PKS tersebut ke Polda Jabar.
"Ada kemungkinan akan melaporkan ke jalur hukum atas kasus penistaan budaya, penghinaan, dan membuat pecah belah bangsa," ungkapnya.
"(Iya) ada rencana dilaporkan ke Polda Jabar, meski delik kejadiannya di mana kan, tetapi biar polisi yang mengatur apakah dilimpahkan ke Polda Metro Jaya atau Mabes (Polri) itu kan ranah kepolisian," sambungnya.
Sebelumnya, dalam tayangan video di media sosial Twitter, Majelis Adat Sunda yang diwakili Pupuhu Agung Dewan Karatuan Majelis Adat Sunda Ari Mulia Subagja Husein membuat pernyataan sikap atas penghinaan yang dilakukan Edy Mulyadi terhadap masyarakat adat Dayak.
"Secara khusus kami ikut marah (atas) sikap Edy Mulyadi karena mengenakan ikat kepala yang merupakan atribut masyarakat Sunda saat ia menyampaikan kata-kata yang menyakitkan saudara kami dari suku Dayak," ucapnya dalam video.
BACA JUGA: Gerombolan Bermotor Mengamuk, Pagar Masjid di Surabaya Didobrak Sambil Teriak-Teriak
"Kami atas nama Majelis Adat Sunda merasa perlu menegur saudara Edy Mulyadi yang menggunakan atribut adat Sunda yang melukai hati saudara kami masyarakat adat Dayak," sambungnya. (mcr27/jpnn)
Redaktur & Reporter : Budi